KOMPAS.com — Congklak, bola bekel, kelereng, hingga lato-lato menjadi bagian dari cara Muhammadiyah memperkenalkan budaya Indonesia dalam East London Mosque Science Fair 2026 di London Muslim Centre, London, Inggris, Sabtu (29/8/2026).
Tak hanya permainan tradisional, Muhammadiyah juga membawa inovasi digital berupa terapi remediasi kognitif berbasis gim seluler.
Perpaduan budaya dan teknologi tersebut ditampilkan di tengah pameran sains yang dihadiri lebih dari 3.000 pengunjung dari berbagai usia dan latar belakang.
Baca juga: EMT Muhammadiyah Sebut Korban Gempa NTT Mulai Alami Infeksi Saluran Pernapasan
East London Mosque Science Fair 2026 mengusung tema “Sparking a New Generation of Muslim Scientists”. Dalam ajang tersebut, Muhammadiyah menjadi satu-satunya organisasi Islam dari kawasan Asia Tenggara yang berpartisipasi.
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya & Irlandia Ince Dian Aprilyani Azir mengatakan, partisipasi tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan sains dan teknologi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa permainan tradisional seperti congklak, bola bekel, kelereng, dan lato-lato bukan sekadar nostalgia, tapi warisan budaya yang tetap relevan dan menarik bagi masyarakat dunia,” ujar Ince Dian dalam rilisnya, Rabu (2/9/2026).
Baca juga: Muhammadiyah Ucapkan Selamat ke Pimpinan Baru PBNU, Haedar: Perkuat Ukhuwah
Sejumlah permainan tradisional yang ditampilkan antara lain congklak, bola bekel, kelereng, dan lato-lato.
Permainan tersebut disiapkan dan dikirim dari kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta untuk mendukung partisipasi PCIM Britania Raya & Irlandia dalam kegiatan tersebut.
Para pengunjung diajak mencoba langsung permainan yang telah lama menjadi bagian dari keseharian anak-anak di Indonesia.
Melalui permainan tersebut, pengunjung tidak hanya diperkenalkan pada budaya Indonesia, tetapi juga nilai kebersamaan dan interaksi sosial yang tumbuh dalam permainan tradisional.
Menurut Ince Dian, permainan tradisional tetap dapat diperkenalkan kepada generasi saat ini meskipun perkembangan teknologi telah mengubah cara anak-anak bermain.
Ia menilai kehadiran Muhammadiyah dalam ajang tersebut juga menjadi kesempatan memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang ramah, terbuka, dan dekat dengan kebudayaan.
Baca juga: 6 Prinsip dan Karakter Kepemimpinan Muhammadiyah Menurut Haedar Nashir
Di sisi lain, Muhammadiyah turut menampilkan inovasi berbasis teknologi digital.
Inovasi tersebut berupa terapi remediasi kognitif berbasis gim seluler atau gamification yang dikembangkan untuk membantu mencegah penurunan fungsi kognitif.
Agenda tersebut dipimpin Sekretaris Majelis Pendidikan, Penelitian, dan Kebudayaan PCIM Britania Raya & Irlandia Thareq Barasabha yang saat ini menempuh studi doktoral di University of Oxford.
Menurut Thareq, gim tersebut dirancang untuk mendukung penanganan gangguan kognitif ringan hingga demensia stadium awal.
“Alhamdulillah, riset ini menjadi salah satu daya tarik utama di stan Muhammadiyah. Ini menunjukkan bagaimana penelitian akademik dan teknologi digital dapat dihadirkan dalam bentuk yang aplikatif dan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat,” ujar Thareq.
Kehadiran inovasi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana penelitian akademik dapat dikembangkan menjadi teknologi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Partisipasi Muhammadiyah dalam East London Mosque Science Fair juga melibatkan sejumlah pengurus PCIM Britania Raya & Irlandia.
Mereka antara lain Rifqi Ikhwanuddin dari Majelis Pendidikan, Penelitian, dan Kebudayaan serta Izuddin Al Farras dari Majelis Ekonomi, Kelembagaan, dan Amal Usaha.
Bagi PCIM Britania Raya & Irlandia, keterlibatan dalam kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan organisasi, tetapi juga budaya, penelitian, dan inovasi yang dikembangkan warga Indonesia di luar negeri.
Di tengah tema pameran yang mendorong lahirnya generasi baru ilmuwan Muslim, congklak dan permainan tradisional Indonesia hadir berdampingan dengan teknologi berbasis gim digital.
Perpaduan tersebut menjadi salah satu cara Muhammadiyah memperkenalkan Indonesia melalui budaya sekaligus menunjukkan kontribusi kadernya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT