Editor
KOMPAS.com - Kementerian Agama mencatat sebanyak 3.420 abstrak dari 21 negara dan 607 lembaga masuk dalam gelaran The 25th Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2026.
Jumlah tersebut tercatat hingga penutupan penerimaan abstrak pada 9 September 2026.
Baca juga: Pendaftaran AICIS+ 2026 Diperpanjang, Kemenag Dorong Partisipasi Sivitas Akademika
Dilansir dari Antara, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno mengatakan tingginya jumlah abstrak yang diterima perlu diikuti dengan penguatan kualitas substansi penelitian.
Menurut dia, salah satu indikator utama AICIS+ adalah terwujudnya integrasi antara kajian keislaman dan berbagai disiplin ilmu.
Baca juga: Kemenag: Pendaftaran AICIS+ 2026 Diperpanjang hingga 9 September
“Indikator utama dari AICIS+ adalah terwujudnya konsep integrasi. Artinya, baik dari sumber maupun para asesor, semua materi yang diinvestasikan harus menggambarkan kajian yang tidak hanya Islamic Studies semata, tetapi juga integrasi dengan kajian berbasis natural sciences,” ujar Suyitno dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut Suyitno, artikel yang masuk perlu dipetakan secara tematik untuk melihat perkembangan corak riset yang dihasilkan para akademisi.
Pemetaan tersebut dapat mencakup kajian pure Islamic Studies, applied research, hingga penelitian yang mengintegrasikan kajian keislaman dengan disiplin ilmu lainnya.
“Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa PTKI kita sudah berwajah integrasi, yang mempertemukan kajian keislaman, lingkungan sosial, hingga natural sciences yang diekspresikan dalam forum AICIS+,” kata dia.
Penguatan integrasi keilmuan juga akan ditunjukkan melalui penyelenggaraan expo AICIS+ 2026. Suyitno menekankan, expo tersebut tidak diarahkan hanya sebagai ruang untuk menampilkan profil lembaga, tetapi sebagai etalase produk inovasi dan hasil penelitian yang memberikan manfaat nyata.
Produk yang ditampilkan dapat berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) maupun lembaga di luar PTKI.
Bentuk produk yang dipamerkan juga beragam, mulai dari inovasi bahan ajar hingga hasil riset terapan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Untuk expo, yang ditampilkan bukan nama lembaganya, melainkan produknya. Produk tersebut bisa berupa inovasi bahan ajar atau hasil riset dari lembaga mana pun, baik PTKI maupun luar PTKI,” kata Suyitno.
Panitia AICIS+ 2026 juga tengah mematangkan ruang untuk riset-riset terapan yang berorientasi pada persoalan masyarakat.
Sejumlah bidang yang didorong meliputi teknologi modifikasi cuaca, mitigasi bencana geologi dan gempa, mitigasi perubahan iklim, hingga riset untuk menjawab persoalan sosial.
Pendekatan tersebut diharapkan memperluas corak riset yang hadir dalam AICIS+. Dengan demikian, AICIS+ tidak hanya menjadi forum untuk mendiskusikan kajian keislaman secara teoretis, tetapi juga mempertemukan kajian tersebut dengan penelitian terapan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Jumlah abstrak yang mencapai 3.420 dari 21 negara dan 607 lembaga menunjukkan luasnya partisipasi akademisi dalam AICIS+ 2026.
Kementerian Agama kemudian mendorong agar partisipasi tersebut sejalan dengan kualitas riset dan penguatan integrasi keilmuan.
Melalui forum akademik dan expo, AICIS+ diarahkan untuk mempertemukan kajian Islam, sains, penelitian terapan, serta berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.