Editor
KOMPAS.com - Logo Muhammadiyah identik dengan simbol matahari yang menjadi ciri visual Persyarikatan sejak awal berdirinya.
Di balik logo Muhammadiyah terdapat sejarah, filosofi, serta pesan tentang pencerahan yang berkaitan dengan peran Muhammadiyah dalam kehidupan umat dan masyarakat.
Baca juga: 3 Filosofi Daun Kelor dalam Logo Milad Ke-114 Muhammadiyah
Sebagai gerakan yang membawa visi pencerahan peradaban, Muhammadiyah begitu lekat dengan simbol matahari.
Simbol tersebut menjadi bagian utama logo Persyarikatan Muhammadiyah dan juga diabadikan dalam syair lagu resmi Muhammadiyah, “Sang Surya”.
Baca juga: Dari Yogyakarta Menjangkau Dunia, Jejak Panjang Persebaran Muhammadiyah sejak 1912
Logo Muhammadiyah memiliki ciri khas tulisan Arab “Muhammadiyah” di tengah lingkaran yang dikelilingi dua kalimat syahadat dan 12 cabang sinar matahari berwarna putih.
Logo tersebut menggunakan warna dasar hijau yang membuatnya tidak hanya menjadi identitas visual, tetapi juga memiliki filosofi yang mendalam.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan logo Muhammadiyah dibuat oleh KH Siraad Dahlan, putra sulung KH Ahmad Dahlan.
“Dari HM Sukriyanto AR yang berasal dari penuturan tokoh seniornya di Muhammadiyah seperti H Djarnawi Hadikusumo, Pak Wasthan Sudjak, dan lainnya, simbol Muhammadiyah, logo Matahari dibikin oleh Pak Siraad Dahlan, putra sulung Kiai Dahlan,” jelas Haedar dalam momentum peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
KH Siraad Dahlan dikenal mewarisi keulamaan, keahlian ilmu falak, sekaligus darah seni dari ayahnya, KH Ahmad Dahlan.
Latar belakang tersebut berkaitan dengan lahirnya simbol matahari Muhammadiyah yang memiliki pesan tentang cahaya dan pencerahan.
Menurut Haedar, matahari merupakan sumber cahaya sekaligus sumber kehidupan. Karena itu, simbol matahari dalam logo Muhammadiyah tidak semestinya hanya dipahami sebagai identitas organisasi, tetapi juga menjadi pesan yang dihidupkan oleh setiap warga Persyarikatan.
“Muhammadiyah Aisyiyah di mana pun berada, dia harus menjadi cahaya kehidupan. Ketika banyak orang putus asa tentang hidup, seberat apa pun itu kita harus tetap jadi cahaya dan jangan ikut menciptakan suasana gelap dan hilang harapan. Di situlah pentingnya Muhammadiyah,” pesan Haedar.
Makna tersebut menempatkan matahari sebagai representasi peran Muhammadiyah dalam menghadirkan pencerahan.
Cahaya tidak hanya berfungsi menerangi, tetapi juga memberi kehidupan dan menunjukkan jalan ketika berada dalam kegelapan.
Bendera Muhammadiyah.Tulisan “Muhammadiyah” yang berada di bagian tengah logo menegaskan identitas Persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912. Nama tersebut juga menggambarkan gerakan yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, dua kalimat syahadat yang mengelilingi tulisan “Muhammadiyah” merepresentasikan komitmen Persyarikatan untuk menegakkan tauhid dan kalimah Allah serta mengikuti Rasulullah SAW.
Dengan demikian, unsur tulisan dalam logo Muhammadiyah berkaitan dengan identitas Persyarikatan sekaligus landasan keislaman yang menjadi dasar gerakannya.
Filosofi logo Muhammadiyah juga tercermin dari penggunaan warna hijau dan putih.
Berdasarkan tulisan HM Sukriyanto AR dalam Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 10 Tahun 2015, warna hijau menurut KH Siraad Dahlan merupakan warna yang ditawarkan Allah SWT kepada umat Islam.
Pemaknaan tersebut merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an yang menyebut warna hijau dalam gambaran kenikmatan di surga. Di antaranya QS Ar-Rahman ayat 76, QS Al-Insan ayat 21, dan QS Al-Kahfi ayat 31.
Dalam perkembangan pemaknaannya, warna hijau kerap dipahami sebagai simbol kesejukan, kesegaran, kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman.
Makna tersebut selaras dengan karakter dakwah Muhammadiyah yang berkomitmen menghadirkan dakwah Islam yang mencerahkan, menyejukkan, dan membawa ketentraman melalui amal shalih yang menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).
Sementara itu, warna putih pada sinar matahari Muhammadiyah juga memiliki makna tersendiri. Putih dikenal sebagai warna yang disukai Rasulullah SAW.
Dalam riwayat yang disampaikan tentang KH Ahmad Dahlan, warna tersebut juga dimaknai sebagai harapan agar warga Muhammadiyah senantiasa memancarkan cahaya Islam dengan niat yang bersih dan hati yang suci.
Cahaya putih juga menjadi simbol dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan tanpa pamrih dan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
Karena itu, sinar matahari dalam logo Muhammadiyah tidak hanya menggambarkan cahaya yang menerangi, tetapi juga kebersihan niat dalam menjalankan gerakan dakwah.
Berbagai unsur dalam logo Muhammadiyah menunjukkan bahwa simbol Persyarikatan sejak awal tidak hanya berkaitan dengan estetika atau keindahan visual.
Setiap unsur di dalamnya memiliki gagasan dan nilai yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam momentum peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Haedar menegaskan pentingnya warga Muhammadiyah terus belajar memahami hubungan antara estetika dan makna.
“Muhammadiyah sejak awal memang telah melahirkan simbol logo. Maka kita di Muhammadiyah harus belajar tentang estetika dan makna di baliknya, bahwa makna adalah sesuatu yang bernilai di balik benda atau sesuatu yang eksis yang kita hadapi. Sedangkan estetika adalah sesuatu yang memiliki keindahan,” tutur Haedar.
Bagi Haedar, memahami estetika logo Muhammadiyah juga berarti memahami pesan yang perlu dihidupkan dalam gerakan Persyarikatan.
Simbol matahari tidak cukup hanya menjadi identitas visual, tetapi juga menjadi spirit dakwah agar Muhammadiyah dan Aisyiyah senantiasa menjadi cahaya pencerahan di tengah persoalan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan global.
Sejarah logo Muhammadiyah menunjukkan adanya keterkaitan antara simbol, identitas, dan nilai yang dibawa Persyarikatan.
Unsur matahari, tulisan Muhammadiyah, dua kalimat syahadat, serta warna hijau dan putih memiliki pemaknaan yang berkaitan dengan ajaran dan gerakan dakwah.
Pemaknaan tersebut menjadi bagian dari pesan yang terus diwariskan kepada warga Muhammadiyah dari generasi ke generasi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.