Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hoegeng dalam Islam: Ketika Kejujuran, Amanah, dan Kesederhanaan Menjadi Jalan Pengabdian

Kompas.com, 8 September 2026, 14:21 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com — Nama Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso kembali mengemuka setelah negara menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Utama kepada almarhum pada 2025.

Hoegeng dikenal sebagai salah satu figur kepolisian yang memiliki reputasi kuat dalam hal kejujuran, integritas, kesederhanaan, serta keberanian menolak suap dan gratifikasi.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan jika dilihat dalam perspektif Islam. Sebab, prinsip yang dijalankan Hoegeng dalam kehidupan dan pengabdiannya memiliki kedekatan dengan ajaran tentang amanah, kejujuran (sidq), menjauhi suap (risywah), dan menjaga harta yang halal.

Kisah Hoegeng juga menunjukkan bahwa integritas seorang pejabat tidak hanya dibangun di ruang kerja, tetapi bermula dari diri sendiri dan keluarga.

Baca juga: Profil KH Ahmad Fudholi, Penceramah Kondang Meninggal Usai Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak

Hoegeng, Polisi yang Dikenang karena Kejujuran

Dikutip dari laman Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Hoegeng Iman Santoso merupakan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 yang menjabat pada 1968 hingga 1971.

Hoegeng lahir di Pekalongan pada 14 Oktober 1921. Dalam catatan Lemdiklat Polri, Hoegeng secara historis dikenal sebagai salah satu pejabat polisi yang berani dan jujur.

Ia dikenal melalui tindakan dan upayanya dalam memberantas korupsi serta praktik permainan kekuasaan di lingkungan kepolisian.

Reputasi tersebut kemudian membuat nama Hoegeng dikenang sebagai simbol integritas di tubuh Polri.

Dalam konteks Islam, kejujuran merupakan bagian penting dari akhlak. Seorang Muslim yang memperoleh amanah, terlebih berupa jabatan publik, dituntut menjalankan tanggung jawab tersebut dengan benar dan tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Karena itu, perjalanan Hoegeng dapat menjadi contoh bagaimana nilai kejujuran diterapkan dalam kehidupan nyata.

Menolak Suap dan Gratifikasi dari Lingkungan Terdekat

Salah satu pelajaran penting dari Hoegeng adalah caranya menjaga diri dari pemberian yang berpotensi memengaruhi independensinya sebagai pejabat.

Dikutip dari artikel "Hidup Jujur dan Halal Mulai Dari Keluarga (In Memoriam Ny. Meriyati Hoegeng)" yang ditulis Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama M Fuad Nasir di laman Kemenag.go.id, keluarga Hoegeng menjadi cerminan kehidupan yang jujur dan sederhana meskipun berada di lingkungan jabatan tinggi yang rawan penyalahgunaan wewenang.

Hoegeng dan istrinya, Meriyati Hoegeng, disebut menolak harta yang tidak halal dan tidak bersedia anak-anak mereka menikmati fasilitas yang bukan haknya.

Sikap tersebut penting jika dikaitkan dengan prinsip Islam mengenai harta.

Seorang Muslim tidak hanya dituntut mencari rezeki yang halal, tetapi juga harus berhati-hati terhadap harta yang diperoleh melalui cara yang tidak dibenarkan.

Dalam konteks pejabat publik, pemberian yang berkaitan dengan jabatan dapat menjadi persoalan tersendiri apabila memengaruhi keputusan atau menimbulkan konflik kepentingan.

Istri Hoegeng Menutup Toko Bunga demi Menjaga Integritas

Kisah integritas Hoegeng bahkan menyentuh kehidupan ekonomi keluarganya.

Menurut tulisan yang dimuat di laman Kemenag.go.id, Meriyati Hoegeng pernah membuka usaha toko bunga. Usaha tersebut berkembang dan menjadi sumber penghasilan keluarga.

Namun, sehari sebelum Hoegeng dilantik sebagai Kepala Jawatan Imigrasi pada 1960, ia meminta istrinya menutup usaha tersebut.

Hoegeng khawatir orang-orang yang memiliki kepentingan dengan Jawatan Imigrasi memesan bunga dari toko milik istrinya.

Walaupun usaha tersebut legal, Hoegeng melihat adanya kemungkinan konflik kepentingan dan potensi bentuk penyuapan yang dilakukan secara halus.

Meriyati Hoegeng mendukung keputusan suaminya.

Kisah ini memperlihatkan bahwa standar integritas Hoegeng tidak hanya diterapkan ketika menjalankan tugas, tetapi juga dalam kehidupan keluarganya.

Dalam perspektif Islam, kehati-hatian semacam itu dapat dikaitkan dengan sikap wara', yakni berusaha menjaga diri dari perkara yang dapat menjerumuskan seseorang kepada sesuatu yang dilarang atau meragukan.

Menolak Rumah dan Mobil yang Ditawarkan Pengusaha

Masih dikutip dari laman Kemenag.go.id, ketika pindah ke Medan pada 1956, Hoegeng menghadapi persoalan karena rumah dinas masih ditempati pejabat sebelumnya.

Seorang pengusaha kemudian datang dan menawarkan rumah serta mobil kepadanya.

Hoegeng menolak tawaran tersebut.

Ia memilih tinggal di Hotel De Boer sambil menunggu rumah dinas yang akan ditempatinya selesai.

Setelah rumah dinas di Jalan Rivai Medan siap, Hoegeng justru mendapati rumah tersebut telah dipenuhi berbagai barang mewah, seperti kulkas, piano, tape recorder, dan sofa.

Hoegeng menduga barang-barang tersebut berasal dari pengusaha yang sebelumnya menawarkan bantuan kepadanya.

Ia kemudian meminta agar barang-barang tersebut segera diambil kembali.

Ketika barang-barang tersebut tidak kunjung diambil, Hoegeng mengeluarkannya dari rumah dan meletakkannya di pinggir jalan.

Sikap itu menunjukkan bahwa Hoegeng berusaha membatasi hubungan antara kepentingan bisnis dan jabatannya.

Saat Menjadi Kapolri, Hoegeng Tetap Hidup Sederhana

Ketika menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng juga tidak memilih tinggal di rumah dinas Kapolri di Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut tulisan di laman Kemenag.go.id, Hoegeng merasa sudah nyaman menempati rumah kontrakan di Jalan Madura, yang sekarang dikenal sebagai Jalan M.Yamin, Jakarta Pusat.

Rumah tersebut sudah lama ditempatinya dan ukurannya lebih kecil dibandingkan rumah dinas Kapolri.

Persoalan muncul ketika pemilik rumah menolak menerima uang sewa dari Hoegeng.

Pemerintah DKI Jakarta kemudian membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, Hoegeng tetap tidak ingin mendapatkan rumah itu secara cuma-cuma.

Akhirnya disepakati Hoegeng dapat mencicil rumah tersebut sesuai kemampuannya dan sertifikatnya atas nama istrinya, Meriyati Hoegeng.

Kisah ini kembali menunjukkan bagaimana seorang pejabat membedakan antara hak pribadi dan fasilitas jabatan.

Hoegeng dan Pelajaran tentang Amanah

Dikutip dari laman Setneg.go.id, Hoegeng dikenal luas sebagai sosok yang menjunjung tinggi kejujuran dan integritas.

Sepanjang kariernya, Hoegeng konsisten menolak gratifikasi dan suap. Ia bahkan menutup usaha keluarganya demi menjaga nama baik institusi.

Setneg juga mencatat Hoegeng menindak praktik korupsi, perjudian, dan penyelundupan, termasuk pengungkapan kasus mobil mewah di Pelabuhan Tanjung Priok.

Baca juga: Kisah Umar bin Abdul Aziz, Teladan Pemimpin yang Bisa Memisahkan Fasilitas Negara dan Hak Pribadi

Atas jasa dan dedikasinya, Hoegeng kemudian dianugerahi Bintang Republik Indonesia Utama oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2025.

Menurut Setneg, Bintang Republik Indonesia merupakan salah satu tanda kehormatan negara yang diberikan kepada individu yang memberikan kontribusi luar biasa bagi keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan Republik Indonesia.

Dalam perspektif Islam, jabatan dan kekuasaan merupakan amanah.

Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada masyarakat, tetapi juga kepada Allah SWT. Karena itu, menolak suap, menjaga harta tetap halal, dan tidak menyalahgunakan fasilitas negara merupakan bagian dari menjaga amanah.

Ketika Kejujuran Harus Dibayar dengan Kesulitan

Hoegeng mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971.

Pemberhentiannya berlangsung ketika usianya masih 51 tahun dan terjadi di tengah proses penanganan kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan pengusaha besar yang memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Setelah tidak lagi menjabat, kehidupan Hoegeng tidak serta-merta berubah menjadi penuh kemewahan.

Menurut tulisan di laman Kemenag.go.id, ketika pensiun Hoegeng bahkan tidak memiliki mobil pribadi dan sempat tidak memegang uang karena uang pensiunnya masih dalam proses.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan kejujuran terkadang memang tidak mudah.

Namun, ada nilai yang lebih besar dari sekadar keuntungan materi, yakni ketenangan hati, marwah, dan harga diri.

Dalam perspektif Islam, seseorang yang menjaga amanah dan menjauhi harta haram sedang menjaga bekal untuk kehidupan akhirat.

Meriyati Hoegeng, Pendamping dalam Menjaga Integritas

Keteladanan Hoegeng tidak dapat dilepaskan dari sosok istrinya, Meriyati Hoegeng.

Dikutip dari laman Kemenag.go.id, kejujuran dan kesederhanaan Hoegeng tidak terlepas dari dukungan sang istri.

Meriyati dengan tabah mendampingi Hoegeng dalam berbagai situasi, termasuk ketika suaminya mengalami masa-masa sulit setelah menyampaikan pandangan kritis terhadap kebijakan politik Orde Baru melalui Petisi 50.

Meriyati meninggal dunia pada 3 Februari 2026 di Rumah Sakit Polri R. Said Soekanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, dalam usia 100 tahun.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di samping makam Hoegeng di TPBU Giritama, Tajur Halang, Bogor.

Dalam prosesi pemakaman pada 4 Februari 2026, dibacakan Keputusan Presiden Prabowo Subianto mengenai penganugerahan Bintang Bhayangkara Pratama kepada Meriyati Hoegeng.

Penghargaan tersebut diberikan atas keberanian, kebijaksanaan, dan ketabahan luar biasa Meriyati yang dinilai melampaui panggilan kewajibannya sebagai warga negara nonanggota Polri serta jasa-jasanya bagi kemajuan dan pengembangan kepolisian.

Pesan Meriyati Hoegeng: Mulailah dari Diri Sendiri

Salah satu pesan terakhir Meriyati Hoegeng yang direkam keluarganya adalah:

“Jadilah contoh. Jadilah teladan, dan mulailah dari dirimu sendiri.”

Pesan tersebut seakan merangkum perjalanan keluarga Hoegeng dalam menjaga integritas.

Keteladanan tidak harus dimulai dengan jabatan besar atau kekuasaan. Ia dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari: tidak menerima sesuatu yang bukan hak, tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, dan memastikan keluarga hidup dari sumber penghasilan yang halal.

Nilai tersebut sangat dekat dengan ajaran Islam mengenai keteladanan dan amanah.

“Lebih Penting Menjadi Orang Baik”

Hoegeng meninggalkan sejumlah ungkapan yang hingga kini kerap digunakan sebagai pengingat tentang integritas.

Salah satunya adalah:

“Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik.”

Ada pula ungkapan yang menggambarkan prinsip kesederhanaannya:

“Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan nasi dengan garam.”

Kedua ungkapan tersebut menunjukkan bahwa bagi Hoegeng, jabatan dan kekayaan bukan tujuan akhir.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mempertahankan kehormatan dan kejujuran ketika memegang amanah.

Hoegeng dan Teladan Integritas dalam Islam

Dari perjalanan hidup Hoegeng dan Meriyati, terdapat sejumlah nilai yang dapat direnungkan.

Pertama, amanah harus dijaga. Jabatan bukan fasilitas untuk memperkaya diri, tetapi tanggung jawab yang harus dilaksanakan.

Kedua, kejujuran harus menjadi prinsip. Bahkan ketika kejujuran membuat kehidupan menjadi lebih sulit, prinsip tersebut tetap harus dipertahankan.

Ketiga, harta halal harus dijaga. Menolak pemberian yang berpotensi berkaitan dengan jabatan merupakan bentuk kehati-hatian.

Keempat, integritas dimulai dari keluarga. Meriyati menjadi bagian penting dalam perjalanan Hoegeng mempertahankan prinsip hidupnya.

Kelima, keteladanan dimulai dari diri sendiri. Pesan Meriyati menjadi relevan bagi siapa pun yang ingin membangun kehidupan yang berintegritas.

Baca juga: Kisah Teladan Rasulullah SAW yang Memuliakan Orang Miskin dengan Penuh Kasih

Kisah Hoegeng pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang mantan Kapolri yang dikenal bersih.

Ia adalah kisah tentang pilihan hidup: mempertahankan kejujuran meskipun harus kehilangan kenyamanan, menolak harta yang bukan hak, dan menjalankan amanah meski tidak selalu mendatangkan keuntungan duniawi.

Dalam perspektif Islam, nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari akhlak yang harus terus dijaga. Sebab, jabatan akan berakhir, sementara amanah dan setiap harta yang diperoleh akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
MTQ Nasional XXXI 2026 Jadi Momentum Kenalkan Al Quran Isyarat kepada Masyarakat
MTQ Nasional XXXI 2026 Jadi Momentum Kenalkan Al Quran Isyarat kepada Masyarakat
Aktual
Ijazah Kubro Dalailul Khairat: Menjaga Tradisi Tirakat dan Wirid di Kalangan Nahdliyin
Ijazah Kubro Dalailul Khairat: Menjaga Tradisi Tirakat dan Wirid di Kalangan Nahdliyin
Aktual
 5 Rukun Islam Secara Berurutan, Lengkap dengan Pengertian dan Maknanya
5 Rukun Islam Secara Berurutan, Lengkap dengan Pengertian dan Maknanya
Doa Harian
 Niat Mandi Junub Wanita: Arab, Latin, Penyebab, dan Tata Caranya
Niat Mandi Junub Wanita: Arab, Latin, Penyebab, dan Tata Caranya
Doa Harian
Doa Tahiyat Akhir: Arab, Latin, Arti, dan Urutan Bacaan yang Benar
Doa Tahiyat Akhir: Arab, Latin, Arti, dan Urutan Bacaan yang Benar
Doa Harian
Hoegeng dalam Islam: Ketika Kejujuran, Amanah, dan Kesederhanaan Menjadi Jalan Pengabdian
Hoegeng dalam Islam: Ketika Kejujuran, Amanah, dan Kesederhanaan Menjadi Jalan Pengabdian
Aktual
Doa Orang Meninggal Laki-Laki: Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya
Doa Orang Meninggal Laki-Laki: Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya
Doa Harian
Allahumma Yassir Wala Tu'assir Artinya Apa? Arab, Latin, dan Maknanya
Allahumma Yassir Wala Tu'assir Artinya Apa? Arab, Latin, dan Maknanya
Doa Harian
Niat Sholat Ashar di Waktu Maghrib: Hukum Qodho dan Tata Caranya
Niat Sholat Ashar di Waktu Maghrib: Hukum Qodho dan Tata Caranya
Doa Harian
Profil KH Ahmad Fudholi, Penceramah Kondang Meninggal Usai Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak
Profil KH Ahmad Fudholi, Penceramah Kondang Meninggal Usai Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak
Aktual
Dari Yogyakarta Menjangkau Dunia, Jejak Panjang Persebaran Muhammadiyah sejak 1912
Dari Yogyakarta Menjangkau Dunia, Jejak Panjang Persebaran Muhammadiyah sejak 1912
Aktual
Lirik Ya Maulana: Arti dan Makna Lagu Sholawat Sabyan
Lirik Ya Maulana: Arti dan Makna Lagu Sholawat Sabyan
Doa Harian
Puasa 2027 Berapa Bulan Lagi? Cek Perkiraan Awal Ramadan dan Countdown
Puasa 2027 Berapa Bulan Lagi? Cek Perkiraan Awal Ramadan dan Countdown
Doa Harian
Abu Vulkanik Gunung Berapi, Madrasah dan Pesantren Diizinkan PJJ
Abu Vulkanik Gunung Berapi, Madrasah dan Pesantren Diizinkan PJJ
Aktual
Niat Sholat Jamak Dzuhur dan Ashar: Taqdim, Takhir, dan Tata Caranya
Niat Sholat Jamak Dzuhur dan Ashar: Taqdim, Takhir, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar