Editor
KOMPAS.com — Manusia tidak seharusnya merasa paling mengetahui kualitas ibadah orang lain, apalagi sampai menghakimi hubungan seseorang dengan Allah SWT hanya berdasarkan apa yang terlihat.
Pesan tersebut disampaikan Dosen Kajian Islam dan Psikologi Pascasarjana SPPB Universitas Indonesia (UI), Thobib Al Asyhar, menanggapi sebuah video di media sosial yang memperlihatkan seorang jemaah memukul jemaah lain seusai shalat berjamaah.
Thobib mengatakan, berdasarkan sejumlah komentar warganet yang dibacanya, muncul dugaan bahwa pemukulan dipicu kekesalan karena jemaah tersebut terlihat terkantuk-kantuk saat shalat.
Baca juga: Muhammadiyah Serukan Infak Shalat Jumat untuk Korban Gempa Flores
Namun, terlepas dari penyebab sebenarnya dalam peristiwa tersebut, Thobib menilai ada persoalan lebih mendasar yang perlu menjadi renungan, yakni bagaimana seseorang memahami Tuhan dan kemudian memperlakukan sesamanya.
"Apakah Tuhan membutuhkan pembelaan dengan cara menyakiti manusia? Kenapa seseorang bisa berbuat jahat kepada sesamanya yang sedang beribadah?" kata Thobib dikutip dari kemenag.go.id, Minggu (23/8/2026).
Menurut Thobib, seseorang bisa saja memiliki anggapan bahwa ibadah kepada Allah harus selalu dilakukan secara sempurna.
Akibatnya, ketika melihat orang lain dianggap tidak menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, muncul keinginan untuk menghakimi.
Padahal, sambung dia, manusia tidak mengetahui kondisi sebenarnya yang sedang dialami orang tersebut.
Thobib mengingatkan manusia agar tidak mengambil alih hak Allah dalam menilai kualitas ibadah seseorang.
Ia mencontohkan seseorang yang terlihat mengantuk ketika shalat. Orang lain tidak mengetahui apa yang menyebabkan kondisi tersebut.
Bisa jadi orang tersebut kelelahan, sedang sakit, baru selesai bekerja, atau justru tengah berusaha keras melawan kantuk agar tetap dapat menjalankan shalat.
"Kita tidak tahu. Dan karena tidak tahu, jangan menjadi hakim. Apalagi merasa memiliki otoritas atas hubungan seseorang dengan Tuhannya," ujarnya.
Baca juga: Bolehkah Meninggalkan Shalat Jumat karena Pekerjaan? Ini Penjelasan Hukumnya
Menurut Thobib, manusia terkadang membentuk gambaran mengenai Tuhan berdasarkan watak dan cara berpikirnya sendiri.
Orang yang mudah marah, misalnya, dapat membayangkan Tuhan sebagai Zat yang mudah murka. Demikian pula orang yang gemar menghukum dapat memandang Tuhan seolah selalu mencari kesalahan manusia.
Padahal, Allah memperkenalkan diri-Nya melalui nama-nama yang menunjukkan kasih sayang, antara lain Ar-Rahman dan Ar-Rahim atau Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Karena itu, menurut Thobib, pemahaman terhadap sifat Allah semestinya juga tercermin dalam cara seseorang memperlakukan manusia lainnya.
Thobib kemudian mengingatkan ungkapan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang terkenal, "Tuhan tidak perlu dibela."
Menurut dia, ungkapan tersebut bukan berarti agama tidak perlu dijaga atau penghinaan terhadap agama harus dibiarkan.
Namun, menjaga kehormatan agama tidak dapat dilakukan dengan merendahkan martabat atau menyakiti manusia.
"Tuhan tetap Mahasuci. Tetap Mahamulia. Kemuliaan-Nya tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena manusia menghina-Nya," kata Thobib.
Menurutnya, Allah tidak membutuhkan manusia untuk membuat-Nya menjadi mulia. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan Allah.
Karena itu, hal yang perlu diperbaiki adalah cara manusia memahami Tuhan.
Thobib juga mengingatkan pentingnya husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah.
Hal tersebut salah satunya tercermin dalam hadis yang menyebutkan:
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku." (HR Bukhari dan Muslim).
Menurut Thobib, hadis tersebut mengajarkan agar manusia tidak mudah menganggap Allah meninggalkannya ketika menghadapi kesulitan.
Al-Qur'an juga mengingatkan manusia agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Allah SWT berfirman:
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS Az-Zumar: 53).
Thobib mengatakan, sebesar apa pun kesalahan manusia, rahmat Allah tetap terbuka. Demikian pula ketika seseorang menghadapi kesulitan, pintu harapan tidak seharusnya tertutup.
Karena itu, kehidupan beragama membutuhkan optimisme yang dibangun atas keyakinan terhadap sifat Allah Yang Mahaadil, Maha Pengasih, dan Mahabijaksana.
Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa manusia dapat membenci sesuatu padahal hal tersebut baik baginya. Sebaliknya, sesuatu yang disukai manusia belum tentu baik baginya sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 216.
Menurut Thobib, kegagalan dapat menjadi pelajaran, kehilangan bisa membawa manusia menemukan sesuatu yang lebih baik, sementara kesulitan dapat menjadi jalan untuk mendewasakan seseorang.
Pemahaman mengenai kasih sayang Allah, kata Thobib, semestinya membuat manusia lebih mampu memahami kelemahan orang lain.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.
Karena itu, manusia tidak seharusnya membayangkan Allah sebagai Zat yang hanya menunggu kesalahan hamba-Nya untuk memberikan hukuman.
Allah membuka pintu taubat, menerima doa, serta memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri.
Hal serupa seharusnya tercermin dalam hubungan antarmanusia.
Thobib mencontohkan seseorang tidak seharusnya mudah menilai buruk pekerja yang terlihat tidak berpuasa pada bulan Ramadhan atau orang yang tidak menjalankan ibadah sebagaimana dirinya.
Sebab, manusia hanya dapat melihat apa yang tampak tanpa mengetahui keseluruhan kehidupan dan kondisi orang tersebut.
"Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Kita hanya melihat permukaannya. Allah melihat seluruhnya. Karena itu, jangan mengambil alih pekerjaan Tuhan," ujarnya.
Thobib mengatakan, pada dasarnya setiap manusia datang kepada Allah dengan berbagai kelemahan dan ketidaksempurnaan.
Seseorang dapat menjalankan shalat tetapi pikirannya sesekali tidak fokus. Ada pula yang berdoa dengan hati yang belum sepenuhnya khusyuk, berpuasa tetapi masih mudah marah, atau membaca Al-Qur'an tetapi masih kerap melakukan kesalahan.
Meski demikian, pintu untuk mendekat kepada Allah tetap terbuka.
Karena itu, menurut Thobib, tugas seorang Muslim bukan menjadi hakim atas kualitas ibadah orang lain, melainkan terus memperbaiki dirinya sendiri.
"Mungkin, sebelum kita belajar menilai orang lain, kita perlu belajar memperbaiki cara kita memandang Tuhan. Sebab, cara kita memandang Tuhan akan sangat menentukan cara kita memperlakukan manusia," kata Thobib.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT