Editor
KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) mulai menyiapkan sejumlah langkah setelah resmi berdiri sebagai unit baru eselon I.
Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said menargetkan lembaganya mampu menunjukkan capaian bermakna dalam 100 hari kerja pertama.
Baca juga: Jadi Dirjen Pesantren Pertama, Basnang Said Diberi Target 100 Hari
“Dalam 100 hari pertama, Direktorat Jenderal Pesantren harus mampu menunjukkan capaian yang bermakna bagi pesantren. Sebelum tahun 2027, capaian itu harus bisa kita tunjukkan kepada Menteri Agama,” ujar Basnang Said di Jakarta, Rabu (16/9/2026), seperti dilansir dari Antara.
Sebelumnya, Basnang Said resmi dilantik oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai Direktur Jenderal Kementerian Agama pada Selasa.
Baca juga: Menag: Pesantren Harus Jadi Penjaga Akhlak dan Karakter Umat
Basnang mengatakan langkah awal yang akan dilakukan Ditjen Pesantren adalah memperkuat perencanaan dan penganggaran.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penataan kelembagaan setelah Ditjen Pesantren resmi berdiri sebagai unit eselon I.
Menurutnya, penguatan perencanaan dan penganggaran diperlukan agar setiap program memiliki target yang jelas. Anggaran yang disusun juga harus diarahkan pada program yang memberikan manfaat nyata bagi pesantren.
Penguatan Ditjen Pesantren akan bertumpu pada tiga fungsi utama pesantren, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan. Karena itu, penataan organisasi serta sumber daya manusia menjadi bagian penting untuk membangun fondasi kelembagaan baru tersebut.
“Ditjen Pesantren sudah resmi terbentuk. Tanggung jawab pelaksanaannya sekarang kita emban bersama,” katanya.
Basnang juga menekankan percepatan sejumlah program strategis di lingkungan pesantren. Beberapa di antaranya mencakup digitalisasi, sanitasi, serta penanganan kekerasan seksual di pesantren.
Ia mengingatkan agar penyerapan anggaran tidak berhenti pada realisasi keuangan. Setiap anggaran yang digunakan harus disertai pelaksanaan kegiatan dan capaian yang dapat diukur.
Dengan demikian, program Ditjen Pesantren pada masa awal pembentukannya tidak hanya berorientasi pada penataan internal. Pelaksanaan program juga diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan oleh pesantren.
Sementara itu, Inspektur II Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Mohamad Ali Irfan menekankan pentingnya penajaman perencanaan yang berbasis fungsi, output, dan data tunggal.
Menurutnya, nomenklatur anggaran perlu disusun secara tepat untuk mencegah terjadinya duplikasi program. Penyusunan tersebut juga diperlukan agar penggunaan setiap rupiah anggaran dapat ditelusuri manfaatnya.
“Penajaman KRO/RO bukan sekadar perbaikan administratif, melainkan fondasi agar setiap rupiah anggaran dapat dilacak manfaatnya,” kata dia.
Ia menyebut terdapat empat fokus utama yang perlu menjadi arsitektur program Ditjen Pesantren. Keempatnya meliputi pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan manajemen.
Keempat fokus tersebut menjadi bagian dari penataan program Ditjen Pesantren setelah terbentuk sebagai unit eselon I.
Penajaman perencanaan dan penganggaran diharapkan dapat menjadi dasar pelaksanaan program yang terukur dalam masa awal kerja lembaga tersebut.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.