Editor
KOMPAS.com - Surah Ad-Dhuha merupakan salah satu surah dalam Al-Qur’an yang memuat pesan tentang pertolongan Allah, ketenangan, rasa syukur, dan kepedulian kepada sesama.
Surah ke-93 dalam Al-Qur’an ini terdiri dari 11 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah yang diturunkan di Makkah.
Nama Ad-Dhuha diambil dari ayat pertama yang menyebut waktu dhuha, ketika matahari mulai naik.
Baca juga: Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Di balik ayat-ayatnya, terdapat kisah turunnya Surah Ad-Dhuha sebagai penghiburan bagi Nabi Muhammad SAW ketika beliau mengalami kegelisahan setelah wahyu sempat terhenti.
Pembahasan mengenai kisah turunnya Surah Ad-Dhuha pernah disampaikan Al-Ustadz Dr. H. Imam Kamaluddin, Lc. M.Hum. dalam sesi Kuliah Subuh yang di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.
Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Dhuha dalam Hadis Rasulullah SAW, dari Ampunan Dosa hingga Istana di Surga
Dilansir dari laman Pondok Modern Darussalam Gontor, kuliah Subuh yang berlangsung pada Rabu (20/4/2022) itu mengangkat materi mengenai tafsir Surat Ad-Dhuha.
“Ad-Dhuha adalah cerita tentang kegundahan, kegelisahan, juga obat yang Allah Subhanahu wa ta’ala turunkan,” ujar Al-Ustadz Imam Kamaluddin di awal kuliah sebagai pembuka materi yang akan disampaikan.
Menurut Ustadz Imam Kamaluddin, sebelum Surah Ad-Dhuha turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi gelisah.
Kegelisahan itu berkaitan dengan terhentinya kedatangan Malaikat Jibril yang membawa wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala selama sekitar enam bulan.
Dalam kondisi tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat bertanya-tanya apakah Allah sudah membenci dan tidak lagi memperhatikannya.
Kegelisahan juga muncul ketika doa yang dipanjatkan belum mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan, meskipun Rasulullah SAW terus berupaya meningkatkan kualitas ibadahnya.
Setelah penantian yang panjang tersebut, turunlah Surah Ad-Dhuha sebagai penawar kegelisahan yang dirasakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Imam Kamaluddin juga menjelaskan tafsir dari Surah Ad-Dhuha.
Mulai dari ayat pertama dan kedua surah Ad-Dhuha, di mana Allah SWT berfirman:
“Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi.”
Ayat pertama Surah Ad-Dhuha menyebut waktu dhuha, yakni pagi ketika matahari mulai naik. Menurut penjelasan dalam kuliah tersebut, penyebutan waktu ini dapat menjadi gambaran bahwa harapan masih terbuka dan seseorang tidak sepatutnya terburu-buru berputus asa.
Sementara itu, ayat kedua menyebut malam ketika suasana menjadi sunyi. Waktu tersebut dapat menjadi gambaran keadaan manusia yang sedang diliputi kegelisahan dan kesulitan hingga tidak dapat beristirahat dengan tenang.
Adapun pesan utama penghiburan dalam Surah Ad-Dhuha ditegaskan pada ayat ketiga.
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,”
Ayat tersebut menjadi jawaban atas kegelisahan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Allah SWT menegaskan bahwa terhentinya wahyu bukan berarti Dia meninggalkan atau membenci Rasulullah SAW.
Kondisi tersebut juga dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam ketika doa yang dipanjatkan belum terwujud. Seseorang terkadang merasa telah memperbaiki ibadah dan berusaha lebih khusyuk dalam berdoa, tetapi keinginannya belum kunjung tercapai.
Padahal, terkabulnya doa tidak selalu hadir dalam bentuk yang diharapkan. Bisa jadi sesuatu yang diminta justru membawa dampak buruk, atau Allah SWT telah memberikan pengganti yang lebih baik tanpa disadari oleh hamba-Nya.
Allah SWT kemudian berfirman:
“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan”
Ayat keempat Surah Ad-Dhuha mengingatkan bahwa kehidupan akhirat memiliki kedudukan yang lebih baik daripada kehidupan dunia. Dunia menjadi tempat manusia menjalani proses sebelum memperoleh kehidupan akhirat.
Dalam proses tersebut, manusia dapat menghadapi berbagai kegagalan, kesulitan, dan kegelisahan. Namun, apabila semua ujian tersebut dilewati dengan baik dan atas izin Allah SWT, terdapat balasan berupa kenikmatan di akhirat.
Dalam ayat selanjutnya, Allah SWT memberikan janji kepada Rasulullah SAW:
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”
Ayat tersebut merupakan janji Allah SWT mengenai karunia yang akan diberikan kepada hamba-Nya. Karunia itu dapat berupa terkabulnya doa sesuai dengan keinginan maupun pemberian lain yang dinilai lebih baik.
Menurut penjelasan Al-Ustadz Imam Kamaluddin, Allah SWT mencintai hamba-Nya dan mengetahui cara terbaik untuk memberikan bentuk kasih sayang tersebut. Karena itu, belum terwujudnya suatu harapan tidak semestinya membuat seorang Muslim berprasangka buruk kepada Allah.
Dalam ayat berikutnya, Allah SWT mengingatkan berbagai bentuk pertolongan yang telah diberikan kepada Rasulullah SAW.
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
Ayat keenam hingga kedelapan Surah Ad-Dhuha menggambarkan pertolongan dan kasih sayang Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Allah mengingatkan berbagai kondisi yang pernah dialami Nabi Muhammad SAW sekaligus pertolongan yang diberikan-Nya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Allah SWT dapat menjadi tempat bergantung ketika seorang hamba menghadapi kesulitan. Pertolongan Allah dapat hadir dalam bentuk perlindungan, petunjuk, maupun kecukupan.
Tiga ayat terakhir Surah Ad-Dhuha berisi sejumlah perintah kepada Rasulullah SAW sekaligus pelajaran bagi umat Islam.
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”
Setelah mengingatkan berbagai pertolongan dan nikmat Allah SWT, ayat tersebut mengajarkan pentingnya bersyukur. Rasa syukur juga diwujudkan dengan tidak berlaku semena-mena kepada anak yatim serta tidak menghardik orang yang meminta.
Nikmat yang diperoleh juga dapat diungkapkan sebagai bentuk syukur, bukan untuk memunculkan sikap riya atau kesombongan. Dengan demikian, Surah Ad-Dhuha tidak hanya berbicara mengenai ketenangan hati, tetapi juga mengajarkan kepedulian sosial.
Pada akhir kuliah, Al-Ustadz Imam Kamaluddin kembali menekankan bahwa belum terwujudnya harapan tidak berarti Allah SWT meninggalkan hamba-Nya.
“Ketika Allah sudah membuka hatimu tentang penolakan do’amu dan engkau paham apa yang terjadi, maka bisa jadi pemberian terbaik dari Allah. Maka Allah tidak akan meninggalkan kita bagaimanapun juga,” pesan beliau.
Berikut bacaan Surat Ad-Dhuha dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
وَالضُّحٰى
Latin: Waḍ-ḍuḥā
Arti: Demi waktu Dhuha (pagi hari ketika matahari naik).
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰى
Latin: Wallaili iżā sajā
Arti: Dan demi malam apabila telah sunyi.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰى
Latin: Mā wadda’aka rabbuka wa mā qalā
Arti: Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad), dan tidak (pula) membencimu.
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰى
Latin: Walal-ākhiratu khairul laka minal-ūlā
Arti: Dan sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى
Latin: Wa lasaufa yu’ṭīka rabbuka fatarḍā
Arti: Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia kepadamu, sehingga engkau merasa rida.
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰى
Latin: Alam yajidka yatīman fa-āwā
Arti: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)?
وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰى
Latin: Wa wajadaka ḍāllan fa-hadā
Arti: Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (wahyu).
وَوَجَدَكَ عَاۤئِلًا فَاَغْنٰى
Latin: Wa wajadaka ‘āilan fa-aghnā
Arti: Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan.
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْ
Latin: Fa-ammal yatīma fa-lā taqhar
Arti: Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
وَاَمَّا السَّاۤئِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Latin: Wa ammas-sā'ila fa-lā tanhar
Arti: Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.
وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Latin: Wa ammā bini’mati rabbika fa-ḥaddiṡ
Arti: Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).