Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bencana Bukan Alasan untuk Pasrah, Begini Sikap Muslim Menghadapinya

Kompas.com, 14 September 2026, 15:41 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com — Bencana merupakan bagian dari kehidupan yang perlu dihadapi dengan pemahaman keagamaan sekaligus ikhtiar yang tepat.

Anggota Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Imron Baehaqi mengatakan, fikih kebencanaan diperlukan agar umat Islam memahami bencana serta mampu menentukan sikap yang tepat ketika menghadapinya.

“Setiap permasalahan di tengah masyarakat penting diangkat supaya kita mengetahui lebih jelas dan lebih paham karena fikih itu artinya paham,” kata Imron dikutip dari kanal Muhammadiyah, Senin (14/9/2026).

Baca juga: Hukum Menimbun Masker Saat Bencana Menurut Islam

Menurut dia, perkembangan fikih menunjukkan kemampuan para ulama dalam merespons persoalan kehidupan yang terus berubah.

Pada masa awal perkembangannya, pembahasan fikih banyak berfokus pada persoalan hukum. Seiring perubahan zaman, cakupannya meluas hingga membahas beragam persoalan yang dihadapi masyarakat.

Hal itu terlihat dari berkembangnya pembahasan tentang fikih zakat, fikih muamalah, fikih perempuan, fikih air, hingga fikih kebencanaan.

Di lingkungan Muhammadiyah, perkembangan tersebut juga tercermin dalam berbagai produk pemikiran Majelis Tarjih dan Tajdid.

Menurut Imron, fikih membantu umat memahami persoalan sekaligus menemukan hikmah, solusi, dan sikap yang tepat. Karena itu, fikih kebencanaan dibutuhkan sebagai panduan ketika masyarakat menghadapi bencana.

Baca juga: Bencana Ini Musibah atau Azab? Simak Pengertian dan Perbedaannya dalam Islam

Bencana dalam perspektif Al-Quran

Imron menjelaskan, Al-Quran menggunakan sejumlah istilah untuk menggambarkan bencana dan kesulitan yang menimpa manusia.

Istilah tersebut antara lain musibah, bala’, fitnah, dan fasad. Masing-masing menggambarkan beragam bentuk ujian, kesulitan, serta kerusakan yang dialami manusia.

Bencana juga telah terjadi sejak masa kenabian. Al-Quran mengabadikan berbagai peristiwa yang menimpa umat terdahulu, seperti gempa, banjir, angin topan, hujan batu, dan paceklik.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bencana telah menjadi bagian dari perjalanan kehidupan manusia sejak masa lampau.

Dalam memahami penyebab bencana, Imron menyebut ada dua sisi yang perlu diperhatikan. Bencana dapat terjadi sebagai bagian dari sunnatullah atau hukum alam, tetapi juga dapat berkaitan dengan perilaku manusia.

“Kalau saya melihatnya, kedua-duanya itu betul,” ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi geografis Indonesia yang secara ilmiah membuat sejumlah wilayah rawan gempa. Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga mengingatkan tentang kerusakan yang timbul akibat perbuatan manusia.

Imron merujuk pada Surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ

Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
Menurut Imron, ayat tersebut menjadi salah satu dasar untuk memahami hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan lingkungan.

Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari ujian. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 155, Allah menyebut ujian berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan berkurangnya hasil kehidupan.

Takdir bukan alasan untuk berhenti berikhtiar

Imron menjelaskan, Surat Al-Hadid mengajarkan bahwa musibah yang menimpa bumi maupun manusia berada dalam ketetapan Allah.

Pemahaman tersebut seharusnya membuat seorang Muslim memiliki keteguhan batin dan tidak larut dalam keputusasaan ketika kehilangan sesuatu.

“Jangan putus asa. Artinya, harus tetap optimistis dalam kehidupan ini,” katanya.

Ayat tersebut juga mengingatkan manusia agar tidak menggantungkan kebahagiaan pada harta, jabatan, atau kekuasaan. Semua yang dimiliki manusia dapat hilang pada waktunya.

“Jadi, jangan ingin terus-menerus berkuasa,” ujar Imron.

Meski demikian, pemahaman mengenai takdir tidak boleh membuat manusia hanya pasrah dan mengabaikan tanggung jawabnya.

Kerusakan akibat keserakahan, eksploitasi alam, dan tindakan manusia tetap perlu diperhatikan dalam pembahasan kebencanaan.

Imron mencontohkan penebangan hutan ilegal yang dapat memperbesar risiko kerusakan lingkungan. Perilaku mengejar keuntungan dengan merusak alam dapat menimbulkan fasad atau kerusakan yang berdampak luas.

Bencana menjadi bahan muhasabah

Imron mengajak umat Islam mempelajari kisah-kisah bencana yang menimpa umat terdahulu sebagai bahan muhasabah.

Kisah kaum Nabi Saleh, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib, misalnya, menyimpan pelajaran mengenai kezaliman, kefasikan, dan akibat yang diterima suatu kaum.

“Al-Quran telah mengabadikan kejadian-kejadian bencana ini untuk menjadi pelajaran bagi kita sebagai manusia agar sadar diri, bermuhasabah, dan berintrospeksi,” jelasnya.

Karena itu, ketika bencana terjadi, umat Islam perlu mengevaluasi diri serta kehidupan bersama tanpa terburu-buru menghakimi orang yang menjadi korban.

Muhasabah juga perlu diikuti dengan ikhtiar nyata, antara lain menjaga lingkungan dan memperbaiki perilaku yang dapat meningkatkan risiko bencana.

Terlebih jika bencana berulang kali melanda suatu wilayah, masyarakat dan pemerintah perlu melihat berbagai faktor alam serta perilaku manusia yang mungkin memperparah dampaknya.

Dengan demikian, menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan bersabar dan menerima takdir.

Umat juga perlu menjaga optimisme, memperkuat ikhtiar, merawat lingkungan, serta mengambil pelajaran agar risiko serupa dapat dikurangi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar