Editor
KOMPAS.com - Huruf hijaiyah adalah huruf dasar dalam bahasa Arab yang menjadi pondasi utama sebelum seseorang bisa membaca Al-Qur'an.
Bagi anak-anak maupun orang dewasa yang baru belajar mengaji, memahami huruf hijaiyah adalah langkah pertama yang wajib dikuasai.
Artikel ini membahas secara lengkap mulai dari jumlah huruf, urutan, cara membaca, hingga tips menghafalnya, dengan merujuk pada kajian akademik di bidang ilmu tajwid dan pendidikan Al-Qur'an.
Baca juga: Mengenal Huruf Hijaiyah: Pengertian, 29 Huruf, Harakat, dan Cara Mudah Belajar Membaca Al-Quran
Secara umum, huruf hijaiyah berjumlah 28 huruf. Namun begitu, jumlah ini tidak selalu disepakati dalam berbagai referensi.
Kajian dalam Jurnal Islamika (Institut Agama Islam Negeri Kerinci) menyebut bahwa menurut pendapat Imam Sibawaih, huruf-huruf dasar bahasa Arab berjumlah 29, terhitung dari alif hingga ya tanpa memasukkan lam alif sebagai huruf tersendiri.
Perbedaan angka ini umumnya muncul karena perbedaan cara memperlakukan tiga unsur: huruf alif, huruf hamzah, dan gabungan lam-alif. Penjelasan lebih rinci soal tiga versi hitungan ini dibahas pada bagian berikutnya.
Baca juga: Kisah Bencana yang Diungkap dalam Al-Quran dan Hadis, dari Banjir hingga Wabah
Berikut urutan 28 huruf hijaiyah sesuai susunan yang umum digunakan dalam pembelajaran mengaji (bukan urutan abjad/alfabetis seperti dalam kamus bahasa Arab):
1. ا (Alif)
2. ب (Ba)
3. ت (Ta)
4. ث (Tsa)
5. ج (Jim)
6. ح (Ha - tebal)
7. خ (Kha)
8. د (Dal)
9. ذ (Dzal)
10. ر (Ra)
11. ز (Zai)
12. س (Sin)
13. ش (Syin)
14. ص (Shad)
15. ض (Dhad)
16. ط (Tha)
17. ظ (Zha)
18. ع ('Ain)
19. غ (Ghain)
20. ف (Fa)
21. ق (Qaf)
22. ك (Kaf)
23. ل (Lam)
24. م (Mim)
25. ن (Nun)
26. و (Wau)
27. ه (Ha - tipis)
28. ي (Ya)
Urutan di atas biasa disebut "urutan hijaiyah", berbeda dengan urutan abjadiyah (alfabetis Arab klasik) yang mengikuti pola alif-ba-jim-dal.
Perbedaan jumlah huruf hijaiyah ini bukan kesalahan, melainkan soal cara pandang keilmuan dalam memperlakukan tiga unsur berikut:
• 28 huruf: hitungan ini berlaku bila huruf alif (ا) dan hamzah (ء) dianggap sebagai satu kesatuan, dan tanpa memasukkan lam alif (لا) sebagai huruf tersendiri.
• 29 huruf: dokumen kajian dari Jurnal Islamika IAIN Kerinci mengutip pendapat Imam Sibawaih bahwa huruf-huruf dasar bahasa Arab berjumlah 29, yaitu saat hamzah dihitung terpisah dari alif namun lam alif tidak dimasukkan sebagai huruf mandiri.
• 30 huruf: hitungan ini muncul apabila ketiga unsur — alif, hamzah, dan lam alif — dihitung sebagai tiga huruf yang berdiri sendiri-sendiri.
Perbedaan ini murni soal metode dan sudut pandang keilmuan, bukan perbedaan mendasar mengenai bunyi bahasa Arab itu sendiri. Untuk pemula, cukup fokus menghafal 28 huruf inti terlebih dahulu.
Ilmu tajwid membagi pembahasan cara membaca huruf hijaiyah ke dalam dua aspek utama, yaitu makhraj dan sifat huruf.
1. Makhraj (tempat keluarnya huruf)
Menurut kajian dalam Jurnal Islamika IAIN Kerinci, makhraj huruf terbagi menjadi lima organ suara utama, yaitu rongga mulut (al-jauf), tenggorokan (al-halq), lidah (al-lisan), dua bibir (asy-syafatain), dan pangkal hidung (al-khaisyum) yang menjadi tempat keluarnya bunyi ghunnah pada huruf nun dan mim.
Setiap huruf memiliki titik keluar bunyi yang berbeda; kesalahan makhraj berpotensi mengubah makna kata dalam Al-Qur'an, sehingga sebaiknya dipelajari langsung dengan bimbingan guru mengaji.
2. Sifat huruf
Jurnal yang sama menjelaskan, dengan merujuk pendapat Acep Iim Abdurrahman dan Aiman Rusydi Suwaid, bahwa sifat huruf hijaiyah secara umum terbagi menjadi dua kelompok besar:
sifat yang memiliki lawan (seperti hams-jahr, syiddah-rakhawah, isti'la-istifal) dan sifat yang tidak memiliki lawan. Pengelompokan sifat inilah yang menentukan karakter bunyi tiap huruf, misalnya tebal (tafkhim) atau tipis (tarqiq).
Cara terbaik mempelajari makhraj dan sifat huruf adalah dengan mendengar langsung contoh pelafalan dari guru mengaji atau qari, bukan hanya membaca teksnya saja.
Salah satu keunikan huruf hijaiyah adalah bentuknya yang berubah tergantung posisi dalam kata, karena tulisan Arab bersifat sambung-menyambung.
Merujuk buku Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an karya Mursal Aziz dan Zulkipli Nasution, cara menulis huruf Arab dimulai dari kanan ke kiri, berbeda dengan huruf Latin.
Ada 6 huruf yang tidak bisa disambung dengan huruf sesudahnya, yaitu:
• ا (Alif)
• د (Dal)
• ذ (Dzal)
• ر (Ra)
• ز (Zai)
• و (Wau)
Keenam huruf ini tetap bisa disambung dengan huruf sebelumnya, tetapi tidak dengan huruf setelahnya, sehingga sambungan tulisan akan "terputus" begitu salah satu huruf ini muncul di tengah kata.
Sementara itu, 22 huruf lainnya bisa disambung baik dengan huruf sebelum maupun sesudahnya, sehingga bentuknya berubah-ubah tergantung posisi: bentuk awal, tengah, akhir, atau tunggal (berdiri sendiri).
Harakat adalah tanda baca berupa simbol kecil yang diletakkan di atas atau bawah huruf hijaiyah untuk menentukan bunyi vokalnya. Tanpa harakat, huruf hijaiyah hanya berupa konsonan tanpa bunyi vokal yang jelas.
Jenis-jenis harakat utama:
• Fathah ( َ ): tanda garis kecil di atas huruf, berbunyi "a". Contoh: بَ dibaca "ba".
• Kasrah ( ِ ): tanda garis kecil di bawah huruf, berbunyi "i". Contoh: بِ dibaca "bi".
• Dhammah ( ُ ): tanda seperti huruf wau kecil di atas huruf, berbunyi "u". Contoh: بُ dibaca "bu".
• Sukun ( ْ ): tanda bulat kecil di atas huruf, menandakan huruf mati (tanpa vokal). Contoh: بْ dibaca "b".
• Tanwin (fathatain, kasratain, dhammatain): tanda harakat ganda yang menghasilkan bunyi "an", "in", atau "un" di akhir kata, biasa muncul pada kata benda tak tentu.
• Tasydid ( ّ ): tanda yang menunjukkan huruf tersebut dibaca ganda atau ditekan (double).
Menguasai harakat sama pentingnya dengan menghafal bentuk huruf, karena harakat inilah yang mengubah huruf mati menjadi bunyi yang bisa dirangkai menjadi kata dan kalimat.
Sejumlah kajian pendidikan anak usia dini (PAUD) meneliti metode-metode yang efektif untuk mengenalkan dan menghafalkan huruf hijaiyah, di antaranya:
• Metode kartu huruf (flash card) dengan bernyanyi dan bermain: penelitian yang dipublikasikan DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini menemukan bahwa metode kartu huruf hijaiyah yang dipadukan dengan bernyanyi dan bermain membuat anak lebih antusias dan sukarela mengikuti pembelajaran, sekaligus membantu mereka mengenal huruf hijaiyah dari alif sampai ya melalui lantunan nyanyian.
• Metode bercerita: sebuah penelitian kualitatif menemukan bahwa anak-anak yang dilibatkan dalam kegiatan bercerita menunjukkan peningkatan minat belajar dan pemahaman yang lebih baik terhadap huruf-huruf hijaiyah dibandingkan metode konvensional.
• Metode bermain sambil belajar (play based learning): kajian dalam Jurnal PAUD Universitas Negeri Malang mencatat bahwa pendekatan bermain imajinatif dalam pembelajaran huruf hijaiyah dapat merangsang kemampuan kognitif, motorik halus, konsentrasi, dan keberanian anak.
• Metode Iqro' dan pembiasaan harian: beberapa penelitian, termasuk yang dimuat Jurnal Caksana: Pendidikan Anak Usia Dini, menunjukkan bahwa penerapan metode Iqro' secara konsisten efektif meningkatkan kemampuan anak usia dini dalam membaca huruf hijaiyah.
• Pengulangan rutin dan menulis huruf: pembiasaan membaca dan menulis huruf hijaiyah secara berulang setiap hari, sedikit demi sedikit namun konsisten, secara umum dinilai lebih efektif dibandingkan belajar sekaligus dalam waktu lama.
Setelah mengenal bentuk dan bunyi huruf hijaiyah, langkah berikutnya adalah latihan bertahap:
1. Latihan mengenal bentuk huruf — tunjukkan satu per satu huruf hijaiyah tanpa harakat, minta anak menyebutkan namanya.
2. Latihan membaca huruf berharakat — mulai dari fathah, lalu kasrah, dhammah, hingga sukun dan tanwin, satu huruf setiap kali latihan.
3. Latihan membedakan huruf yang mirip — misalnya ب, ت, ث yang bentuknya serupa namun berbeda titik, atau ج, ح, خ.
4. Latihan menyambung huruf — mulai dari kata-kata pendek dua atau tiga huruf sebelum masuk ke bacaan Al-Qur'an.
5. Latihan mendengar dan menirukan (talaqqi) — dengarkan bacaan guru atau qari, lalu tirukan agar makhraj dan sifat huruf terbentuk dengan benar sejak awal.
Konsistensi adalah kunci utama. Latihan singkat namun rutin setiap hari jauh lebih efektif dibandingkan belajar dalam waktu lama tapi jarang dilakukan.
Dengan kesabaran dan bimbingan yang tepat, anak-anak maupun pemula dapat menguasai huruf hijaiyah dengan baik sebagai bekal membaca Al-Qur'an.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT