KOMPAS.com- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali menjadi perhatian umat Islam setiap memasuki bulan Rabiul Awal. Selain mencari sejarah dan makna Maulid Nabi, sebagian masyarakat juga mencari dalil dan hadis yang menjadi dasar peringatannya.
Dalam pembahasan mengenai Maulid Nabi, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Sebab, tidak terdapat hadis yang secara khusus memerintahkan umat Islam untuk mengadakan peringatan Maulid Nabi dalam bentuk acara tertentu.
Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, misalnya, menjelaskan bahwa tidak ditemukan dalil yang secara langsung memerintahkan ataupun melarang penyelenggaraan Maulid Nabi. Karena itu, persoalan tersebut termasuk perkara ijtihadiyah.
Sementara itu, sejumlah ulama membolehkan peringatan Maulid selama kegiatan yang dilakukan di dalamnya berisi kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat.
Baca juga: Memperingati Maulid Nabi: Ini 20 Quotes Islami Ucapan Maulid 2026
Peringatan Maulid Nabi dalam bentuk kegiatan bersama seperti yang dikenal masyarakat saat ini tidak dilakukan pada masa Rasulullah SAW maupun para sahabat.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan munculnya perbedaan pendapat mengenai hukum peringatan Maulid Nabi.
Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih menjelaskan bahwa tidak terdapat dalil khusus mengenai perintah menyelenggarakan Maulid Nabi.
Namun, apabila masyarakat menyelenggarakannya, kegiatan tersebut dapat diarahkan untuk kemaslahatan, seperti meningkatkan keimanan, mengenalkan kehidupan Rasulullah, dan meneladani akhlaknya.
Pandangan tersebut dimuat dalam penjelasan resmi Majelis Tarjih Muhammadiyah mengenai hukum mengadakan peringatan Maulid Nabi.
Baca juga: Amalan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Doa dan Selawatnya
Salah satu hadis yang kerap dibahas dalam pembahasan Maulid adalah hadis mengenai puasa Nabi Muhammad SAW pada hari Senin.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai alasan beliau berpuasa pada hari Senin.
Beliau menjawab bahwa hari tersebut merupakan hari ketika beliau dilahirkan dan hari ketika wahyu diturunkan kepadanya.
Hadis tersebut menjadi salah satu dasar yang digunakan sebagian ulama dalam menjelaskan bahwa mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat menjadi bagian dari ungkapan syukur.
Namun, hadis tersebut secara langsung berbicara mengenai puasa hari Senin, bukan perintah untuk mengadakan perayaan Maulid dengan bentuk tertentu.
Selain hadis mengenai hari kelahiran Rasulullah, Al-Qur'an juga memberikan dasar mengenai pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanatul liman kāna yarjullāha wal-yaumil ākhira wa żakarallāha katsīrā
Artinya: “Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Ayat tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak berhenti pada peringatan kelahirannya. Umat Islam juga perlu berusaha mengikuti akhlak dan ajaran beliau.
Sebagian ulama yang membolehkan Maulid juga menggunakan Surat Yunus ayat 58 sebagai salah satu landasan umum.
Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fabiżālika fal-yafraḥū.
Artinya: “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.’”
Sejumlah ulama menafsirkan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam berdasarkan Surat Al-Anbiya ayat 107.
Dari sini, sebagian ulama memandang kegembiraan atas kelahiran Nabi dapat menjadi bagian dari ungkapan syukur. Pandangan ini antara lain dijelaskan dalam kajian NU Online mengenai dalil peringatan Maulid.
Perbedaan pandangan mengenai hukum Maulid tidak mengubah pentingnya menjaga isi kegiatan agar tetap sesuai dengan ajaran Islam.
Majelis Tarjih Muhammadiyah menyebut kegiatan Maulid dapat diarahkan untuk dakwah, meningkatkan iman dan takwa, serta menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, kegiatan seperti membaca Al-Qur'an, berselawat, mengkaji sirah Nabi, mendengarkan ceramah agama, dan berbagi kepada sesama dapat menjadi bagian dari kegiatan Maulid.
Pada akhirnya, tidak terdapat satu hadis yang secara khusus memerintahkan pelaksanaan perayaan Maulid Nabi dalam bentuk tertentu.
Namun, terdapat dalil-dalil umum mengenai kecintaan kepada Rasulullah, keteladanan beliau, selawat, serta amal kebaikan yang dapat menjadi bagian dari momentum Maulid.
Dengan memahami perbedaan pandangan tersebut, umat Islam dapat memperingati Maulid dengan tetap menghormati perbedaan pendapat dan mengutamakan kegiatan yang membawa kemaslahatan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT