Editor
KOMPAS.com — Pendidikan di pesantren tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Seluruh pengalaman hidup santri, mulai dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, hingga dilakukan, merupakan bagian dari proses pembentukan diri.
Pimpinan Pondok Pesantren La Tansa KH Adrian Mafatihallah Karim mengatakan, pendidikan holistik di pesantren diperlukan untuk membentuk santri secara utuh, tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki keimanan, akhlak, ketangguhan, dan jiwa kepemimpinan.
“Di pesantren, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dilakukan santri adalah bagian dari pendidikan yang melahirkan generasi berkelas. Sebab, di pesantren, kehidupan itu sendiri adalah pendidikan,” ujar Adrian dalam rilisnya, Jumat Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Pesan tersebut disampaikan dalam rangkaian kegiatan pengembangan mutu pendidikan yang diselenggarakan Pondok Pesantren La Tansa.
Kegiatan itu terdiri dari sesi Inspiring Motivation untuk seluruh santri serta kuliah umum bagi para ustaz dan pendidik.
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Darussalam (Unida) Gontor Nur Hadi Ihsan menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut.
Dalam kuliah umum bertema “Beyond Theory: Implementing Holistic Education in Pesantren”, Nur Hadi membahas pentingnya penerapan pendidikan menyeluruh di lembaga pendidikan Islam.
Menurut dia, pendidikan pesantren perlu melampaui orientasi kognitif atau penguasaan pengetahuan. Pendidikan juga harus membentuk kepribadian santri secara utuh agar mereka siap menghadapi tantangan zaman.
“Saya melihat para santri La Tansa dididik dan dipersiapkan secara matang agar siap berkiprah di tingkat nasional maupun internasional, baik dalam bidang akademik maupun berbagai bidang strategis lainnya,” kata Nur Hadi.
Baca juga: Abu Vulkanik Gunung Berapi, Madrasah dan Pesantren Diizinkan PJJ
Adrian menjelaskan, pendidikan holistik di Pondok Pesantren La Tansa bertumpu pada tujuh dimensi pengembangan santri.
Ketujuh dimensi tersebut meliputi:
1. Dimensi spiritual
Santri dibina agar memiliki keimanan yang kuat serta konsisten menjalankan ibadah.
2. Dimensi intelektual
Santri dibekali ilmu pengetahuan dan wawasan luas agar mampu memahami serta merespons perkembangan zaman.
3. Dimensi moral
Pendidikan diarahkan untuk membentuk adab, akhlak, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
4. Dimensi emosional
Santri dilatih menjadi pribadi yang matang dan tangguh dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
5. Dimensi sosial
Santri dibiasakan memiliki kepedulian, kemampuan bekerja sama, dan keluwesan dalam hidup bermasyarakat.
6. Dimensi fisik
Kondisi fisik santri dijaga agar mereka tumbuh sehat, disiplin, dan kuat dalam menjalankan aktivitas.
7. Dimensi kepemimpinan
Santri dibentuk menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan siap memimpin dalam berbagai tingkatan.
Menurut Adrian, ketujuh dimensi tersebut tidak dikembangkan secara terpisah. Seluruhnya menyatu dalam kehidupan santri selama berada di pesantren.
Pendidikan holistik itu diharapkan menjadi fondasi untuk melahirkan calon pemimpin bangsa dan agama yang memiliki kapasitas keilmuan luas serta integritas moral yang kuat.
Selain sistem pendidikan, Adrian menekankan pentingnya peran pendidik dalam keberhasilan pembentukan santri.
Materi pelajaran, metode pembelajaran, dan kehadiran guru memang menjadi unsur penting.
Namun, menurut dia, pendidikan tidak akan memberikan pengaruh mendalam tanpa ketulusan dan semangat pengabdian seorang guru.
“Bagi kami, materi pelajaran, metode, dan keberadaan guru memang penting. Namun, ada yang jauh lebih penting dari semua itu, yaitu Ruhul Mudarris—jiwa, ketulusan, dan semangat pengabdian seorang pendidik,” ujar Adrian.
Ruhul Mudarris membuat proses pendidikan tidak sekadar menjadi kegiatan menyampaikan materi. Pendidik juga hadir sebagai teladan yang nilai, sikap, dan perilakunya dilihat langsung oleh santri.
Melalui sinergi akademik bersama sejumlah pakar, Pondok Pesantren La Tansa berupaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik sekaligus mendorong para santri untuk berprestasi dan memiliki wawasan global.
Dengan pendidikan yang menyentuh berbagai dimensi kehidupan, santri diharapkan mampu mengikuti perkembangan dunia tanpa kehilangan akar nilai-nilai keislaman.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.