Editor
KOMPAS.com — Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kesehatan dapat terganggu, kondisi ekonomi berubah, keluarga menghadapi persoalan, hingga masa depan terasa tidak pasti.
Dalam situasi seperti itu, seorang Muslim dituntut tetap berpegang pada keimanan, sekaligus tidak berhenti berusaha menghadapi persoalan yang datang.
Dewan Pakar Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah Untung Cahyono mengatakan, menjalankan ajaran Islam memang terasa lebih mudah ketika kehidupan berada dalam keadaan baik, kebutuhan tercukupi, tubuh sehat, dan keluarga dalam kondisi tenang.
Namun, keadaan tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.
Baca juga: Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW dari Kelahiran hingga Wafat
Seseorang yang biasanya memiliki waktu cukup untuk beribadah, misalnya, dapat menghadapi keadaan berbeda ketika anggota keluarganya sakit dan membutuhkan perhatian.
"Berislam dalam kondisi yang seperti itu menjadi tidak mudah," kata Untung dikutip dari laman Muhammadiyah, Jumat (28/8/2026).
Lantas, bagaimana seorang Muslim menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian?
Menurut Untung, salah satu bekal menghadapi ketidakpastian adalah menyadari bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan terus mengalami perubahan.
Apa yang hari ini terasa nyaman dan stabil dapat berubah pada waktu lainnya.
Harta, kendaraan, rumah, fasilitas, jabatan, maupun berbagai kesenangan dunia memiliki keterbatasan.
"Dunia itu bersifat sementara dan penuh perubahan," ujarnya.
Karena itu, manusia diingatkan agar tidak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan.
Harta, jabatan, popularitas, maupun kepuasan materi dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi semuanya dapat berubah, hilang, rusak, dan pada akhirnya ditinggalkan.
Untung merujuk Surah An-Nahl ayat 96:
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
Artinya:
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal."
Menurut Untung, ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak menggantungkan seluruh orientasi hidupnya kepada sesuatu yang bersifat sementara.
Baca juga: 10 Amalan Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari yang Patut Diteladani
Kesadaran bahwa dunia selalu berubah juga berkaitan dengan cara seorang Muslim memahami ujian kehidupan.
Untung mengatakan, ketidakpastian tidak semata-mata menjadi sesuatu yang perlu ditakuti, tetapi juga dapat menjadi ujian bagi kualitas keimanan seseorang.
Ia merujuk Surah Al-Ankabut ayat 2 yang menjelaskan bahwa manusia tidak cukup hanya mengatakan dirinya beriman tanpa mengalami ujian.
Ujian tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari ketakutan, kekurangan harta, kehilangan orang yang dicintai, persoalan kesehatan, hingga kesulitan hidup lainnya.
"Ketidakpastian adalah ujian untuk menguji kualitas iman manusia," katanya.
Karena itu, yang terpenting bukan sekadar menghindari ujian, melainkan bagaimana seseorang menghadapi, menjalani, dan mengambil pelajaran darinya dengan kesabaran.
Untung kemudian menghubungkan ketidakpastian kehidupan dengan keimanan terhadap qada dan qadar.
Menurut dia, iman kepada takdir semestinya memberikan ketenangan kepada seorang Muslim dalam menghadapi berbagai peristiwa kehidupan.
Namun, keyakinan terhadap takdir tidak boleh membuat seseorang menjadi pasif dan berhenti berusaha.
"Iman kepada takdir bukan berarti diam tanpa usaha," tegasnya.
Seorang Muslim tetap memiliki kewajiban untuk bekerja, berusaha, berhati-hati, mencari jalan keluar, dan berdoa.
Tawakal dilakukan setelah seseorang menjalankan ikhtiar dengan sungguh-sungguh, bukan dijadikan alasan untuk meninggalkan usaha.
Sikap pasrah tanpa ikhtiar, menurut Untung, justru perlu dihindari, terutama apabila berkembang di kalangan generasi muda.
Seseorang tidak seharusnya hanya menunggu keadaan berubah dengan alasan semua telah ditentukan.
Manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan. Setelah ikhtiar dilakukan, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
Menurut Untung, iman kepada qada dan qadar dapat menumbuhkan kesabaran dan ketabahan ketika seseorang menghadapi musibah.
Keimanan juga dapat melahirkan kerendahan hati ketika memperoleh keberhasilan serta menjaga optimisme ketika mengalami kegagalan.
Sebab, kesulitan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan.
Seseorang mungkin mengalami kegagalan, kehilangan, maupun kenyataan yang berbeda dari rencana. Namun, hal tersebut tidak seharusnya membuatnya berhenti berusaha dan kehilangan harapan.
Pada akhirnya, menghadapi ketidakpastian bukan berarti mengetahui seluruh hal yang akan terjadi di masa depan.
Seorang Muslim dapat terus melakukan ikhtiar terbaik, berdoa, serta menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Dengan demikian, iman kepada takdir tidak mematikan usaha, tetapi menjadi pegangan agar manusia tetap tenang ketika hasil kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT