Editor
KOMPAS.com — Umat Islam saat ini memang tidak pernah berjumpa langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Namun, perbedaan zaman tidak harus menjadi jarak dalam mencintai Rasulullah.
Kasubtim Dakwah pada Subdirektorat Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, KH Ahmad Rusdi mengatakan, cinta kepada Rasulullah dapat terus dirawat melalui selawat, mempelajari perjalanan hidupnya, dan mengikuti sunnahnya.
“Cinta kepada Rasulullah SAW tidak cukup berhenti menjadi rasa. Cinta pun tidak cukup berhenti menjadi kata. Cinta mempunyai tanda dan tanda itu semestinya tampak dalam kehidupan orang yang mengaku mencintainya,” kata Ahmad dikutip dari laman Kemenag, Kamis (17/9/2026).
Baca juga: Bagaimana Cara Menghibur Orang Berduka Menurut Rasulullah?
Ahmad menyebut sedikitnya terdapat enam tanda yang dapat menunjukkan kecintaan seorang Muslim kepada Rasulullah SAW.
Tanda pertama adalah senang menyebut nama dan berselawat kepada Rasulullah SAW.
Menurut Ahmad, orang yang mencintai biasanya senang menyebut sosok yang dicintainya.
Karena itu, selawat tidak seharusnya hanya menjadi bacaan di lisan, tetapi juga ungkapan cinta dan kerinduan dari dalam hati.
“Nama Rasulullah SAW terasa dekat di hati dan selawat menjadi salah satu cara merawat kedekatan itu,” ujarnya.
Kecintaan juga ditandai dengan keinginan mengenal kehidupan dan ajaran Rasulullah SAW.
Hal itu dapat dilakukan dengan membaca sirah, mempelajari hadis, memahami perjuangan, serta mengenal akhlak beliau.
Ahmad menjelaskan, pengetahuan mengenai kehidupan Rasulullah diperlukan agar cinta tidak hanya berhenti sebagai perasaan. Semakin mengenal beliau, umat Islam semestinya semakin terdorong untuk meneladaninya.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Dijuluki Al-Amin? Ini Kisahnya
Mengikuti sunnah dan tuntunan Rasulullah merupakan salah satu bukti penting kecintaan seorang Muslim.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 31:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Artinya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’”
Ahmad juga mengutip penjelasan Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa tanda mencintai Nabi SAW adalah mencintai sunnahnya.
Menurut Ahmad, mengaku mencintai Rasulullah merupakan sesuatu yang baik dan berselawat kepada beliau adalah kemuliaan. Namun, cinta itu semakin bermakna ketika sunnah dipelajari dan tuntunannya dijalankan.
Cinta kepada Rasulullah SAW juga perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Ahmad mengatakan, keteladanan tersebut dapat diwujudkan melalui kelembutan dalam berbicara, kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan kesediaan menjaga hak orang lain.
“Jangan sampai selawat terdengar merdu di lisan, tetapi akhlak Rasulullah SAW belum terasa dalam pergaulan,” katanya.
Menurut dia, salah satu buah cinta adalah munculnya keinginan untuk mengikuti kebaikan orang yang dicintai.
Tanda berikutnya adalah mencintai hal-hal yang juga dicintai Rasulullah SAW, seperti kebaikan, ilmu, ibadah, persaudaraan, perdamaian, dan kemaslahatan umat.
Kecintaan kepada Rasulullah, lanjut Ahmad, semestinya mendorong seseorang untuk memberikan manfaat kepada sesama.
Meneladani Rasulullah tidak hanya diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga melalui kasih sayang, kepedulian sosial, dan perhatian kepada kelompok lemah.
Kerinduan untuk berjumpa dengan Rasulullah SAW juga menjadi salah satu tanda cinta.
Namun, kerinduan tersebut tidak seharusnya membuat seseorang menjauh dari kehidupan.
Sebaliknya, kerinduan perlu menjadi dorongan untuk menyiapkan bekal berupa keimanan, amal saleh, ketaatan, dan akhlak yang baik.
“Orang yang benar-benar ingin berjumpa dengan Rasulullah SAW tentu ingin datang membawa iman, amal saleh, dan akhlak yang beliau cintai,” jelas Ahmad.
Ahmad mengingatkan umat Islam agar tidak berhenti pada pengakuan mencintai Rasulullah, sementara sunnah dan tuntunannya tidak dikenal maupun dijalankan.
Ia mengutip syair Arab mengenai orang-orang yang mengaku mencintai Laila:
كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلًا بِلَيْلَى
وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا
Artinya, “Semua orang mengaku mempunyai hubungan cinta dengan Laila, tetapi Laila sendiri tidak mengakui pengakuan mereka.”
Syair tersebut menjadi pengingat agar kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya ramai dalam pengakuan, tetapi sepi dalam pembuktian.
Ahmad mengatakan, selawat dapat menjadi ungkapan cinta, sunnah menjadi tuntunan, sedangkan akhlak menjadi pembuktiannya.
“Kerinduan sejati bukan hanya kerinduan yang menetes menjadi air mata. Kerinduan sejati adalah kerinduan yang bergerak menjadi ittiba’ atau mengikuti Rasulullah,” tuturnya.
Karena itu, kerinduan kepada Rasulullah diharapkan dapat menggerakkan umat Islam untuk melakukan kebaikan, menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain, melembutkan hati, dan memperkuat ketaatan kepada Allah SWT.
“Siapa yang sungguh merindukan perjumpaan, tentu akan mempersiapkan bekal untuk perjalanan,” pungkas Ahmad.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.