Editor
KOMPAS.com - Muhammadiyah lekat dengan simbol matahari yang menjadi bagian utama dari lambang Persyarikatan.
Simbol tersebut juga hadir dalam lagu resmi Muhammadiyah, “Sang Surya”, sehingga matahari menjadi salah satu identitas yang kuat dalam gerakan Muhammadiyah.
Baca juga: Logo Muhammadiyah: Sejarah, Pembuat, dan Makna Simbol Matahari
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, menurut Ketua LSBO Pimpinan Pusat Muhammadiyah, HM Sukriyanto AR dalam artikelnya yang dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 10 Tahun 2015, menjelaskan alasan penggunaan simbol matahari berkaitan dengan keinginan Kiai Ahmad Dahlan.
Alasan digunakan simbol matahari ternyata karena Kiai Ahmad Dahlan ingin Muhammadiyah bisa menjadi organisasi yang menyinari (mencerahkan) hati dan pikiran masyarakat di mana saja dengan ajaran-ajaran Islam yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah.
Baca juga: Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Sehingga karena itu, masyarakat diharapkan bisa menjadi masyarakat yang baik, beriman, berbudi pekerti luhur (jujur, adil dan menghormati sesama manusia serta mencintai semua makhluk) dan suka melakukan amal shalih.
Makna matahari dalam lambang Muhammadiyah dengan demikian berkaitan dengan gagasan pencerahan.
Muhammadiyah diharapkan dapat membawa ajaran Islam yang memberikan penerangan kepada masyarakat, baik dalam hati maupun pikiran.
Logo Muhammadiyah meletakkan tulisan berbahasa Arab “Muhammadiyah” di tengah sebuah lingkaran dengan dua kalimah syahadat yang melingkarinya.
Di luar lingkaran tersebut terdapat dua belas cabang sinar matahari berwarna putih, sementara warna hijau menjadi warna yang mendominasi lambang.
Menurut Sukriyanto, unsur-unsur tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan ajaran dan tujuan Muhammadiyah.
Adapun logo Muhammadiyah yang dilingkari dengan dua kalimat syahadat, tulis Sukriyanto adalah petunjuk bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang ingin berittiba’ pada Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan dua kalimat syahadat adalah pernyataan bahwa Muhammadiyah ingin menegakkan kalimah tauhid di tengah masyarakat.
Sementara itu, warna putih pada pancaran sinar matahari juga memiliki makna tersendiri.
Terkait sinar matahari yang berwarna putih, Sukriyanto menulis karena warna putih adalah warna yang disukai Rasulullah dan seperti doa; Allahumma naqqini minal khathaya kama yunaqats tsaubu al abyadhu minaddanas. (Ya Allah bersihkanlah hamba dari segala kesalahan sebagaimana kain putih yang telah dibersihkan dari kotoran).
Sukriyanto selanjutnya menuliskan bahwa Kiai Ahmad Dahlan berharap warga Muhammadiyah suka memancarkan agama Islam (berdakwah amar makruf nahi munkar) dengan niat yang bersih hati yang suci, tanpa pamrih, kecuali mencari ridha Allah semata.
Jika Islam didakwahkan dengan niat yang bersih, maka Islam akan mencerahkan, ibaratnya dengan sinar putih bersih maka yang disinari akan menjadi terang hatinya dan tercerahkan pikirannya.
Logo Muhammadiyah.Selain matahari dan sinar putih, warna hijau menjadi unsur yang dominan dalam logo Muhammadiyah.
Menurut Sukriyanto, penjelasan mengenai warna dasar hijau berasal dari penuturan KH Siraad Dahlan.
Adapun tentang warna dasar hijau, Sukriyanto menulis penuturan KH Siraad Dahla bahwa warna itu adalah warna yang selalu ditawarkan Allah kepada kaum beriman dan kaum muslimin yang baik dan senantiasa melaksanakan amal shalih seperti tersebut dalam surat Ar-Rahman ayat 76, surat Al-Insan ayat 21 dan surat Kahfi ayat 31.
Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan sejumlah ayat Al-Qur'an yang menyebut warna hijau dalam gambaran kenikmatan di surga.
QS Arrahman Ayat 76: Mereka bertelekan (bersandar) pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.
QS Al Insan Ayat 21: Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.
QS Al Kahfi Ayat 31: Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah.
Di kemudian hari orang-orang Muhammadiyah menurut Sukriyanto mengartikan warna hijau dengan unsur segar, sejuk, damai, teduh dan menenteramkan hati yang dengannya menjadi ciri dakwah Muhammadiyah.
“Karena Muhammadiyah ingin mendakwahkan agama yang menyejukkan, agama yang membawa kesegaran dan menenteramkan sebab ajaran dan amal salihnya selalu mendatangkan rahmat bagi lingkungannya (rahmatan lil ‘alamin),” tulisnya.
Dengan pemaknaan tersebut, warna hijau tidak hanya menjadi warna dasar lambang Muhammadiyah. Warna tersebut juga dikaitkan dengan karakter dakwah yang diharapkan membawa kesejukan, kedamaian, ketenteraman, dan rahmat bagi lingkungan.
Lambang Muhammadiyah tidak hanya menampilkan matahari sebagai unsur visual, tetapi juga memuat makna tentang pencerahan, tauhid, dakwah, dan kesucian niat.
Karena itu, simbol matahari dan “Sang Surya” sama-sama lekat dengan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan yang membawa gagasan pencerahan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.