Editor
KOMPAS.com - Kurma menjadi salah satu buah yang lekat dengan bulan Ramadhan karena dianjurkan sebagai makanan saat berbuka puasa.
Selain bernutrisi, mengonsumsi kurma juga termasuk amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Lantas, benarkah kurma harus dimakan dalam jumlah ganjil? berikut penjelasannya, seperti dilansir dari Antara.
Baca juga: 5 Toko Oleh-oleh Haji Terlengkap di Semarang, Ada Air Zamzam dan Kurma
Rasulullah SAW memiliki kebiasaan mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil. Kebiasaan tersebut antara lain terlihat ketika beliau hendak melaksanakan salat Idul Fitri.
Baca juga: DPR Desak BPOM Razia Kurma yang Mengandung Sirup Glukosa dan Pengawet Tanpa Label
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak berangkat untuk melaksanakan salat Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil. Beliau disebut biasa mengonsumsi kurma dengan jumlah seperti 1, 3, 5, 7, atau 9 butir.
Kebiasaan tersebut berkaitan dengan bilangan ganjil yang dikenal memiliki tempat khusus dalam sejumlah amalan Rasulullah SAW. Karena itu, mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil juga kerap dikaitkan dengan upaya meneladani kebiasaan beliau.
Dalam kitab Faidlul Qadir terjemahan Amir Hamzah Fachruddin, Al-Munawi menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sering memakan tujuh butir kurma.
Hal tersebut dilakukan karena beliau menyukai bilangan ganjil yang memiliki makna tertentu dalam berbagai kebiasaan dan amalan beliau.
Kebiasaan makan kurma sebelum salat Idul Fitri juga disebutkan dalam hadis. Rasulullah SAW tidak berangkat melaksanakan salat Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis, "Beliau memakannya ganjil." (HR Bukhari).
Meskipun mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil dikenal sebagai bagian dari kebiasaan Rasulullah SAW, umat Islam tidak diwajibkan untuk selalu mengikutinya dalam setiap keadaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa memakan kurma dalam jumlah ganjil tidaklah wajib ataupun sunnah, kecuali di hari Idul Fitri.
Dengan demikian, anjuran makan kurma dalam jumlah ganjil perlu dipahami sesuai konteks hadis yang menjadi landasannya.
Kebiasaan Rasulullah SAW tersebut dapat menjadi teladan, tetapi tidak berarti umat Islam harus selalu mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil setiap kali makan atau berbuka puasa.
Selain memiliki nilai dalam tradisi ibadah, kurma juga dikenal sebagai buah yang kaya kandungan nutrisi.
Buah ini mengandung serat, vitamin, dan mineral yang dapat mendukung kebutuhan nutrisi tubuh.
Mengonsumsi kurma saat berbuka juga menjadi salah satu cara mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW.
Bagi umat Islam, meneladani sunnah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjalankan ajaran Rasulullah SAW sekaligus memperoleh manfaat dari kandungan nutrisi kurma.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT