Editor
KOMPAS.com - Muhammadiyah memandang kemerdekaan Indonesia bukan sebagai tujuan akhir, melainkan amanah untuk terus mewujudkan cita-cita bangsa.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menegaskan, perjuangan mewujudkan cita-cita kemerdekaan dilakukan dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Indonesia Negara Pancasila Darul Ahdi Wasy Syahadah yang dirumuskan dalam Muktamar ke-47 Muhammadiyah pada 2015 di Makassar.
Bagi Muhammadiyah, Indonesia yang memiliki keberagaman telah disepakati melalui konsensus sebagai negara persatuan.
Namun, persatuan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga sebagai landasan untuk mendorong Indonesia menjadi negara yang maju berdasarkan Pancasila.
Baca juga: Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Abdul Mu’ti menjelaskan, konsep Indonesia Negara Pancasila Darul Ahdi Wasy Syahadah menjadi salah satu pijakan Muhammadiyah dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap bangsa.
“Karena itu Muhammadiyah memandang penting Pancasila sebagai dasar negara itu sebagai satu bentuk tanggung jawab sejarah. Muhammadiyah ikut melahirkan Indonesia dan karena itu maka Muhammadiyah harus bertanggung jawab untuk Indonesia bisa lebih maju lagi,” kata Mu’ti pada Ahad (9/8/2026) dalam Pengajian PDM Kabupaten Malang.
Konsep Darul Ahdi Wasy Syahadah dirumuskan dalam Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar pada 2015.
Konsep tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara hasil kesepakatan bersama sekaligus ruang untuk membuktikan kontribusi nyata dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Peran Muhammadiyah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia telah dilakukan sejak sebelum negara ini merdeka. Pada masa tersebut, Muhammadiyah banyak memberikan kader terbaiknya untuk berjuang melalui jalur fisik maupun pemikiran.
Sejumlah kader Muhammadiyah juga mengambil peran melalui jalur politik, di antaranya Presiden Sukarno, Ki Bagus Hadikusumo, dan tokoh lainnya.
Muhammadiyah sejak awal, bahkan sebelum Indonesia merdeka, telah terlibat dalam berbagai upaya untuk memajukan kehidupan bangsa. Setelah kemerdekaan diraih, peran tersebut dilanjutkan dengan ikut mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kita menyebutnya dengan negara pembuktian atau darus syahadah. Sehingga tugas kita berikutnya adalah bagaimana kita mewujudkan cita-cita kemerdekaan,” imbuh Mendikdasmen RI ini.
Mu’ti menjelaskan, cita-cita kemerdekaan Indonesia tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Tujuan tersebut mencakup upaya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan kesejahteraan umum.
Selain itu, negara juga memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Menurut Mu’ti, berbagai usaha untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Muhammadiyah. Salah satu bidang yang dinilai paling menonjol adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Mu’ti mengaitkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dengan konsep ulul albab yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Menurutnya, konsep tersebut berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
“Ulul albab itu kalau kita baca di dalam Ali Imran (ayat) 190-191 adalah mereka yang memiliki kemampuan berpikir yang kritis, kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dengannya dia bisa belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan,” ungkap Mu’ti.
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa karena itu tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal.
Pengembangan kemampuan berpikir kritis dan ilmu pengetahuan juga menjadi bagian dari usaha Muhammadiyah untuk mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita bangsa.
Konsep Darul Ahdi Wasy Syahadah menegaskan bahwa setelah kemerdekaan Indonesia diraih, terdapat tanggung jawab untuk terus mengisi dan membuktikan makna kemerdekaan melalui kontribusi nyata.
Bagi Muhammadiyah, kontribusi tersebut diwujudkan melalui berbagai bidang, terutama pendidikan dan pencerdasan kehidupan bangsa.
Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya diperingati sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi amanah untuk membangun Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan berkeadilan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang