Editor
JOMBANG, KOMPAS.com - Jaringan Nahdlatul Ulama Kultural (Janur) mendorong ulama perempuan mendapat kesempatan menjadi anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026.
Dua nama yang dinilai layak menjadi anggota AHWA adalah Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid.
Penggerak Janur Aan Anshori mengatakan, AHWA memiliki posisi strategis dalam pengambilan keputusan NU karena forum yang beranggotakan sembilan ulama tersebut berperan dalam menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
"AHWA semestinya diisi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam'iyah," kata Aan dikutip dari Antara, Kamis (20/8/2026).
Baca juga: Sambut Muktamar NU ke-35: PCNU Jombang Siapkan Masjid Ramah Muktamirin
Menurut Aan, selama ini seluruh anggota AHWA yang terpilih merupakan laki-laki.
Padahal, kata dia, tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyebut anggota AHWA harus laki-laki.
Karena itu, Janur menilai mekanisme pemilihan anggota AHWA perlu dikaji kembali untuk membuka kesempatan bagi ulama perempuan yang memenuhi kualifikasi.
Aan mengatakan, NU memiliki tradisi panjang dalam melahirkan ulama perempuan yang berkontribusi dalam pendidikan pesantren, pelayanan sosial, pengembangan pemikiran keislaman, hingga kehidupan kebangsaan.
Menurut Janur, setidaknya terdapat dua ulama perempuan yang memiliki kapasitas untuk menjadi anggota AHWA, yakni Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid.
Sinta Nuriyah merupakan istri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Ia dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam menyuarakan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kehidupan beragama yang inklusif.
Baca juga: Jelang Muktamar NU, Ali Masykur Musa: Semangat Kebangsaan Tak Boleh Luntur
Sinta juga pernah menjadi bagian dari jajaran Mustasyar PBNU dalam beberapa periode.
Sementara itu, Machfudhoh Aly Ubaid merupakan putri salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.
Machfudhoh memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren dan perjuangan NU. Ia juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.
"Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki sumber daya keulamaan perempuan yang tidak dapat dipandang sebagai pelengkap," ujar Aan.
Aan menegaskan, masuknya ulama perempuan dalam AHWA bukan semata-mata persoalan keterwakilan berdasarkan jenis kelamin.
Menurut dia, keterlibatan ulama perempuan juga dapat memperluas perspektif keulamaan dalam pengambilan keputusan strategis organisasi.
"Sudah waktunya NU tidak hanya berbicara tentang pentingnya peran ulama perempuan, tetapi juga memberikan ruang nyata kepada mereka dalam forum strategis pengambilan keputusan organisasi, termasuk dalam sembilan anggota AHWA," kata Aan.
Muktamar Ke-35 NU akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU yang akan membahas berbagai agenda organisasi, termasuk pergantian kepengurusan PBNU.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT