Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Putri Mahkota Swedia Victoria berdecak kagum saat menginjakkan kakinya di Gereja Katedral Jakarta. Selain kemegahan arsitekturnya, ia terfokus pada dua patung Bunda Maria yang budaya Nusantara.
Keduanya adalah Patung Bunda Maria Segala Suku dan Patung Ibu Maria Dipamarga atau Santa Maria Della Strada.
Berbeda dari penggambaran Bunda Maria yang umumnya bercorak Eropa, kedua patung tersebut tampil dengan identitas Indonesia. Mengenakan kebaya dan batik sebagai simbol kebangsaan, hingga busana khas Betawi.
Baca juga: Biarawati Asal NTT Jadi Paskibra di KBRI Vatikan, Doa Mengalir untuk Korban Gempa
Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo mengatakan, kekhasan tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Putri Mahkota Victoria ketika melihat bagian dalam Katedral Jakarta.
“Di gereja-gereja pada umumnya, Patung Bunda Maria menggunakan model Eropa. Namun, di sini modelnya khas Indonesia, khususnya khas Jakarta,” tutur Suharyo dikutip dari Kemenag, Sabtu (5/9/2026).
Di balik keindahannya, kedua patung itu menyimpan cerita tentang perjumpaan iman, kebudayaan, dan kebhinnekaan Indonesia.
Baca juga: Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Patung Bunda Maria Segala Suku bermula bukan dari pahatan, melainkan lukisan di atas kanvas.
Pada pertengahan 2017, digelar kompetisi melukis, membuat patung, dan fotografi untuk mencari penggambaran sosok Bunda Maria dengan kekhasan Indonesia.
Dari kompetisi tersebut, lukisan Maria Bunda Segala Suku karya Robertus Gunawan terpilih sebagai pemenang.
Lukisan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk tiga dimensi. Lukisan Maria Bunda Segala Suku diresmikan Uskup Ignatius Suharyo pada 6 Januari 2018, sedangkan patungnya diresmikan pada 13 Mei 2018 di Gereja Katedral Jakarta.
Patung aslinya kini disimpan di Museum Katedral Jakarta. Adapun patung yang dapat disaksikan umat dan pengunjung di dalam gereja merupakan replikanya.
Identitas Indonesia terlihat dalam berbagai ornamen yang menghiasi patung tersebut.
Mahkota Bunda Maria menampilkan corak peta Indonesia, sedangkan di bagian dadanya tersemat bros bergambar Garuda Pancasila. Kerudung renda berwarna merah dan putih membingkai sosoknya.
Kebaya yang dikenakan juga memiliki makna tersendiri. Brokat panjangnya memuat motif wayang Dewi Sri dan Dwi Kuthi Tua, kemudian dipadukan dengan kain bermotif Nusantara pada bagian bawahnya.
Suharyo turut menunjukkan berbagai detail tersebut kepada Putri Mahkota Victoria.
“Di mahkota Bunda Maria terdapat peta Indonesia, tidak ada di tempat lain. Di bagian dadanya, brosnya bergambar Garuda Pancasila. Pakaiannya bukan mantel biasa, melainkan kain batik dan pakaian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia,” ungkapnya.
Berbagai unsur tersebut menyatu dalam penggambaran Bunda Maria yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Sosoknya sekaligus membawa pesan persatuan di tengah keragaman suku dan budaya Nusantara.
“Rasa-rasanya beliau belum pernah melihat Patung Bunda Maria seperti itu, yang sangat diinkulturasikan dengan kebudayaan Indonesia,” kata Suharyo.
Nuansa Nusantara juga terlihat pada Patung Santa Maria Della Strada atau Ibu Maria Dipamarga.
Jika Bunda Maria Segala Suku merangkum beragam identitas Nusantara, Santa Maria Della Strada tampil lebih dekat dengan wajah Jakarta. Bunda Maria digambarkan mengenakan busana bercorak Betawi sambil menggendong bayi Yesus.
Patung tersebut merupakan karya seniman keramik F Widayanto. Patung dibuat menggunakan tanah liat batuan asal Sukabumi, kemudian diolah menjadi karya keramik dengan corak dan gaya khas Betawi.
Sebelum ditempatkan di Katedral Jakarta, Patung Santa Maria Della Strada berada di Rumah Retret Samadi Klender. Pada Februari 2022, patung itu dihibahkan kepada Gereja Katedral Jakarta dan sejak saat itu menjadi bagian dari kekayaan seni di dalam gereja.
Nama Santa Maria Della Strada memiliki jejak sejarah yang jauh dari Jakarta. Peringatannya dirayakan setiap 24 Mei dan berakar dari ikon Santa Maria Della Strada yang berada di Gereja del Gesù, gereja induk Ordo Yesuit di Roma.
Ketika hadir di Jakarta, sosok tersebut memperoleh sentuhan budaya setempat. Busana Betawi yang dikenakannya membuat penggambaran Bunda Maria terasa dekat dengan masyarakat tempat Katedral Jakarta berdiri.
Meski memiliki latar cerita berbeda, kedua patung itu membawa pesan serupa.
Keduanya memperlihatkan bahwa simbol keagamaan dapat berdialog dengan kebudayaan Indonesia tanpa kehilangan makna spiritualnya.
Kekhasan tersebut diperlihatkan kepada Putri Mahkota Victoria saat mengunjungi Katedral Jakarta.
Di tengah kunjungannya untuk menyaksikan harmoni Masjid Istiqlal dan Katedral, ia menemukan wajah lain Indonesia: kebhinnekaan yang tidak hanya tumbuh dalam hubungan antarumat beragama, tetapi juga hadir dalam karya seni di ruang ibadah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT