Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Daun kelor menjadi simbol utama dalam logo Tanwir dan Milad Ke-114 Muhammadiyah.
Pemilihan tanaman tersebut bukan sebatas pertimbangan visual, melainkan mengandung tiga filosofi yang menggambarkan karakter gerakan Muhammadiyah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, tiga makna itu meliputi kesederhanaan dan ketangguhan, keluasan wawasan, serta kesejahteraan.
Baca juga: Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Menurut Haedar, estetika sebuah simbol tidak dapat dipisahkan dari nilai dan makna di baliknya. Karena itu, logo tidak hanya menjadi ornamen visual, tetapi juga sarana untuk memahami gagasan yang lebih luas.
“Bila hidup kita ini punya nilai, makna, dan estetika, maka akan banyak kekayaan atau khazanah yang bisa kita raih, kita peroleh,” ujar Haedar dikutip dari laman Muhammadiyah, Minggu (13/9/2026).
Daun kelor dipilih karena tanaman tersebut tumbuh subur di Indonesia, termasuk di Palu, Sulawesi Tengah, yang menjadi lokasi penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah 2026.
Haedar menyebut, kelor sebagai miracle tree atau pohon ajaib. Sebutan itu tidak hanya merujuk pada manfaat tanaman tersebut, tetapi juga sejumlah nilai yang dinilai relevan dengan karakter dan arah gerakan Muhammadiyah.
Baca juga: Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Filosofi pertama adalah kesederhanaan dan ketangguhan. Pohon kelor merupakan tanaman sederhana yang dapat tumbuh dalam berbagai kondisi tanpa membutuhkan perawatan rumit.
Karakter tersebut, menurut Haedar, menggambarkan gerakan Muhammadiyah yang perlu menjaga kesederhanaan tanpa kehilangan nilai dan tujuan.
“Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini, harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme,” kata Haedar.
Kesederhanaan yang dimaksud bukan sekadar penampilan, melainkan sikap yang tetap berpijak pada nilai dan diwujudkan dalam gerakan yang tangguh.
Filosofi kedua berkaitan dengan keluasan wawasan dan pergerakan. Haedar menghubungkannya dengan pepatah “dunia tak selebar daun kelor”.
Ungkapan tersebut digunakan sebagai pintu masuk untuk memaknai daun kelor dari sudut pandang yang lebih luas.
“Daun kelor memiliki arti keluasan yang bermakna akan keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan, dan keluasan jelajah pergerakan kita,” ujar Haedar.
Ia mengingatkan warga Muhammadiyah agar tidak berpikir sempit dan membatasi ruang pergaulan. Gerakan Muhammadiyah, menurut dia, perlu terus memperluas wawasan dan jangkauannya.
Filosofi ketiga adalah kesejahteraan dan kemakmuran. Daun kelor memiliki manfaat bagi kehidupan serta dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan.
“Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan,” ucap Haedar.
Makna tersebut sejalan dengan orientasi gerakan Muhammadiyah yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi juga berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Haedar kemudian mengajak seluruh warga dan pimpinan Muhammadiyah melakukan “mi’raj pikiran”. Istilah itu merujuk pada upaya melampaui pembacaan simbol secara lahiriah untuk menemukan makna yang lebih mendalam.
Ia menjelaskan, simbol dapat dibaca melalui tiga pendekatan dalam filsafat makna.
Pertama, pendekatan bahasa yang membantu seseorang memahami makna referensial di balik bentuk atau simbol.
Kedua, pendekatan ideasional yang memandang simbol sebagai hasil dari ide dan gagasan.
“Mereka yang banyak gagasannya, mereka itulah yang bisa melahirkan banyak simbol dan bisa memaknai simbolnya. Sebaliknya, mereka yang tidak ada gagasan, dialah yang tidak bisa membaca simbol,” ujar Haedar.
Ketiga, pendekatan eksistensial yang melihat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dengan esensi pencerahan.
Dalam pendekatan tersebut, manusia dipandang memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab dalam menjalani kehidupannya. Eksistensi manusia juga tidak terlepas dari hubungannya dengan agama dan Tuhan.
“Dan iman adalah penghubung antara eksistensi manusia dengan Tuhannya,” kata Haedar.
Haedar juga menekankan pentingnya menjaga identitas organisasi agar Muhammadiyah mampu mempertahankan kekuatan dan relevansinya setelah lebih dari satu abad berdiri.
Mengacu pada teori identitas organisasi Albert dan Whetten, ia menyebut terdapat tiga tiga unsur utama yang perlu dimiliki sebuah organisasi.
Pertama, nilai sentral yang menjadi inti organisasi. Bagi Muhammadiyah, nilai tersebut adalah ajaran Islam.
Kedua, nilai yang bertahan dan berkelanjutan sehingga identitas organisasi tidak mudah berubah akibat pergantian zaman.
Ketiga, nilai pembeda yang membuat organisasi memiliki karakter khas dibandingkan organisasi lain.
“Organisasi harus punya identitas yang nilainya harus shalihun fi kulli zaman wa makan. Artinya, harus bisa adaptif terhadap perkembangan zaman dan keadaan,” ujar Haedar.
Menurut dia, Muhammadiyah perlu menjaga nilai-nilai dasarnya sekaligus terbuka terhadap perubahan.
Kemajuan tidak harus membuat sebuah organisasi kehilangan identitas, sedangkan mempertahankan identitas bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman.
Haedar mengatakan, seluruh unsur persyarikatan perlu merawat pemikiran, sikap, sumber daya, dan perspektif Islam berkemajuan agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan yang berlandaskan nilai.
Dengan demikian, logo Milad Ke-114 tidak berhenti sebagai identitas visual.
Simbol daun kelor di dalamnya menjadi pengingat agar Muhammadiyah tetap sederhana dan tangguh, memiliki wawasan luas, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.