Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan secara fisik.
Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung A Rusdiana mengatakan, kemerdekaan juga perlu dimaknai sebagai upaya membebaskan diri dari kebencian, permusuhan, fanatisme berlebihan, hingga penyebaran berita bohong yang berpotensi memecah belah bangsa.
“Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, marilah kita memperbarui makna kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga membebaskan diri dari kebencian, permusuhan, kesombongan, fanatisme berlebihan, berita bohong, dan berbagai perilaku yang dapat memecah belah bangsa,” kata Rusdiana dikutip dari laman uinsgd.ac.id, Selasa (11/8/2026).
Baca juga: Abdul Mu’ti: Peran Muhammadiyah Wujudkan Cita-Cita Kemerdekaan Berlandaskan Pancasila
Menurut dia, Agustus menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa Indonesia dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, persatuan, dan kebersamaan.
Bangsa yang besar, kata Rusdiana, tidak mungkin dibangun hanya oleh satu kelompok, golongan, ataupun daerah, melainkan membutuhkan kontribusi seluruh elemen masyarakat.
Prinsip tersebut dapat ditemukan dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk olahraga.
Dalam pertandingan sepak bola, misalnya, dua kesebelasan boleh bersaing untuk mendapatkan kemenangan.
Namun, persaingan tersebut juga mengajarkan disiplin, kerja sama, sportivitas, penghormatan terhadap lawan, serta kemampuan menerima hasil pertandingan.
“Berbeda bukan berarti bermusuhan. Bersaing bukan berarti saling menjatuhkan. Menang tidak harus merendahkan. Kalah tidak harus melahirkan kebencian,” ujarnya.
Rusdiana mengatakan prinsip serupa perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa. Masyarakat boleh berbeda pilihan, suku, daerah, organisasi, hingga klub sepak bola yang didukung, tetapi perbedaan tersebut tidak semestinya merusak persaudaraan.
Baca juga: Contoh Pidato Islami Upacara 17 Agustus 2026: Kemerdekaan Adalah Amanah
Rusdiana menyebut sedikitnya empat hal yang perlu dilakukan masyarakat untuk menjaga persaudaraan sekaligus memperkuat persatuan bangsa.
Pertama, menjaga persaudaraan sebagai bagian dari keimanan.
Menurut dia, persaudaraan tidak hanya berupa hubungan emosional, tetapi juga melahirkan tanggung jawab untuk saling menjaga, menolong, mengingatkan, dan mendoakan.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting di tengah masifnya penggunaan media sosial.
“Satu kalimat yang tidak terjaga dapat melukai banyak orang. Satu informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan fitnah. Satu komentar penuh kebencian dapat memicu pertengkaran yang panjang,” kata Rusdiana.
Karena itu, menjaga persaudaraan di era digital juga berarti berhati-hati dalam membuat tulisan, unggahan, ataupun komentar di media sosial.
Kedua, menghargai perbedaan sebagai kekayaan bangsa.
Rusdiana mengatakan, keberagaman suku, bahasa, adat, budaya, dan tradisi yang dimiliki Indonesia seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Sebaliknya, perbedaan tersebut menjadi modal untuk saling mengenal, memahami, menghargai, dan bekerja sama.
“Kita harus belajar berbeda tanpa membenci, bersaing tanpa mencaci, menang tanpa merendahkan, dan kalah tanpa kehilangan persaudaraan. Itulah kedewasaan yang dibutuhkan bangsa Indonesia,” tuturnya.
Hal ketiga yang perlu dilakukan adalah bergandengan tangan dalam membangun Indonesia.
Rusdiana mengatakan, persaudaraan tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi harus melahirkan kerja sama dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Menurut dia, pembangunan Indonesia membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah membutuhkan masyarakat, guru membutuhkan orangtua, generasi tua membutuhkan generasi muda, begitu pula satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Semangat gotong royong tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menjaga lingkungan, membantu tetangga, mendidik anak, bekerja dengan jujur, menjalankan amanah, hingga menjaga fasilitas umum.
Dalam perspektif kohesi sosial, kata Rusdiana, masyarakat akan berkembang apabila terdapat rasa saling percaya, menghargai, memiliki, dan bekerja sama.
“Persaudaraan sesungguhnya merupakan modal sosial sekaligus modal spiritual dalam membangun negeri,” ujarnya.
Sebaliknya, masyarakat akan melemah ketika rasa saling percaya hilang, kebencian berkembang, dan setiap kelompok hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
Hal keempat adalah menjadikan persaudaraan sebagai energi untuk menciptakan Indonesia yang damai, maju, adil, dan beradab.
Menurut Rusdiana, kemajuan sebuah negara tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi.
“Jalan yang lebar, gedung yang tinggi, teknologi yang maju, dan ekonomi yang tumbuh memang penting. Akan tetapi, semuanya harus ditopang oleh pembangunan manusia yang beriman, berakhlak, jujur, toleran, amanah, serta mampu hidup berdampingan dengan sesama,” kata dia.
Karena itu, menurut Rusdiana, kecintaan kepada Indonesia perlu diwujudkan dengan menjaga kedamaian, merawat persatuan, memperkuat persaudaraan, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta memberikan manfaat kepada sesama.
Momentum bulan kemerdekaan, lanjut dia, dapat digunakan masyarakat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama sekaligus menghindari perilaku yang berpotensi menimbulkan perpecahan.
“Di atas segala perbedaan, kita tetap bersaudara dan bersama-sama memiliki tanggung jawab menjaga Indonesia,” pungkas Rusdiana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang