Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar Berprasangka Baik kepada Allah dan Sesama

Kompas.com, 23 Agustus 2026, 08:30 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com — Manusia tidak seharusnya merasa paling mengetahui kualitas ibadah orang lain, apalagi sampai menghakimi hubungan seseorang dengan Allah SWT hanya berdasarkan apa yang terlihat.

Pesan tersebut disampaikan Dosen Kajian Islam dan Psikologi Pascasarjana SPPB Universitas Indonesia (UI), Thobib Al Asyhar, menanggapi sebuah video di media sosial yang memperlihatkan seorang jemaah memukul jemaah lain seusai shalat berjamaah.

Thobib mengatakan, berdasarkan sejumlah komentar warganet yang dibacanya, muncul dugaan bahwa pemukulan dipicu kekesalan karena jemaah tersebut terlihat terkantuk-kantuk saat shalat.

Baca juga: Muhammadiyah Serukan Infak Shalat Jumat untuk Korban Gempa Flores

Namun, terlepas dari penyebab sebenarnya dalam peristiwa tersebut, Thobib menilai ada persoalan lebih mendasar yang perlu menjadi renungan, yakni bagaimana seseorang memahami Tuhan dan kemudian memperlakukan sesamanya.

"Apakah Tuhan membutuhkan pembelaan dengan cara menyakiti manusia? Kenapa seseorang bisa berbuat jahat kepada sesamanya yang sedang beribadah?" kata Thobib dikutip dari kemenag.go.id, Minggu (23/8/2026).

Menurut Thobib, seseorang bisa saja memiliki anggapan bahwa ibadah kepada Allah harus selalu dilakukan secara sempurna.

Akibatnya, ketika melihat orang lain dianggap tidak menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, muncul keinginan untuk menghakimi.

Padahal, sambung dia, manusia tidak mengetahui kondisi sebenarnya yang sedang dialami orang tersebut.

Jangan Mengambil Alih Hak Tuhan

Thobib mengingatkan manusia agar tidak mengambil alih hak Allah dalam menilai kualitas ibadah seseorang.

Ia mencontohkan seseorang yang terlihat mengantuk ketika shalat. Orang lain tidak mengetahui apa yang menyebabkan kondisi tersebut.

Bisa jadi orang tersebut kelelahan, sedang sakit, baru selesai bekerja, atau justru tengah berusaha keras melawan kantuk agar tetap dapat menjalankan shalat.

"Kita tidak tahu. Dan karena tidak tahu, jangan menjadi hakim. Apalagi merasa memiliki otoritas atas hubungan seseorang dengan Tuhannya," ujarnya.

Baca juga: Bolehkah Meninggalkan Shalat Jumat karena Pekerjaan? Ini Penjelasan Hukumnya

Menurut Thobib, manusia terkadang membentuk gambaran mengenai Tuhan berdasarkan watak dan cara berpikirnya sendiri.

Orang yang mudah marah, misalnya, dapat membayangkan Tuhan sebagai Zat yang mudah murka. Demikian pula orang yang gemar menghukum dapat memandang Tuhan seolah selalu mencari kesalahan manusia.

Padahal, Allah memperkenalkan diri-Nya melalui nama-nama yang menunjukkan kasih sayang, antara lain Ar-Rahman dan Ar-Rahim atau Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Karena itu, menurut Thobib, pemahaman terhadap sifat Allah semestinya juga tercermin dalam cara seseorang memperlakukan manusia lainnya.

Tuhan Tidak Perlu Dibela dengan Kekerasan

Thobib kemudian mengingatkan ungkapan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang terkenal, "Tuhan tidak perlu dibela."

Menurut dia, ungkapan tersebut bukan berarti agama tidak perlu dijaga atau penghinaan terhadap agama harus dibiarkan.

Namun, menjaga kehormatan agama tidak dapat dilakukan dengan merendahkan martabat atau menyakiti manusia.

"Tuhan tetap Mahasuci. Tetap Mahamulia. Kemuliaan-Nya tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena manusia menghina-Nya," kata Thobib.

Menurutnya, Allah tidak membutuhkan manusia untuk membuat-Nya menjadi mulia. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan Allah.

Karena itu, hal yang perlu diperbaiki adalah cara manusia memahami Tuhan.

Pentingnya Berprasangka Baik kepada Allah

Thobib juga mengingatkan pentingnya husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah.
Hal tersebut salah satunya tercermin dalam hadis yang menyebutkan:

"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku." (HR Bukhari dan Muslim).

Menurut Thobib, hadis tersebut mengajarkan agar manusia tidak mudah menganggap Allah meninggalkannya ketika menghadapi kesulitan.

Al-Qur'an juga mengingatkan manusia agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Allah SWT berfirman:

"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS Az-Zumar: 53).

Thobib mengatakan, sebesar apa pun kesalahan manusia, rahmat Allah tetap terbuka. Demikian pula ketika seseorang menghadapi kesulitan, pintu harapan tidak seharusnya tertutup.

Karena itu, kehidupan beragama membutuhkan optimisme yang dibangun atas keyakinan terhadap sifat Allah Yang Mahaadil, Maha Pengasih, dan Mahabijaksana.

Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa manusia dapat membenci sesuatu padahal hal tersebut baik baginya. Sebaliknya, sesuatu yang disukai manusia belum tentu baik baginya sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 216.

Menurut Thobib, kegagalan dapat menjadi pelajaran, kehilangan bisa membawa manusia menemukan sesuatu yang lebih baik, sementara kesulitan dapat menjadi jalan untuk mendewasakan seseorang.

Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain

Pemahaman mengenai kasih sayang Allah, kata Thobib, semestinya membuat manusia lebih mampu memahami kelemahan orang lain.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.

Karena itu, manusia tidak seharusnya membayangkan Allah sebagai Zat yang hanya menunggu kesalahan hamba-Nya untuk memberikan hukuman.

Allah membuka pintu taubat, menerima doa, serta memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri.

Hal serupa seharusnya tercermin dalam hubungan antarmanusia.

Thobib mencontohkan seseorang tidak seharusnya mudah menilai buruk pekerja yang terlihat tidak berpuasa pada bulan Ramadhan atau orang yang tidak menjalankan ibadah sebagaimana dirinya.

Sebab, manusia hanya dapat melihat apa yang tampak tanpa mengetahui keseluruhan kehidupan dan kondisi orang tersebut.

"Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Kita hanya melihat permukaannya. Allah melihat seluruhnya. Karena itu, jangan mengambil alih pekerjaan Tuhan," ujarnya.

Semua Manusia Beribadah dengan Ketidaksempurnaan

Thobib mengatakan, pada dasarnya setiap manusia datang kepada Allah dengan berbagai kelemahan dan ketidaksempurnaan.

Seseorang dapat menjalankan shalat tetapi pikirannya sesekali tidak fokus. Ada pula yang berdoa dengan hati yang belum sepenuhnya khusyuk, berpuasa tetapi masih mudah marah, atau membaca Al-Qur'an tetapi masih kerap melakukan kesalahan.

Meski demikian, pintu untuk mendekat kepada Allah tetap terbuka.

Karena itu, menurut Thobib, tugas seorang Muslim bukan menjadi hakim atas kualitas ibadah orang lain, melainkan terus memperbaiki dirinya sendiri.

"Mungkin, sebelum kita belajar menilai orang lain, kita perlu belajar memperbaiki cara kita memandang Tuhan. Sebab, cara kita memandang Tuhan akan sangat menentukan cara kita memperlakukan manusia," kata Thobib.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
 Apa Itu Riya? Pengertian, Contoh, Bahaya, dan Cara Menghindarinya
Apa Itu Riya? Pengertian, Contoh, Bahaya, dan Cara Menghindarinya
Aktual
Kemenag Siapkan 25 Calon Anggota Majelis Masyayikh Periode 2026–2031
Kemenag Siapkan 25 Calon Anggota Majelis Masyayikh Periode 2026–2031
Aktual
Qari Indonesia Muhammad Fauji Ridwan Juara I Tilawah Internasional di Kuala Lumpur
Qari Indonesia Muhammad Fauji Ridwan Juara I Tilawah Internasional di Kuala Lumpur
Aktual
5 Tantangan Penyuluh Agama Islam, dari Krisis Global, AI, hingga Perubahan Kondisi Sosial
5 Tantangan Penyuluh Agama Islam, dari Krisis Global, AI, hingga Perubahan Kondisi Sosial
Aktual
Kemenag Lakukan Rukyatulhilal Awal Jumadil Awal 1448 H, Hilal Tak Terlihat di Jakarta
Kemenag Lakukan Rukyatulhilal Awal Jumadil Awal 1448 H, Hilal Tak Terlihat di Jakarta
Aktual
Kemenhaj Pastikan Tidak Ada Jemaah Umrah Terdampak Situasi di Arab Saudi, Imbau untuk Tetap Tenang
Kemenhaj Pastikan Tidak Ada Jemaah Umrah Terdampak Situasi di Arab Saudi, Imbau untuk Tetap Tenang
Aktual
Respons Situasi di Arab Saudi, Ini Imbauan Resmi Kemenhaj untuk Jemaah Umrah
Respons Situasi di Arab Saudi, Ini Imbauan Resmi Kemenhaj untuk Jemaah Umrah
Aktual
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Aktual
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Aktual
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Aktual
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Aktual
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Aktual
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Aktual
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Aktual
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar