Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Masjid tidak hanya menjadi tempat umat Islam menjalankan ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang perjumpaan, penyelesaian perbedaan, hingga membangun perdamaian.
Teladan tersebut pernah ditunjukkan Nabi Muhammad SAW ketika menerima rombongan Kristen Najran di Masjid Nabawi, Madinah.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Arsad Hidayat mengatakan, peristiwa yang terjadi pada 9 Hijriah tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai ruang moderasi dan diplomasi damai.
Hal itu disampaikan Arsad dalam seminar nasional “Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026” di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Minggu (23/8/2026).
Baca juga: Seperti Apa Nabi Muhammad ketika Marah?
Menurut Arsad, Rasulullah SAW menerima rombongan Kristen Najran di Masjid Nabawi dan mempersilakan mereka menjalankan ibadah.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa masjid dapat memiliki peran lebih luas dalam membangun hubungan di tengah perbedaan.
Arsad mengatakan, diplomasi tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara. Dalam lingkup masjid, diplomasi dapat dimaknai sebagai kemampuan mengelola perbedaan secara bijak.
Ia menyebut tiga tahapan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan perbedaan, yakni tabayun, musyawarah, dan islah.
Tabayun dilakukan dengan mengklarifikasi persoalan sebelum memberikan penilaian. Jika persoalan berlanjut, penyelesaiannya ditempuh melalui musyawarah.
Sementara itu, apabila konflik telah terjadi, langkah yang dikedepankan adalah islah atau rekonsiliasi.
“Jangan langsung menilai ketika muncul persoalan. Lakukan tabayun terlebih dahulu, kemudian musyawarahkan persoalannya. Jika sudah terjadi konflik, maka yang dikedepankan adalah islah atau rekonsiliasi,” kata Arsad.
Baca juga: Nabi Muhammad Menjadi Yatim Sejak dalam Kandungan, Begini Masa Kecil Rasulullah
Pendekatan tersebut, lanjut Arsad, perlu didukung dengan edukasi moderasi beragama di lingkungan masjid.
Kajian dan kegiatan keagamaan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga menanamkan toleransi, ukhuwah, akhlak, dan penghormatan terhadap perbedaan.
“Dakwah di masjid harus menghadirkan kesejukan dan membangun ukhuwah. Materi yang disampaikan jangan sampai justru menjadi pemicu permusuhan atau memperlebar perbedaan di tengah jamaah,” ujarnya.
Selain kemampuan mengelola perbedaan, Arsad menilai transparansi pengelolaan masjid menjadi kunci menjaga kepercayaan jamaah.
Pengurus perlu menyampaikan pengelolaan keuangan dan program secara terbuka agar jamaah mengetahui bagaimana masjid dikelola sekaligus dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatannya.
“Kepercayaan jamaah dibangun dari keterbukaan. Ketika keuangan dan program dikelola secara transparan, jamaah akan merasa dilibatkan dan memiliki kepercayaan terhadap pengurus,” tutur Arsad dikutip dari laman kemenag.go.id.
Dengan tata kelola tersebut, masjid diharapkan mampu menghadirkan nilai-nilai universal yang melampaui perbedaan kelompok.
Masjid yang moderat dan damai, kata Arsad, harus mampu menjadi pusat persatuan umat, menebarkan rahmat bagi lingkungan, serta mendorong harmoni sosial di masyarakat.
“Masjid yang dikelola dengan moderasi dan diplomasi damai bukan hanya menyelesaikan persoalan di dalam masjid, tetapi juga dapat memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Arsad mengatakan, kemampuan mengelola perbedaan di tingkat masjid sejalan dengan semangat International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang mengangkat tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace”.
Forum tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai peran imam dan masjid dalam membangun harmoni, moderasi, serta perdamaian.
Karena itu, menurut Arsad, pengelolaan masjid tidak cukup hanya memastikan kegiatan ibadah berjalan.
Pengurus juga perlu memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, edukasi moderasi, serta manajemen konflik agar masjid mampu menjadi ruang yang menyatukan perbedaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pada akhirnya, masjid harus menghadirkan rasa aman, nyaman, dan damai bagi jamaah. Masjid harus menjadi tempat orang menemukan persaudaraan dan solusi, bukan tempat berkembangnya konflik,” pungkas Arsad.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT