Editor
KOMPAS.com - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim mengajak umat Islam memahami lebih dalam makna ar-Rahman dan ar-Rahim yang disebut dalam Surah Al-Fatihah.
Menurutnya, kedua nama Allah tersebut sama-sama berkaitan dengan rahmat, tetapi memiliki cakupan dan konteks yang berbeda.
Hal itu disampaikan Kiai Saad Ibrahim dalam pengajian di TVMu pada Sabtu (15/08/2026), seperti dilansir dari laman Muhammadiyah.
Baca juga: Mengapa Al-Fatihah Dibaca dalam Setiap Rakaat Sholat?
Ia menjelaskan, ar-Rahman dan ar-Rahim disebut dalam basmalah dan kembali hadir setelah ayat alhamdulillahi rabbil ‘alamin dalam Surah Al-Fatihah, sehingga pengulangannya penting untuk dipahami secara lebih mendalam.
Saad menjelaskan bahwa ar-Rahman dan ar-Rahim termasuk al-Asmaul Husna. Dalam bahasa Indonesia, kedua nama tersebut umumnya diterjemahkan sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, meskipun terjemahan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan keluasan makna dalam bahasa Arab.
Baca juga: Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Menurutnya, bahasa Arab memiliki kekayaan kosakata yang sangat besar. Karena itu, sejumlah kata Arab dapat mengalami penyempitan atau perubahan makna ketika diterjemahkan ke bahasa lain.
Ia mencontohkan kata zalim yang telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia, tetapi penggunaannya mengalami pergeseran dari makna yang terdapat dalam bahasa Arab.
Kekayaan bahasa Arab tersebut, kata Saad, menjadi salah satu konteks Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an yang sesungguhnya merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., sedangkan teks dalam bahasa lain merupakan hasil terjemahan atau penafsiran terhadap makna Al-Qur’an.
“Seluruh terjemahan dalam bahasa apa pun itu harus disebut sebagai terjemahan Al-Qur’an, bukan Al-Qur’an itu sendiri,” tegasnya.
Ar-Rahman, Rahmat Allah untuk Seluruh Makhluk
Saad kemudian menjelaskan perbedaan cakupan ar-Rahman dan ar-Rahim. Menurutnya, ar-Rahman menggambarkan Allah sebagai Zat yang memiliki rahmat luas dan meliputi seluruh makhluk.
Rahmat ar-Rahman diberikan dalam kehidupan dunia kepada semua makhluk, baik yang beriman maupun yang tidak beriman.
“Rahmat Allah itu dalam konteks diberikan kepada semua makhluk-Nya dalam kehidupan dunia ini,” ujarnya.
Saad menggambarkan keluasan rahmat tersebut melalui berbagai fenomena kehidupan.
Salah satunya terlihat dari kasih sayang induk ayam kepada anaknya yang merupakan bentuk rahmat Allah yang ditanamkan dalam diri makhluk.
Ketika anak ayam baru menetas, induknya secara naluriah akan berhati-hati agar tidak menginjak anaknya.
Perilaku tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai bagaimana rahmat Allah hadir dalam kehidupan makhluk.
Rahmat Allah di dunia, lanjut Saad, begitu luas sehingga manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat yang diterimanya.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 34, wa in ta‘uddu ni‘matallahi la tuhá¹£uha, yang menegaskan bahwa manusia tidak mampu menghitung nikmat Allah.
Nikmat berupa tubuh yang memungkinkan manusia bernapas, jantung yang terus bekerja, serta berbagai nikmat lain di dalam dan di luar diri manusia merupakan bagian dari rahmat Allah yang kerap luput dari kesadaran.
“Kalau kalian menghitung nikmat Allah, itu tidak mungkin kemudian orang bisa menghitungnya,” katanya.
Saad juga menjelaskan bahwa ar-Rahman secara khusus merupakan nama Allah sehingga tidak digunakan sebagai nama manusia secara langsung.
Penggunaannya dapat ditemukan dalam bentuk nama seperti Abdurrahman, yang berarti hamba dari Ar-Rahman.
Jika ar-Rahman menggambarkan rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk di dunia, Saad menjelaskan bahwa ar-Rahim memiliki cakupan yang lebih khusus.
Ia mengaitkan ar-Rahim dengan rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman, terutama dalam kehidupan akhirat.
Saad menyebut bahwa jika rahmat Allah di dunia digambarkan secara kuantitatif, bagian tersebut hanya sekitar satu persen.
Sementara sebagian besar rahmat Allah, yang ia gambarkan sebagai 99 persen, diperuntukkan bagi kehidupan akhirat.
“Ar-Rahim, Allah Maha Pengasih dengan rahmat-Nya yang sangat dahsyat itu dalam kehidupan akhirat,” jelasnya.
Rahmat tersebut, menurut Saad, mencakup ampunan Allah, masuk surga, terbebas dari neraka, hingga kesempatan untuk bertemu dengan Allah.
Karena itu, kehidupan seorang mukmin tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia, tetapi juga pada rahmat Allah di akhirat.
Saad memberikan gambaran mengenai kehidupan akhirat dengan membandingkannya dengan pengalaman manusia di dunia.
Seseorang yang selama hidup mengalami berbagai kesulitan, kemudian memperoleh ampunan Allah dan masuk surga, akan merasakan kenikmatan yang begitu besar hingga penderitaan dunia seolah tidak pernah dialaminya.
Saad mengutip gambaran bahwa ketika orang tersebut ditanya apakah pernah mengalami penderitaan di dunia, ia akan menjawab tidak pernah.
Hal itu bukan berarti ia benar-benar tidak pernah mengalami penderitaan, tetapi dahsyatnya kenikmatan surga membuat seluruh penderitaan dunia tidak lagi berarti.
Sebaliknya, orang yang selama hidup di dunia menikmati berbagai kebahagiaan tetapi kemudian masuk neraka akan mengalami keadaan yang berlawanan.
Kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya seakan hilang dari ingatan karena dahsyatnya azab akhirat.
Dari penjelasan mengenai ar-Rahman dan ar-Rahim tersebut, Saad mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat iman. Menurutnya, iman memiliki kedudukan penting karena menjadi jalan bagi seseorang untuk memperoleh rahmat Allah di akhirat.
“Berbahagialah kita yang beriman,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa iman sekecil apa pun tetap memiliki nilai di hadapan Allah. Namun, keimanan tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan melalui amal saleh dan usaha untuk terus berbuat baik.
Karena manusia tidak luput dari kesalahan, Saad juga mengingatkan pentingnya istigfar dan memohon ampun kepada Allah.
Ketika seorang mukmin melakukan kesalahan, kemudian menyadarinya, bertobat, dan memohon ampun, ia memiliki harapan memperoleh ampunan dan rahmat Allah.
“Kalau kemudian kita berbuat tidak baik, lalu kita istigfar, minta ampun kepada Allah, lalu diampuni oleh Allah, maka urusan kita akan selesai,” ujarnya.
Pemahaman terhadap ar-Rahman dan ar-Rahim membantu umat Islam melihat luasnya rahmat Allah dalam kehidupan dunia sekaligus kehidupan akhirat.
Rahmat Allah di dunia hadir melalui berbagai nikmat yang dirasakan seluruh makhluk, sedangkan rahmat-Nya di akhirat menjadi harapan besar bagi orang-orang beriman.
Karena itu, Saad mengingatkan pentingnya menjaga iman, memperbanyak amal saleh, dan tidak berhenti memohon ampun kepada Allah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT