Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 10:01 WIB
Riki Achmad Saepulloh,
Reni Susanti

Tim Redaksi


KOMPAS.com - Gigi yang terlihat utuh belum tentu benar-benar sehat. Karies atau gigi berlubang dapat berkembang tanpa langsung menimbulkan rasa sakit.

Ketika rasa sakit berdenyut mulai muncul, kerusakan bahkan bisa sudah mencapai bagian dalam gigi dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Dokter gigi dari FDC Dental Clinic, drg Ahmad Syahrul Mubarok mengatakan, karies masih menjadi salah satu persoalan kesehatan gigi yang dominan di Indonesia.

"Yang paling banyak menimpa orang Indonesia, terutama soal gigi, itu karies. Sangat dominan, sekitar 80 persen," ujar Ahmad Syahrul dikutip dari Tribun Jabar, Kamis (20/8/2026).

Baca juga: Gosok Gigi Saat Puasa Apakah Batal? Ini Hukum, Waktu Terbaik, dan Penjelasan 4 Mazhab

Menjaga kebersihan gigi dan mulut sebenarnya bukan hanya dianjurkan dari sisi kesehatan.

Islam sejak lama memberikan perhatian terhadap kebersihan mulut, salah satunya melalui anjuran bersiwak yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Lantas, bagaimana cara menjaga kesehatan gigi agar terhindar dari karies?

Karies Bisa Berkembang Tanpa Disadari

Ahmad menjelaskan, karies tidak terjadi secara tiba-tiba.

Salah satu faktor yang berperan adalah konsumsi gula yang kemudian berinteraksi dengan bakteri di dalam rongga mulut, terutama ketika kebersihan gigi tidak terjaga dengan baik.

Sisa makanan dan gula yang tertinggal pada permukaan gigi dapat dimanfaatkan bakteri di rongga mulut dan memicu proses kerusakan gigi.

Bagian geraham perlu mendapat perhatian karena memiliki lekukan yang dapat menjadi tempat sisa makanan tertinggal.

Pada tahap awal, karies juga tidak selalu terlihat sebagai lubang besar. Perubahan warna, seperti kehitaman atau abu-abu, dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan.

Kerusakan kemudian dapat berkembang semakin dalam tanpa disadari.

Ketika sudah mencapai bagian dalam gigi, keluhan yang muncul dapat berupa rasa sakit berdenyut, muncul secara spontan, hingga mengganggu tidur pada malam hari.

Jika dibiarkan, kerusakan dapat semakin berat hingga mahkota gigi terkikis dan hanya menyisakan akar. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Sakit Gigi Tak Cukup Hanya Minum Obat

Ahmad mengingatkan, sakit gigi tidak cukup ditangani hanya dengan mengonsumsi obat pereda nyeri.

Obat dapat membantu mengurangi keluhan untuk sementara, tetapi sumber persoalan pada gigi tetap perlu diperiksa dan ditangani dokter gigi.

Penanganannya bergantung pada tingkat kerusakan.

Gigi yang masih dapat dipertahankan bisa mendapatkan tindakan penambalan. Sementara, kerusakan yang telah mencapai pulpa atau bagian dalam gigi mungkin membutuhkan perawatan saluran akar.

Jika kondisi gigi sudah tidak memungkinkan untuk dipertahankan, pencabutan dapat menjadi pilihan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter gigi.

Jangan Terlalu Banyak Berkumur Setelah Sikat Gigi

Salah satu langkah utama mencegah karies adalah menjaga kebersihan gigi secara rutin.

Ahmad menyarankan menyikat gigi pada pagi hari setelah makan dan malam sebelum tidur.
Namun, ada kebiasaan setelah menyikat gigi yang juga perlu diperhatikan.

Menurut Ahmad, seseorang tidak perlu berkumur berkali-kali setelah menyikat gigi sampai seluruh sisa pasta gigi hilang.

Jika pasta gigi menghasilkan banyak busa, ia menyarankan berkumur cukup sekali. Sementara, jika pasta gigi tidak menghasilkan banyak busa, sisa pasta gigi dapat diludahkan tanpa berkumur berulang kali.

Tujuannya agar kandungan aktif dalam pasta gigi memiliki kesempatan tetap bekerja pada permukaan gigi.

Selain itu, masyarakat dapat membersihkan sela-sela gigi menggunakan dental floss atau water flosser untuk membantu mengangkat sisa makanan yang sulit dijangkau sikat gigi.

Ahmad juga menyarankan berkumur dengan air putih setelah makan atau minum untuk membantu membersihkan rongga mulut.

Jangan Menyikat Gigi Terlalu Keras

Cara menyikat gigi juga perlu diperhatikan.

Ahmad mengingatkan agar seseorang tidak menyikat gigi dengan tekanan terlalu kuat karena dapat berkontribusi terhadap penurunan gusi dan membuat bagian akar gigi semakin terlihat.

Ia menyarankan gerakan menyikat diarahkan dari bagian gusi menuju gigi atau dari "merah ke putih".

"Jika sikat gigi justru diarahkan dengan tekanan kuat dari gigi menuju gusi, jaringan gusi dapat terdorong atau mengalami kerusakan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan akar gigi terlihat dan membuat gigi lebih sensitif," kata Ahmad.

Menjaga Kebersihan Mulut dalam Islam

Perhatian terhadap kebersihan gigi dan mulut juga ditemukan dalam tuntunan Islam.

Salah satunya melalui kebiasaan bersiwak yang dilakukan dan dianjurkan Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
"Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu." (HR Ahmad)

Dalam hadis lain disebutkan bahwa siwak merupakan sarana untuk membersihkan mulut sekaligus amalan yang mendatangkan keridhaan Allah SWT.

"Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Rabb." (HR An-Nasa'i)

Kebiasaan Rasulullah SAW menjaga kebersihan mulut juga diriwayatkan Hudzaifah RA.

Ia menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW bangun pada malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak. Riwayat mengenai kebiasaan tersebut terdapat dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.

Anjuran bersiwak menunjukkan bahwa menjaga kebersihan rongga mulut telah mendapat perhatian dalam ajaran Islam.

Dalam praktik kehidupan modern, tujuan membersihkan gigi dan mulut juga dapat dilakukan dengan berbagai sarana kebersihan yang tersedia.

Karena itu, menjaga kebersihan gigi secara rutin tidak hanya penting untuk mencegah karies dan penyakit gigi lainnya, tetapi juga selaras dengan perhatian Islam terhadap kebersihan diri.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Aktual
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
Aktual
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Aktual
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Aktual
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
Aktual
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Aktual
Berebut NU
Berebut NU
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Aktual
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Aktual
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Aktual
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Aktual
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Aktual
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar