Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Dukung Rumah Ibadah 6 Agama di UI, Kampus Disiapkan Jadi Etalase Kerukunan Indonesia

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 12:00 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendukung rencana pembangunan kompleks rumah ibadah enam agama di lingkungan Universitas Indonesia (UI).

Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi etalase kerukunan antarumat beragama yang memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara harmonis.

Dukungan tersebut disampaikan Menag saat menerima Rektor UI Heri Hermansyah di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta.

Pertemuan itu membahas perkembangan terbaru proyek pembangunan rumah ibadah bagi enam agama yang diakui negara dalam satu kawasan terpadu di lingkungan kampus UI.

Baca juga: Australia Pelajari Dialog Lintas Agama di Masjid Istiqlal, Puji Toleransi dan Islam Moderat di Indonesia

Menurut Nasaruddin Umar, perguruan tinggi merupakan ruang yang ideal untuk menanamkan nilai toleransi dan moderasi beragama kepada generasi muda.

Mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan daerah dapat belajar langsung tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman.

"Kita ingin mahasiswa melihat secara langsung bagaimana kerukunan itu dipraktikkan. Mereka tidak hanya membaca tentang toleransi, tetapi juga menyaksikan bagaimana umat beragama berbagi ruang secara setara dan harmonis. Kampus harus jadi etalase kerukunan," ujar Menag di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Sementara itu, Rektor UI Heri Hermansyah menjelaskan kawasan yang disiapkan berada di lingkungan kampus dan terintegrasi dengan berbagai fasilitas publik. Lokasi tersebut dipilih karena mudah diakses sekaligus diharapkan menjadi ruang perjumpaan serta interaksi lintas agama di lingkungan akademik.

Heri menegaskan, pembangunan kompleks rumah ibadah enam agama sejalan dengan posisi UI sebagai kampus yang merepresentasikan keberagaman Indonesia. Sebagai satu-satunya perguruan tinggi yang menggunakan nama Indonesia, UI memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan simbol persatuan di tengah kemajemukan bangsa.

"Universitas Indonesia adalah satu-satunya perguruan tinggi yang menggunakan nama Indonesia. Karena itu, kami ingin menghadirkan simbol yang mencerminkan wajah Indonesia yang sesungguhnya, yakni keberagaman yang hidup berdampingan secara harmonis," katanya.

Ia menambahkan, rancangan kawasan telah disusun dengan konsep yang mengedepankan kesetaraan. Seluruh rumah ibadah akan dibangun secara proporsional dalam satu kawasan terpadu yang juga dilengkapi ruang bersama sebagai titik temu dan interaksi antarumat beragama.

Meski demikian, Heri mengakui pembiayaan masih menjadi tantangan utama. Karena itu, UI bersama Kementerian Agama membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari lembaga filantropi keagamaan, dunia usaha, organisasi sosial, hingga para dermawan yang memiliki kepedulian terhadap penguatan kerukunan bangsa.

Menag Nasaruddin menilai proyek tersebut memiliki makna yang jauh melampaui pembangunan fisik. Menurutnya, keberadaan rumah ibadah enam agama dalam satu kawasan menjadi simbol bahwa perbedaan dapat dirawat dalam semangat saling menghormati.

Baca juga: MUI Minta Pelaku Penganiayaan di Bandung Dihukum Maksimal: Jangan Ada Toleransi untuk Kekerasan Berkedok Cinta

"Bagi saya, ini bukan sekadar membangun gedung. Ini membangun pesan kepada dunia bahwa Indonesia mampu merawat keberagaman dalam satu ruang yang setara. Kerukunan harus bisa dilihat, dirasakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya," tegasnya.

Apabila terealisasi, kompleks rumah ibadah enam agama di Universitas Indonesia akan menjadi salah satu kawasan multifaith terbesar di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Proyek ini juga diharapkan menjadi model penguatan moderasi beragama sekaligus inspirasi bagi kampus-kampus lain dalam membangun kehidupan akademik yang inklusif dan harmonis.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Jangan Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Bekal Akhirat
Jangan Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Bekal Akhirat
Aktual
Ketua PP Muhammadiyah: Bila Hukum Tak Dihormati, Hukum Rimba Akan Terjadi
Ketua PP Muhammadiyah: Bila Hukum Tak Dihormati, Hukum Rimba Akan Terjadi
Aktual
Kisah Nabi Sulaiman dalam Surah An-Naml, Teladan Melindungi Hewan
Kisah Nabi Sulaiman dalam Surah An-Naml, Teladan Melindungi Hewan
Aktual
PK-Tren Kecam Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, Desak Kapolri dan Komnas HAM Turun Tangan
PK-Tren Kecam Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, Desak Kapolri dan Komnas HAM Turun Tangan
Aktual
Hukum Merusak Habitat Hewan dalam Islam, Ini Penjelasan Al-Quran dan Hadis
Hukum Merusak Habitat Hewan dalam Islam, Ini Penjelasan Al-Quran dan Hadis
Aktual
Menag Sebut Ujian Jadi Momentum Indonesia untuk “Naik Kelas”
Menag Sebut Ujian Jadi Momentum Indonesia untuk “Naik Kelas”
Aktual
Kemenag Sebut Hamalatul Qur’an di Sukoharjo Belum Berizin Pesantren
Kemenag Sebut Hamalatul Qur’an di Sukoharjo Belum Berizin Pesantren
Aktual
Kepala BPJPH Kecam Pembakaran Warung di Sukoharjo, Ajak Hormati Perbedaan
Kepala BPJPH Kecam Pembakaran Warung di Sukoharjo, Ajak Hormati Perbedaan
Aktual
Baker Old Wakafkan Gerai di Bogor, Hasil Usaha untuk Fakir Miskin
Baker Old Wakafkan Gerai di Bogor, Hasil Usaha untuk Fakir Miskin
Aktual
Utang Puasa Ramadhan Bertahun-tahun karena Sakit, Wajib Qadha atau Bisa Fidyah?
Utang Puasa Ramadhan Bertahun-tahun karena Sakit, Wajib Qadha atau Bisa Fidyah?
Aktual
Hukum Bayar Utang Puasa Ramadhan bagi Lansia, Apa Bisa Diganti Fidyah?
Hukum Bayar Utang Puasa Ramadhan bagi Lansia, Apa Bisa Diganti Fidyah?
Aktual
Bolehkah Puasa Senin Kamis Digabung dengan Bayar Utang Puasa Ramadhan?
Bolehkah Puasa Senin Kamis Digabung dengan Bayar Utang Puasa Ramadhan?
Aktual
Polri Pastikan Akan Dalami Keluhan Penggeledahan Pondok Pesantren di Sukoharjo
Polri Pastikan Akan Dalami Keluhan Penggeledahan Pondok Pesantren di Sukoharjo
Aktual
Komnas HAM Minta Trauma Healing bagi Santriwati Korban Penggeledahan Ponpes di Sukoharjo
Komnas HAM Minta Trauma Healing bagi Santriwati Korban Penggeledahan Ponpes di Sukoharjo
Aktual
Kasus Penggeledahan Ponpes Sukoharjo, Gus Kikin Minta Warga Sukoharjo Tak Main Hakim Sendiri
Kasus Penggeledahan Ponpes Sukoharjo, Gus Kikin Minta Warga Sukoharjo Tak Main Hakim Sendiri
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar