KOMPAS.com - Takziah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam ketika seorang Muslim ditimpa musibah kematian.
Tujuan takziah bukan sekadar menyampaikan belasungkawa, melainkan menghibur keluarga yang ditinggalkan, mendoakan jenazah, serta menguatkan mereka agar bersabar menghadapi ujian dari Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa orang yang berduka membutuhkan empati, doa, dan bantuan nyata, bukan perkataan yang menyakiti atau memperpanjang kesedihan.
Karena itu, Islam mengatur adab takziah agar menjadi bentuk kasih sayang antarsesama Muslim.
Baca juga: Hukum Mengirim Karangan Bunga Duka Cita dalam Islam, Apakah Termasuk Takziah? Ini Penjelasan Ulama
Islam mengajarkan bahwa setiap musibah adalah ujian yang harus dihadapi dengan sabar dan tawakal.
Melalui takziah, seorang Muslim menghadirkan ketenangan bagi saudaranya dengan doa, ucapan yang baik, serta bantuan yang nyata.
Meneladani Rasulullah SAW berarti menghibur orang berduka tanpa mengurangi ruang mereka untuk bersedih.
Ucapan yang lembut, doa yang tulus, dan kepedulian terhadap kebutuhan keluarga merupakan sunnah yang menjadikan takziah sebagai bentuk ibadah sekaligus wujud kasih sayang antarsesama.
Baca juga: Benarkah Semua Utang Harus Dibayar Sebelum Meninggal?
Takziah adalah menghibur dan menguatkan hati keluarga yang sedang mengalami musibah kematian.
Para ulama menjelaskan bahwa hukum bertakziah adalah sunnah muakkadah karena termasuk bentuk kepedulian sosial dan mempererat ukhuwah.
Allah SWT mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi ujian, termasuk kehilangan orang yang dicintai.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn. Allażīna iżā aṣābathum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artinya: “Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’”
Ayat ini menjadi dasar dianjurkannya mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ketika mendengar kabar duka.
Salah satu ucapan takziah paling masyhur berasal dari hadis sahih ketika putri Rasulullah SAW kehilangan anaknya. Nabi mengirimkan pesan yang berisi penghiburan dan ajakan untuk bersabar.
Sahih al-Bukhari No. 1284
إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلُّ شَىْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
Inna lillāhi mā akhaża, wa lahu mā a‘ṭā, wa kullu syai'in ‘indahu bi ajalim musammā, faltashbir waltaḥtasib.
Artinya: “Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan. Maka bersabarlah dan berharaplah pahala kepada Allah.”
Ucapan ini mengajarkan bahwa takziah sebaiknya berisi doa, penguatan, dan pengingat akan takdir Allah, bukan kalimat yang menghakimi atau meremehkan kesedihan seseorang.
Selain mengucapkan belasungkawa, seorang Muslim dianjurkan mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar diberikan ketabahan dan pahala atas musibah yang mereka alami.
Doa yang sering diamalkan adalah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Allāhumma-ghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, berikan keselamatan kepadanya, dan maafkanlah dia.”
Doa ini berasal dari hadis sahih tentang doa untuk jenazah dan dapat dibaca ketika mendoakan almarhum laki-laki. Untuk jenazah perempuan, dhamir lahu diganti menjadi lahā.
Takziah tidak berhenti pada ucapan. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam membantu keluarga yang sedang ditimpa musibah, termasuk menyiapkan makanan karena mereka sedang disibukkan oleh urusan pemakaman.
اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ
Iṣna‘ū li āli Ja‘farin ṭa‘āman, faqad atāhum mā yasyghaluhum.
Artinya: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja‘far, karena telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkan mereka.” (Sunan Ibnu Majah No. 1610)
Hadis ini menjadi dasar sunnah bagi tetangga dan kerabat untuk membantu kebutuhan keluarga yang berduka, bukan justru membebani mereka dengan jamuan.
Rasulullah SAW mengajarkan takziah dengan penuh kelembutan. Karena itu, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan.
Pertama, menyampaikan ucapan belasungkawa dengan tulus tanpa memperpanjang ratapan.
Kedua, mendoakan jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.
Ketiga, menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti, seperti menyalahkan musibah atau membandingkan kehilangan seseorang dengan orang lain.
Keempat, tidak berlama-lama apabila kehadiran justru menambah beban keluarga.
Takziah juga menjadi momentum memperkuat ukhuwah melalui empati dan kepedulian, bukan sekadar memenuhi kewajiban sosial.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.