Editor
KOMPAS.com - Sebelum dunia mengenalnya sebagai rasul terakhir pembawa risalah Islam, Muhammad kecil telah lebih dulu mengenal kehilangan. Bahkan sebelum lahir ke dunia, ia sudah menjadi anak yatim.
Kisah ini menjadi salah satu babak paling menyentuh dalam sirah nabawiyah, sekaligus fondasi karakter yang kelak membentuk kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim Sayyidah Aminah binti Wahab di Mekah, dari kabilah besar Bani Hasyim.
Namun, kebahagiaan menyambut kelahirannya sudah diselimuti duka.
Dikutip dari NU Online, ketika usia kandungan Aminah baru menginjak enam bulan, sang suami, Abdullah bin Abdul Muththalib, dipanggil Allah SWT untuk selama-lamanya.
Abdullah wafat dalam perjalanan dagang, di Madinah (Yatsrib), saat singgah mengunjungi kerabat ibunya.
Hal ini menjadikan Nabi Muhammad SAW telah menyandang status yatim bahkan sebelum embusan napas pertamanya di dunia.
Baca juga: Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW dari Kelahiran hingga Wafat
Sesuai kebiasaan bangsawan Quraisy kala itu, bayi-bayi mereka lazim dititipkan kepada perempuan dari daerah pedalaman (badui) untuk disusui dan dirawat pada masa awal kehidupannya.
Tujuannya agar sang bayi tumbuh sehat jauh dari wabah penyakit perkotaan, sekaligus terlatih berbahasa Arab yang fasih sejak dini.
Setelah tujuh hari disusui langsung oleh ibu kandungnya, Muhammad kecil sempat disusukan sementara oleh Tsuwaibah al-Aslamiyah sebelum akhirnya diserahkan kepada Halimah as-Sa'diyah dari kabilah Bani Sa'ad.
Awalnya banyak perempuan penyusu enggan mengasuh Muhammad karena statusnya sebagai anak yatim. Mereka menganggap tidak akan mendapat imbalan yang layak dari keluarga tanpa sosok ayah.
Halimah, yang saat itu berasal dari keluarga sederhana dan belum kebagian bayi asuhan, akhirnya bersedia menerimanya.
Keputusan itu justru membawa keberkahan bagi keluarga Halimah. Kehidupan ekonomi mereka membaik, hewan ternak mereka lebih subur, dan kehadiran Muhammad kecil dirasakan penuh berkah oleh keluarga tersebut.
Muhammad tinggal dan diasuh oleh Halimah di perkampungan Bani Sa'ad selama sekitar empat hingga lima tahun, jauh dari hiruk-pikuk Kota Mekah.
Setelah masa pengasuhan bersama Halimah usai, Muhammad kecil kembali ke pangkuan ibunya, Aminah.
Ketika usianya menginjak enam tahun, sang ibu mengajaknya melakukan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Abdullah, ayahanda yang tak pernah sempat ia temui.
Perjalanan itu turut ditemani Ummu Aiman, pengasuh yang telah disiapkan Abdullah semasa hidupnya.
Namun, dalam perjalanan pulang menuju Mekah, tepatnya di sebuah daerah bernama Abwa', Aminah jatuh sakit dan wafat. Ia dimakamkan di tempat itu juga.
Duka yang belum lama mereda karena kehilangan ayah, kini bertambah dengan kepergian ibunda tercinta. Di usia yang masih sangat belia, Nabi Muhammad SAW resmi menyandang status yatim piatu.
Sepeninggal Aminah, pengasuhan Muhammad kecil dilanjutkan oleh sang kakek, Abdul Muththalib, pemuka Bani Hasyim yang sangat menyayanginya.
Namun kehilangan kembali datang ketika Abdul Muththalib wafat saat Muhammad berusia delapan tahun. Tanggung jawab pengasuhan pun beralih kepada pamannya, Abu Thalib, yang membesarkannya hingga dewasa.
Baca juga: Nama dan Gelar Nabi Muhammad SAW Beserta Maknanya
Di bawah asuhan Abu Thalib yang hidup sederhana, Muhammad kecil tumbuh menjadi anak yang mandiri.
Pada usia delapan tahun, ia mulai menggembala kambing, sebagian untuk meringankan beban ekonomi keluarga pamannya, sebagian lagi karena pekerjaan itu tidak membutuhkan modal serta memberi ruang baginya untuk merenung di alam terbuka.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bahkan menyebut bahwa setiap nabi yang diutus Allah pernah menggembala kambing, termasuk dirinya sendiri.
Ketika berusia dua belas tahun, Muhammad ikut serta dalam rombongan dagang Abu Thalib ke Syam (wilayah Suriah dan sekitarnya).
Pengalaman ini menjadi bekal penting yang kelak mengantarkannya dikenal sebagai pedagang jujur dan tepercaya, gelar yang kemudian melekat padanya sebagai "al-Amin".
Rangkaian kehilangan yang dialami Nabi Muhammad SAW sejak dalam kandungan hingga usia kanak-kanak bukan tanpa makna.
Sebagaimana diulas dalam kajian sirah nabawiyah, pengalaman kehilangan sosok-sosok terdekat sejak dini turut membentuk kepribadian Rasulullah yang penuh empati terhadap penderitaan orang lain, khususnya anak yatim dan kaum lemah.
Sebuah kajian akademik tentang sirah nabawiyah masa kanak-kanak Nabi Muhammad SAW dan relevansinya dengan konsep parenting Islam modern juga mencatat bahwa masa kecil Nabi, meski tidak utuh secara struktur keluarga, justru kaya akan nilai pengasuhan berbasis kasih sayang, tanggung jawab, dan tauhid.
Fase ini disebut sebagai bagian fundamental dalam pembentukan akhlak dan ketahanan psikososial yang kelak menopang kepemimpinan profetiknya.
Kepedulian mendalam Rasulullah terhadap anak yatim pun tergambar jelas dalam banyak hadis.
Rasul bersabda bahwa dirinya dan orang yang mengasuh anak yatim kelak akan berada berdampingan di surga, seperti eratnya dua jari yang dirapatkan.
Ungkapan ini bukan sekadar anjuran, melainkan cerminan pengalaman hidup yang benar-benar beliau rasakan sejak sebelum lahir ke dunia.
Kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW yang penuh ujian ini mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kemudahan.
Justru dari rangkaian kehilangan dan kesederhanaan hidup itulah, tumbuh sosok pemimpin yang kelak membawa cahaya bagi seluruh umat manusia.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT