KOMPAS.com — Anak-anak saat ini tidak lagi hanya belajar dari orangtua dan guru. Media sosial, influencer, gim, hingga kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi pengetahuan, perilaku, bahkan cara mereka memandang dunia.
Di tengah perubahan tersebut, orangtua perlu memperkuat kembali perannya sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Salah satu caranya bukan dengan memperbanyak larangan, melainkan memberikan keteladanan.
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mhd. Lailan Arqam mengatakan, salah satu tantangan keluarga saat ini adalah krisis keteladanan.
Baca juga: Quality Time Saja Tak Cukup, Ini Pentingnya Quantity Time Bersama Anak
Menurutnya, anak membutuhkan figur yang dapat dicontoh, bukan hanya aturan yang mengendalikan perilakunya.
Keteladanan tersebut dapat dibangun melalui kehidupan sehari-hari, mulai dari ibadah, komunikasi dalam keluarga, penggunaan teknologi, akhlak, hingga kemauan orangtua untuk terus belajar.
Berikut lima bentuk keteladanan yang dapat dibangun orangtua dalam mendidik anak di era digital.
Keteladanan dapat dimulai dari kehidupan spiritual di rumah. Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari perilaku orangtua yang mereka lihat setiap hari.
Ketika orangtua menjaga salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan menjadikan ibadah sebagai bagian dari keseharian keluarga, anak dapat mengenal nilai-nilai agama melalui pengalaman langsung.
Lailan menilai pendidikan karakter yang kuat dapat tumbuh dari contoh nyata yang dilakukan orangtua secara konsisten di rumah.
Dengan demikian, orangtua tidak hanya meminta anak beribadah, tetapi terlebih dahulu memperlihatkan bagaimana ibadah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Cegah Anak Salah Pergaulan, Ini Pentingnya “Kurikulum Keluarga”
Keteladanan juga dapat dibangun melalui komunikasi antara orangtua dan anak.
Di tengah kesibukan dan penggunaan perangkat digital, orangtua perlu menyediakan ruang bagi anak untuk berbicara tanpa merasa dihakimi.
Lailan mendorong keluarga meluangkan waktu setiap hari untuk berdialog tanpa gangguan telepon genggam.
Percakapan sederhana saat makan, sebelum tidur, atau dalam perjalanan dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk menceritakan pengalaman dan persoalan yang dihadapinya.
Komunikasi yang hangat juga membantu orangtua memahami dunia anak, termasuk pergaulan dan aktivitas mereka di ruang digital.
Meminta anak mengurangi waktu menggunakan gawai akan sulit dilakukan apabila orangtua sendiri terus menggunakan telepon genggam ketika sedang bersama keluarga.
Karena itu, menurut Lailan, keteladanan perlu dimulai dari cara orangtua menggunakan teknologi.
Orangtua dapat memberikan contoh sederhana, seperti meletakkan gawai ketika makan bersama, tidak terus-menerus membuka media sosial ketika berbicara dengan anak, serta memanfaatkan internet untuk kegiatan yang bermanfaat.
Dengan melihat perilaku tersebut, anak dapat belajar bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya, tetapi perlu digunakan secara bijak dan proporsional.
Persoalan utamanya bukan sekadar berapa lama anak menggunakan teknologi, melainkan bagaimana keluarga membangun kebiasaan digital yang sehat.
Keteladanan tidak berhenti pada ibadah. Cara orangtua berbicara, meminta maaf, menghargai pasangan, memperlakukan orang lain, hingga menyelesaikan konflik juga menjadi pelajaran bagi anak.
Lailan mengingatkan orangtua agar tidak menuntut anak melakukan perilaku yang justru tidak mereka contohkan.
Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaff ayat 2-3:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2-3).
Ayat tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.
Dalam pengasuhan, sikap jujur, santun, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain akan lebih mudah dipelajari anak ketika mereka melihatnya langsung dalam keseharian orangtua.
Perubahan teknologi berlangsung cepat sehingga orangtua tidak selalu lebih mengetahui dunia digital dibandingkan anak.
Namun, orangtua tidak harus mengetahui semuanya. Yang diperlukan adalah kemauan untuk terus belajar dan memahami dunia yang sedang dihadapi anak.
Orangtua dapat mulai mengenal media sosial yang digunakan anak, memahami gim yang dimainkan, hingga mempelajari perkembangan AI.
Dengan demikian, percakapan mengenai teknologi tidak hanya berbentuk larangan, tetapi juga dialog.
Pendekatan tersebut dapat membuat anak merasa didampingi, bukan sekadar diawasi.
Lailan menegaskan, perubahan dalam pendidikan keluarga juga perlu dimulai dari orangtua sebagai pendidik pertama di rumah.
Ketika orangtua terus belajar sekaligus memberikan contoh dalam ibadah, akhlak, komunikasi, dan penggunaan teknologi, anak memiliki figur nyata yang dapat dijadikan rujukan di tengah banyaknya pengaruh yang mereka temui di dunia digital.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT