KOMPAS.com - Mensyukuri menjadi bagian dalam negara merdeka yang baldatun thayyibatun, negeri yang baik.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
وَقَالَ الله تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hadirin Jamaah Jumat Yang berbahagia
Bersyukur kita kepada Allah dengan sebenar-benar syukur. Di antara nikmat besar yang patut kita syukuri adalah kesempatan untuk hidup dalam keadaan Merdeka.
Merdeka untuk beribadah, menuntut ilmu, bekerja, dan menjalankan aktvitas sebagai bangsa yang terbebas dari penjajahan.
Shalawat beriring salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada uswah kita, Nabi Muhammad SAW, yang mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah terbebas dari penghambaan kepada selain Allah menuju kehidupan yang beriman, adil dan bermartabat.
Kemudian Khatib senantiasa mengingatkan kepada diri khatib sendiri khususnya dan umumnya jamaah sekalian marilah senantiasa kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah.
Pilihan hidup kita sebagai muslim tidaklah banyak. Hidup mulia dengan iman dan takwa atau mati dalam keadaan syahid.
Kemerdekaan bukanlah sekadar peristiwa sejarah yang kita kenang setiap bulan Agustus.
Kemerdekaan adalah amanah yang harus kita refleksikan untuk menjadi bangsa yang jauh lebih baik, maju, dan bermartabat.
Allah swt berfirman dalm QS. Saba’ ayat 15 :
لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌۚ جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ
Artinya :
Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15)
Allah SWT merepresentasikan ada sebuah negeri yang amat subur dan Makmur, yakni negeri Saba’.
Negeri yang memiliki kebun-kebun di kanan dan kiri jalan, dengan kehidupan yang sejuk dan penuh kenikmatan. Negeri seperti inilah yang kemudian disebut sebagai baldatun thayyibatun, negeri yang baik.
Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ketika kita melihat Indonesia ada sebuah ungkapan metaforis qith‘atun minal-jannah nuqilat ilal-ardh.
Indonesia direpresentasikan sebagai sepotong surga yang dipindahkan ke bumi. Ungkapan ini mengingatkan kita pada betapa luar biasanya karunia Allah kepada negeri ini.
Lautan yang luas, tanah yang subur, pepohonan, tanaman, hewan, serta kekayaan alam yang begitu beragam. Semua itu merupakan rezeki yang Allah anugerahkan kepada bangsa Indonesia.
Maka, sudah sepatutnya kita bersyukur atas pemberian tersebut, terutama dalam momentum kemerdekaan yang mengingatkan kita bahwa negeri ini adalah amanah yang diperjuangkan dengan pengorbanan.
Allah Swt berfirman :
اِنَّ فِي خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran:190)
Ayat ini mengajarkan bahwa alam bukan Sekadar sesuatu yang dapat kita manfaatkan, tetapi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah.
Orang berakal tidak hanya melihat kekayaan alam sebagai sumber kehidupan yang bisa diambil manfaatnya, tetapi juga menyadari bahwa semua itu adalah Amanah yang harus dijaga.
Tentunya yang bisa menjaga adalah kita manusia sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Khalifah bukan berarti manusia bebas berbuat semaunya terhadap bumi. Sebaliknya, kedudukan itu mengandung amanah untuk mengelola, memelihara, dan menjaga bumi dengan penuh tanggung jawab.
Karena itu, kemerdekaan harus melahirkan manusia-manusia yang mampu mengelola negeri dengan amanah, bukan manusia yang merasa bebas mengeksploitasi apa saja yang ada di dalamnya.
Tanggung jawab itu tidak hanya kepada diri kita hari ini, tetapi juga kepada generasi yang akan datang. Allah SWT mengingatkan:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya:
“Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9).
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Lemah bukan hanya dalam persoalan ekonomi, tetapi juga lemah dalam pendidikan, iman, akhlak, kesehatan, bahkan lemah karena mewarisi lingkungan yang rusak dan sumber daya yang telah habis.
Maka, ketika hari ini kita membangun jalan, gedung, industri, kawasan ekonomi, dan berbagai pembangunan lainnya, kita harus bertanya apakah semua itu akan membuat generasi mendatang menjadi lebih kuat atau justru mewariskan persoalan kepada mereka.
Jangan sampai kita menikmati kekayaan negeri hari ini, sementara anak cucu kita harus membayar kerusakan yang kita tinggalkan. Jangan sampai kita menikmati hutan hari ini, sementara generasi mendatang kehilangan sumber air.
Jangan sampai kita mengeksploitasi laut hari ini, sementara generasi berikutnya hanya menerima laut yang tercemar. Dan jangan sampai negeri yang subur yang diwariskan para pahlawan kepada kita justru kita wariskan kepada anak cucu nanti dalam keadaan hancur dan rusak.
Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di sinilah kita dapat memahami mengapa Al-Qur’an menghadirkan kisah negeri Saba’ sebagai pelajaran. Mereka pernah memiliki baldah thayyibah, negeri yang baik. Namun keadaan itu tidak berlangsung selamanya.
Ketika generasi berikutnya tidak lagi menyadari bahwa rezeki itu berasal dari Allah, tidak lagi melestarikan dan menjaganya, kemudian mereka mengingkari nikmat Allah, maka keadaan negeri itu berubah.
Allah SWT berfirman dalam QS. Saba’ ayat 16:
فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ
Artinya:
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit pohon Sidr.” (QS. Saba’ : 16)
Inilah peringatan yang sangat serius. Negeri yang sebelumnya subur dan makmur dapat berubah ketika manusia berpaling dari Allah dan tidak lagi menjaga nikmat yang diberikan-Nya.
Yang terjadi bukan lagi baldatun thayyibatun, negeri yang baik, tetapi baldatun khabitsatun, negeri yang buruk. Dan yang semestinya kita harapkan adalah rabbun ghafur, Tuhan Yang Maha Pengampun, bukan keadaan yang mengundang azab Allah akibat pengingkaran terhadap nikmat-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pelajaran dari Saba’ ini sangat relevan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka. Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tetapi kekayaan itu sekaligus merupakan ujian apakah kita mampu mensyukurinya atau justru mengingkarinya melalui keserakahan dan kerusakan.
Kemerdekaan memberi kita ruang untuk menentukan masa depan bangsa. Maka kemerdekaan harus diisi dengan tanggung jawab sebagai khalifah, dengan memastikan bahwa pembangunan hari ini tidak melemahkan kehidupan generasi yang akan datang.
Kita ingin Indonesia menjadi negeri yang maju, tetapi kemajuan tidak boleh dibayar dengan kerusakan. Kita ingin ekonomi tumbuh, tetapi pertumbuhan harus menghadirkan kesejahteraan.
Kita ingin kekayaan alam dimanfaatkan, tetapi pemanfaatannya harus dilakukan secara adil, amanah, dan berkelanjutan.
Inilah makna baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam mengisi kemerdekaan membangun negeri yang baik, masyarakat yang kuat dan beriman, alam yang terjaga, keadilan yang ditegakkan, serta generasi mendatang yang tidak kita tinggalkan dalam keadaan lemah.
Maka marilah kita jadikan kemerdekaan bukan hanya sebagai warisan yang kita nikmati, tetapi sebagai amanah yang kita jaga.
Sebagaimana para pendahulu berjuang agar kita tidak hidup dalam penjajahan, maka tugas kita hari ini adalah berjuang agar generasi yang akan datang tidak hidup dalam kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan.
Semoga Allah menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik, masyarakat yang bersyukur, alam yang terjaga, generasi yang kuat, dan kehidupan yang senantiasa berada dalam ampunan serta ridha Allah SWT.
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، وَيَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ