Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Doa Lintas Agama Menggema di Monas, Pemuka 6 Agama Berdoa agar Indonesia Damai dan Bersatu

Kompas.com, 1 Agustus 2026, 20:56 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, saat enam pemuka agama memimpin doa bersama dalam rangkaian Zikir dan Doa Kebangsaan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia, Sabtu (1/8/2026) malam.

Secara bergantian, perwakilan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu memanjatkan doa dengan satu harapan yang sama, yakni memohon agar Indonesia senantiasa diberi kedamaian, persatuan, kesejahteraan, serta dijauhkan dari perpecahan.

Kehadiran para tokoh lintas agama tersebut menjadi simbol kuat kebersamaan dalam keberagaman sekaligus mempertegas komitmen menjaga kerukunan sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Indonesia Tak Boleh Diacak-acak, Pesan Menag di Zikir Kebangsaan

Doa Kristen: Jauhkan Indonesia dari Polarisasi dan Perpecahan

Perwakilan umat Kristen, Pdt Jacklevyn Frits Manuputty, mengajak seluruh masyarakat bersyukur atas kemerdekaan dan keberagaman Indonesia yang disebutnya sebagai anugerah Tuhan.

Dalam doanya, ia memohon agar para pemimpin bangsa diberi hikmat dan kebijaksanaan dalam mengambil setiap keputusan.

"Ya Tuhan, satukanlah kami dalam keutuhan persaudaraan kebangsaan yang sejati agar perbedaan yang ada justru memperkaya, bukan memisahkan," doanya.

Ia juga memohon agar bangsa Indonesia dijauhkan dari polarisasi, perpecahan, serta dampak ketimpangan sosial dan kesulitan ekonomi.

"Jauhkanlah bangsa ini dari polarisasi dan perpecahan yang timbul akibat meningkatnya beban hidup, ketimpangan, dan kesulitan ekonomi yang dihadapi rakyat," ujarnya.

Doa Katolik: Jadikan Kami Pembawa Kerukunan dan Pengampunan

Doa dari umat Katolik dipimpin Rm. Fransiskus Yance Sengga.

Ia mengutip pesan Santo Paulus kepada Timotius tentang pentingnya menaikkan doa syafaat bagi para pemimpin agar masyarakat dapat hidup tenang, tenteram, dan penuh kehormatan.

Dalam doanya, Romo Fransiskus memohon agar seluruh elemen bangsa menjadi pembawa damai di tengah berbagai tantangan.

"Bila terjadi penghinaan, jadikanlah kami pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah kami pembawa kerukunan. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah kami sumber kegembiraan," ucapnya.

Ia juga mendoakan para guru, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, petani, nelayan, buruh, pelaku UMKM, aparat negara, hingga masyarakat kecil agar senantiasa diberi kekuatan dalam mengabdi bagi bangsa.

Umat Hindu Berdoa untuk Indonesia Emas 2045

Perwakilan umat Hindu, Pinandita Gede Pastika, memohon agar Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan keselamatan, kesehatan, serta kebijaksanaan kepada para pemimpin bangsa.

Ia berharap seluruh pemimpin mampu menjalankan amanah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Dharma demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

"Berikanlah para pemimpin kami mental yang kuat dan tangguh yang memegang teguh kebenaran sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Ia juga memohon agar masyarakat dijauhkan dari iri hati, dengki, dan keserakahan yang dapat memecah persatuan bangsa.

Umat Buddha Doakan Indonesia Bebas dari Bencana dan Permusuhan

Sementara itu, Bhikkhu Bhadranatha Thera mengajak umat Buddha bersyukur atas 81 tahun perjalanan Indonesia.

Menurutnya, kemerdekaan merupakan berkah yang harus diisi dengan pengabdian dan kebajikan.

Dalam doa yang dipanjatkannya, Bhikkhu Bhadranatha memohon agar Indonesia senantiasa berada dalam keselamatan serta dijauhkan dari bencana, permusuhan, dan berbagai sebab yang menimbulkan penderitaan.

Ia juga mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.

"Semoga semangat pengorbanan, cinta tanah air, dan pengabdian mereka senantiasa menginspirasi kami untuk mengisi kemerdekaan melalui karya nyata, kebajikan, dan tanggung jawab sebagai warga negara," tuturnya.

Doa Konghucu: Musuh Bangsa Kini adalah Keserakahan

Doa yang dipimpin Xs. Budi S. Tanuwibowo dari umat Konghucu menghadirkan refleksi mendalam mengenai tantangan bangsa setelah 81 tahun merdeka.

Ia mengingatkan bahwa ancaman Indonesia saat ini bukan lagi penjajahan dari bangsa lain, melainkan sifat tamak dan keserakahan yang muncul dari dalam diri manusia.

"Musuh kami sering kali adalah saudara sebangsa yang hatinya penuh ketamakan dan keserakahan," ucapnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dan semestinya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat apabila dikelola dengan kejujuran dan ketulusan.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat memperkuat semangat pengabdian, kerja keras, dan cinta tanah air demi mewujudkan Indonesia Emas.

Umat Islam Berdoa agar Indonesia Makin Bersatu dan Sejahtera

Doa penutup dipimpin oleh H Husni Ismail, yang mewakili umat Islam.

Dalam munajatnya, Husni Ismail mengajak seluruh masyarakat bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada bangsa Indonesia.

Ia memohon agar Allah senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta memberikan kekuatan kepada seluruh rakyat untuk terus berkarya membangun negeri.

"Anugerahkan bangsa kami persatuan dan kesatuan yang tangguh agar kemajuan dan kesejahteraan bangsa kami terus tumbuh," doanya.

Baca juga: Link Live Streaming Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-81 RI di Monas

Husni juga memohon agar para pemimpin bangsa senantiasa mendapatkan petunjuk dan perlindungan Allah SWT serta seluruh elemen bangsa diberi semangat bergotong royong, bertoleransi, dan mempererat persaudaraan.

Zikir dan Doa Kebangsaan tersebut menjadi salah satu rangkaian pembuka peringatan HUT Ke-81 Republik Indonesia. Melalui lantunan doa dari enam agama, seluruh peserta memohon agar Indonesia terus menjadi bangsa yang damai, rukun, berdaulat, adil, makmur, dan semakin maju di tengah keberagaman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar