Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks

Kompas.com, 11 Agustus 2026, 14:27 WIB
Reni Susanti

Editor

BANDUNG, KOMPAS.com — Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan secara fisik.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung A Rusdiana mengatakan, kemerdekaan juga perlu dimaknai sebagai upaya membebaskan diri dari kebencian, permusuhan, fanatisme berlebihan, hingga penyebaran berita bohong yang berpotensi memecah belah bangsa.

“Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, marilah kita memperbarui makna kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga membebaskan diri dari kebencian, permusuhan, kesombongan, fanatisme berlebihan, berita bohong, dan berbagai perilaku yang dapat memecah belah bangsa,” kata Rusdiana dikutip dari laman uinsgd.ac.id, Selasa (11/8/2026).

Baca juga: Abdul Mu’ti: Peran Muhammadiyah Wujudkan Cita-Cita Kemerdekaan Berlandaskan Pancasila

Menurut dia, Agustus menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa Indonesia dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, persatuan, dan kebersamaan.

Bangsa yang besar, kata Rusdiana, tidak mungkin dibangun hanya oleh satu kelompok, golongan, ataupun daerah, melainkan membutuhkan kontribusi seluruh elemen masyarakat.

Prinsip tersebut dapat ditemukan dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk olahraga.

Dalam pertandingan sepak bola, misalnya, dua kesebelasan boleh bersaing untuk mendapatkan kemenangan.

Namun, persaingan tersebut juga mengajarkan disiplin, kerja sama, sportivitas, penghormatan terhadap lawan, serta kemampuan menerima hasil pertandingan.

“Berbeda bukan berarti bermusuhan. Bersaing bukan berarti saling menjatuhkan. Menang tidak harus merendahkan. Kalah tidak harus melahirkan kebencian,” ujarnya.

Rusdiana mengatakan prinsip serupa perlu diterapkan dalam kehidupan berbangsa. Masyarakat boleh berbeda pilihan, suku, daerah, organisasi, hingga klub sepak bola yang didukung, tetapi perbedaan tersebut tidak semestinya merusak persaudaraan.

Baca juga: Contoh Pidato Islami Upacara 17 Agustus 2026: Kemerdekaan Adalah Amanah

Empat Cara Menjaga Persatuan

Rusdiana menyebut sedikitnya empat hal yang perlu dilakukan masyarakat untuk menjaga persaudaraan sekaligus memperkuat persatuan bangsa.

Pertama, menjaga persaudaraan sebagai bagian dari keimanan.

Menurut dia, persaudaraan tidak hanya berupa hubungan emosional, tetapi juga melahirkan tanggung jawab untuk saling menjaga, menolong, mengingatkan, dan mendoakan.

Prinsip tersebut menjadi semakin penting di tengah masifnya penggunaan media sosial.

“Satu kalimat yang tidak terjaga dapat melukai banyak orang. Satu informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan fitnah. Satu komentar penuh kebencian dapat memicu pertengkaran yang panjang,” kata Rusdiana.

Karena itu, menjaga persaudaraan di era digital juga berarti berhati-hati dalam membuat tulisan, unggahan, ataupun komentar di media sosial.

Kedua, menghargai perbedaan sebagai kekayaan bangsa.

Rusdiana mengatakan, keberagaman suku, bahasa, adat, budaya, dan tradisi yang dimiliki Indonesia seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Sebaliknya, perbedaan tersebut menjadi modal untuk saling mengenal, memahami, menghargai, dan bekerja sama.

“Kita harus belajar berbeda tanpa membenci, bersaing tanpa mencaci, menang tanpa merendahkan, dan kalah tanpa kehilangan persaudaraan. Itulah kedewasaan yang dibutuhkan bangsa Indonesia,” tuturnya.

Persaudaraan Jadi Modal Sosial

Hal ketiga yang perlu dilakukan adalah bergandengan tangan dalam membangun Indonesia.
Rusdiana mengatakan, persaudaraan tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi harus melahirkan kerja sama dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Menurut dia, pembangunan Indonesia membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah membutuhkan masyarakat, guru membutuhkan orangtua, generasi tua membutuhkan generasi muda, begitu pula satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Semangat gotong royong tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menjaga lingkungan, membantu tetangga, mendidik anak, bekerja dengan jujur, menjalankan amanah, hingga menjaga fasilitas umum.

Dalam perspektif kohesi sosial, kata Rusdiana, masyarakat akan berkembang apabila terdapat rasa saling percaya, menghargai, memiliki, dan bekerja sama.

“Persaudaraan sesungguhnya merupakan modal sosial sekaligus modal spiritual dalam membangun negeri,” ujarnya.

Sebaliknya, masyarakat akan melemah ketika rasa saling percaya hilang, kebencian berkembang, dan setiap kelompok hanya mementingkan kepentingannya sendiri.

Kemajuan Tak Cukup dengan Pembangunan Fisik

Hal keempat adalah menjadikan persaudaraan sebagai energi untuk menciptakan Indonesia yang damai, maju, adil, dan beradab.

Menurut Rusdiana, kemajuan sebuah negara tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi.

“Jalan yang lebar, gedung yang tinggi, teknologi yang maju, dan ekonomi yang tumbuh memang penting. Akan tetapi, semuanya harus ditopang oleh pembangunan manusia yang beriman, berakhlak, jujur, toleran, amanah, serta mampu hidup berdampingan dengan sesama,” kata dia.

Karena itu, menurut Rusdiana, kecintaan kepada Indonesia perlu diwujudkan dengan menjaga kedamaian, merawat persatuan, memperkuat persaudaraan, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta memberikan manfaat kepada sesama.

Momentum bulan kemerdekaan, lanjut dia, dapat digunakan masyarakat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama sekaligus menghindari perilaku yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

“Di atas segala perbedaan, kita tetap bersaudara dan bersama-sama memiliki tanggung jawab menjaga Indonesia,” pungkas Rusdiana.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Mengintip Basra, Gym Keluarga Muslim di Bandung, Privasi Jadi Perhatian
Mengintip Basra, Gym Keluarga Muslim di Bandung, Privasi Jadi Perhatian
Aktual
Mengapa Makmum Mengucapkan Amin Setelah Al-Fatihah? Ini Dalilnya
Mengapa Makmum Mengucapkan Amin Setelah Al-Fatihah? Ini Dalilnya
Aktual
Apa Arti Qaulan Sadida dalam Surat Al-Ahzab? Ini Penjelasan Ulama
Apa Arti Qaulan Sadida dalam Surat Al-Ahzab? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Gontor Dituding Tegur Prabowo lewat Al-Ahzab, Stafsus Menag: Itu Doa, Bukan Tamparan
Gontor Dituding Tegur Prabowo lewat Al-Ahzab, Stafsus Menag: Itu Doa, Bukan Tamparan
Aktual
7 Seruan Imam Besar Dunia dalam Jakarta Understanding: Jaga Perdamaian, Bela Palestina
7 Seruan Imam Besar Dunia dalam Jakarta Understanding: Jaga Perdamaian, Bela Palestina
Aktual
Nasaruddin Umar Terpilih Jadi Presiden Pertama Majelis Imam Masjid Internasional
Nasaruddin Umar Terpilih Jadi Presiden Pertama Majelis Imam Masjid Internasional
Aktual
Ribuan Pramuka se-Jateng Ikuti Wira Karya XI di Darul Amanah, Belajar Kepemimpinan hingga Pengabdian
Ribuan Pramuka se-Jateng Ikuti Wira Karya XI di Darul Amanah, Belajar Kepemimpinan hingga Pengabdian
Aktual
Kapolri Berangkatkan Balita Duo Presisi Asal Bogor Umrah Gratis
Kapolri Berangkatkan Balita Duo Presisi Asal Bogor Umrah Gratis
Aktual
Stafsus Menag Bantah Gontor Tegur Prabowo lewat Surah Al-Ahzab
Stafsus Menag Bantah Gontor Tegur Prabowo lewat Surah Al-Ahzab
Aktual
Libur Lebaran 2027 Berapa Hari? Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Libur Lebaran 2027 Berapa Hari? Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Aktual
Kemenag Gelar Sayembara Surat Santri untuk Presiden, Ini Pilihan Tema dan Cara Daftarnya
Kemenag Gelar Sayembara Surat Santri untuk Presiden, Ini Pilihan Tema dan Cara Daftarnya
Aktual
Kemenag Tegaskan Fatwa Halal MUI Jadi Landasan Sertifikasi Halal
Kemenag Tegaskan Fatwa Halal MUI Jadi Landasan Sertifikasi Halal
Aktual
3 Bahaya Memakan Harta Haram, Salah Satunya Doa Tidak Diijabah
3 Bahaya Memakan Harta Haram, Salah Satunya Doa Tidak Diijabah
Aktual
Tujuan Resepsi Pernikahan dalam Islam, Ternyata Bukan Sekadar Pesta
Tujuan Resepsi Pernikahan dalam Islam, Ternyata Bukan Sekadar Pesta
Aktual
Salam Lintas Agama Kembali Disampaikan Delegasi Indonesia di Sidang Majelis Umum PBB
Salam Lintas Agama Kembali Disampaikan Delegasi Indonesia di Sidang Majelis Umum PBB
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar