KOMPAS.com — Supangat (51), anggota Provost Barisan Ansor Serbaguna (Banser) PAC GP Ansor Wonosalam, Jombang, meninggal dunia setelah menuntaskan tugas pengamanan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya, Pimpinan Pusat GP Ansor akan menanggung biaya pendidikan anak kedua Supangat hingga jenjang perguruan tinggi.
"Insya Allah pendidikan anak beliau menjadi tanggung jawab kami hingga perguruan tinggi," kata Ketua Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin dalam rilisnya, Jumat (4/9/2026).
Menurut Addin, perhatian terhadap keluarga kader yang meninggal setelah menjalankan tugas organisasi merupakan bagian dari tanggung jawab GP Ansor.
Ia berharap anak Supangat tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan dan meraih cita-citanya setelah kehilangan sang ayah.
Baca juga: Keputusan Fiqih Bisa Ditinjau Kembali, Muktamar NU Sahkan Mekanismenya
Supangat meninggal dunia pada Senin (31/8/2026) sekitar pukul 02.00 WIB ketika beristirahat di rumahnya.
Sebelumnya, ia baru menyelesaikan rangkaian tugas pengamanan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Ketua PAC GP Ansor Wonosalam Wawan mengatakan, Supangat telah terlibat dalam pengamanan sejak Apel Siaga Banser hingga menjelang penutupan Muktamar.
Selama kegiatan berlangsung, ia bertugas menjaga sejumlah titik pengamanan bersama anggota Banser lainnya.
Menurut Wawan, Supangat sebenarnya masih ingin berada di lokasi hingga Muktamar selesai. Namun, rekan-rekannya menyarankan ia pulang karena telah memasuki pergantian jadwal tugas.
"Sebenarnya beliau menginginkan menginap sampai hari penutupan Muktamar. Tapi sama sahabat yang lain diajak pulang saja karena sudah pergantian shift," ujar Wawan.
Supangat kemudian pulang dan tiba di rumah menjelang Maghrib.
Meski sudah berada di rumah, ia masih sempat berkomunikasi dengan anggota Banser untuk membicarakan persiapan pengamanan agenda penutupan Muktamar pada hari berikutnya.
Namun, sekitar pukul 02.00 WIB, keluarga mendapati Supangat telah meninggal dunia dalam tidurnya.
Baca juga: Apa Itu Ulama? Ini Definisi yang Dirumuskan Muktamar NU
Selain bertakziah, GP Ansor memberikan santunan berupa uang tunai dan paket sembako kepada keluarga Supangat.
Dukungan jangka panjang juga diberikan melalui pembiayaan pendidikan anak kedua Supangat mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi.
Addin mengatakan, dukungan tersebut diberikan agar anak kader yang telah meninggal tetap memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-citanya.
Bagi GP Ansor, kata dia, pengabdian kader Banser selama Muktamar NU menjadi bagian dari pelayanan terhadap organisasi dan masyarakat.
Karena itu, organisasi juga berupaya hadir bagi keluarga kader yang ditinggalkan.
Di lingkungan Banser Wonosalam, Supangat dikenal sebagai pribadi sederhana, humoris, dan mudah bergaul.
Wawan mengatakan, Supangat juga hampir tidak pernah menolak ketika mendapatkan tugas organisasi, termasuk ketika diminta terlibat dalam pengamanan Muktamar Ke-35 NU.
Ada satu peristiwa yang kemudian membekas bagi rekan-rekannya.
Pada hari terakhir menjalankan tugas, Supangat sempat berkeliling ke sejumlah pos pengamanan untuk berpamitan kepada anggota Banser lainnya.
"Ternyata beliau juga berpamitan untuk meninggalkan kami semua," kata Wawan.
Selama bertahun-tahun menjadi bagian dari Banser, Supangat aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari pengamanan kegiatan keagamaan hingga pelayanan masyarakat di Wonosalam.
Muktamar Ke-35 NU sendiri melibatkan kader Banser untuk membantu berbagai kebutuhan selama kegiatan, mulai dari mengatur arus peserta, menjaga lokasi, melayani tamu, hingga mengawal sejumlah agenda Muktamar.
Bagi GP Ansor, dukungan terhadap keluarga Supangat menjadi bentuk penghormatan atas pengabdian kader sekaligus upaya menjaga solidaritas kepada keluarga yang ditinggalkan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT