Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah MTQ di Indonesia, Bermula dari Majelis Qari di Masjid Sunan Ampel

Kompas.com, 13 September 2026, 07:05 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Indonesia bermula dari tradisi membaca Al-Qur’an yang tumbuh di tengah masyarakat.

Berawal dari majelis para qari, kegiatan tersebut berkembang menjadi perlombaan, kemudian dilembagakan pemerintah dan menjelma sebagai tradisi nasional dengan cabang yang semakin beragam.

MTQ kini tidak hanya menguji kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menghafal, memahami, menafsirkan, menulis, dan menyampaikan kandungannya.

Pada 2026, MTQ Nasional memasuki penyelenggaraan ke-31 yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, pada 11–20 September 2026.

Baca juga: Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI

Berawal dari gerakan masyarakat

MTQ telah berkembang di Indonesia sejak dekade 1940-an, beriringan dengan berdirinya Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz yang dibentuk Nahdlatul Ulama (NU).

Kegiatan membaca Al-Qur’an dengan seni suara juga tumbuh di berbagai daerah. Dari aktivitas yang digerakkan masyarakat dan organisasi Islam, kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi agenda resmi pemerintah.

Saat membuka MTQ Nasional XXVI di Islamic Center, Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 30 Juli 2016, Menteri Agama periode 2014–2019 Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan cikal bakal MTQ yang kemudian menjadi kegiatan rutin sekaligus bagian dari budaya bangsa.

“Pada mulanya, kegiatan ini diinisiasi para qari di Masjid Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1950-an. Majelis pembacaan Qur’an dengan seni suara itu dimaksudkan sebagai upaya penjiwaan terhadap Qur’an di sanubari umat Islam agar mereka menjadi manusia yang lebih berbudaya,” kata Lukman.

Baca juga: Sejak 1968, MTQ di Indonesia Digelar Berjenjang hingga Tingkat Nasional

Menurut dia, kegiatan tersebut berakar dari tradisi dakwah Wali Songo. Melihat tingginya animo masyarakat, salah satu penggagas majelis tersebut, Kiai Bashori Alwi, kemudian menyampaikan gagasan mengenai lomba baca Al-Qur’an kepada pemerintah.

Usulan itu menjadi salah satu titik penting dalam perubahan kegiatan yang semula tumbuh di tengah masyarakat menjadi musabaqah yang lebih terorganisasi.

Dari majelis qari menjadi musabaqah

Gagasan tersebut kemudian mendapat sambutan dari pemerintah. Presiden Soekarno merespons usulan itu dengan menggelar musabaqah bertaraf internasional dalam rangkaian Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada 1965.

“Presiden Soekarno lalu menyambut usulan tersebut dengan menggelar musabaqah internasional pada saat Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Itulah MTQ pertama kali dan langsung bertaraf internasional. Setelah itu, Bung Karno menugaskan 11 orang qari Indonesia bermuhibah ke beberapa negara sahabat,” ungkap Lukman dalam rilisnya. 

Setelah melihat besarnya manfaat syiar melalui Al-Qur’an, pemerintah kemudian melembagakan MTQ sebagai kegiatan resmi yang diselenggarakan secara bergiliran di berbagai daerah.

MTQ tingkat nasional untuk pertama kalinya digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1968. Ketika itu, cabang yang diperlombakan masih terbatas pada tilawah golongan dewasa.

Dari penyelenggaraan perdana tersebut, muncul qari Ahmad Syahid dari Jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.

Menjadi tradisi nasional

MTQ diselenggarakan setiap tahun sejak 1968 hingga 1981. Setelah MTQ Nasional di Aceh pada 1981, penyelenggaraannya berubah menjadi tiga tahun sekali, sebelum kemudian menggunakan pola dua tahunan.

Seiring waktu, MTQ berkembang menjadi kompetisi berjenjang, mulai dari tingkat desa atau kelurahan, kecamatan, kabupaten dan kota, hingga provinsi.

Para peserta terbaik dari setiap provinsi kemudian dikirim untuk mengikuti MTQ tingkat nasional bersama kafilah dari seluruh Indonesia.

Pola tersebut memungkinkan pembinaan dan seleksi peserta dilakukan secara berkelanjutan di berbagai daerah.

Selain MTQ, pemerintah juga menyelenggarakan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH). Cabang yang dipertandingkan dalam STQH lebih terbatas dibandingkan dengan MTQ.

MTQ digelar setiap dua tahun sekali dan berselang-seling dengan STQH. Namun, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan pemerintah akan mengubah pola tersebut dengan menyelenggarakan MTQ setiap tahun.

“Kita sudah memutuskan bahwa setiap tahun akan dilaksanakan MTQ. Sebab, energi yang dikeluarkan dalam penyelenggaraan STQ relatif sama dengan MTQ. Karena itu, sekalian saja kita ubah menjadi MTQ,” ujar Nasaruddin, Jumat (11/9/2026).

Pernyataan itu disampaikan seusai menghadiri Malam Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.

Menurut Nasaruddin, perubahan tersebut juga mempertimbangkan panjangnya daftar tunggu daerah yang ingin menjadi tuan rumah.

“Selama ini, daftar tunggu provinsi untuk menyelenggarakan MTQ sangat panjang. Jika hanya digelar dua tahun sekali, pemerataannya akan memakan waktu lama, seperti Jawa Tengah yang baru kembali menjadi tuan rumah setelah 47 tahun,” ujarnya.

Kebijakan tersebut kembali disampaikan Nasaruddin saat memberikan sambutan pada pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Semarang, sehari kemudian.

“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu, demi syiar, Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tetapi yang kita lakukan adalah MTQ,” kata Nasaruddin.

Dari tilawah menuju pemahaman Al-Quran

Pada awal penyelenggaraannya, MTQ lebih menonjolkan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan suara dan lagu.

Seiring waktu, jenis perlombaan terus bertambah. MTQ tidak lagi hanya menjadi panggung seni baca Al-Qur’an, tetapi juga mencakup Musabaqah Hifzh Al-Qur’an, Musabaqah Syarh Al-Qur’an, Musabaqah Fahm Al-Qur’an, Khath Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an, serta Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an.

Lukman menilai keragaman cabang tersebut menunjukkan bahwa cakupan MTQ jauh lebih luas daripada seni membaca Al-Qur’an.

“Saat itu, selain tilawah, sudah ada beberapa cabang yang diperlombakan semisal kaligrafi, tafsir, tahfizh, dan syarhil Qur’an. Keragaman lomba ini menandakan bahwa MTQN bukan hanya kegiatan yang menampilkan seni suara saja. Namun, menjadi forum ilmiah bagaimana menafsir, menalar, dan menarasikan Al-Qur’an,” paparnya.

Dengan perkembangan tersebut, MTQ mencakup aktivitas membaca, menghafal, menulis, memahami, menafsirkan, dan menyampaikan tuntunan Al-Qur’an secara lebih menyeluruh.

Bertambahnya cabang perlombaan tidak sekadar memperluas kompetisi, tetapi juga menunjukkan semakin beragamnya cara umat Islam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Komunitas Tuli Muslim dalam MTQ 2026

Perjalanan MTQ berlanjut hingga penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah, pada 11–20 September 2026.

Setelah lebih dari setengah abad menjadi tradisi nasional, MTQ terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Salah satu perkembangannya adalah penyelenggaraan Eksibisi Disabilitas Tuli sebagai ruang partisipasi sekaligus upaya memperluas akses terhadap layanan keagamaan yang inklusif.

Sebanyak 28 peserta dari 14 komunitas Tuli Muslim dijadwalkan mengikuti eksibisi pada 14–16 September 2026. Mereka akan tampil dalam dua golongan, yakni Tilawah Al-Qur’an Isyarat dan Kitabah Al-Qur’an Isyarat.

Nasaruddin mengatakan, MTQ Nasional XXXI menjadi momentum untuk semakin memperkenalkan Al-Qur’an Isyarat kepada masyarakat.

Penyelenggaraan eksibisi tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak penyandang disabilitas, termasuk dalam pelayanan keagamaan.

“Al-Qur’an adalah tuntunan bagi seluruh umat. Kita harus memastikan saudara-saudara kita penyandang disabilitas juga memiliki ruang dan akses yang semakin luas untuk mempelajari, memahami, dan mencintai Al-Qur’an,” kata Nasaruddin.

Daftar tuan rumah MTQ Nasional

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1968, MTQ Nasional telah digelar sebanyak 31 kali. Berikut daftar tuan rumahnya:

1. MTQ Nasional I 1968: Makassar, Sulawesi Selatan
2. MTQ Nasional II 1969: Bandung, Jawa Barat
3. MTQ Nasional III 1970: Banjarmasin, Kalimantan Selatan
4. MTQ Nasional IV 1971: Medan, Sumatera Utara
5. MTQ Nasional V 1972: Jakarta
6. MTQ Nasional VI 1973: Mataram, Nusa Tenggara Barat
7. MTQ Nasional VII 1974: Surabaya, Jawa Timur
8. MTQ Nasional VIII 1975: Palembang, Sumatera Selatan
9. MTQ Nasional IX 1976: Samarinda, Kalimantan Timur
10. MTQ Nasional X 1977: Manado, Sulawesi Utara
11. MTQ Nasional XI 1979: Semarang, Jawa Tengah
12. MTQ Nasional XII 1981: Banda Aceh, Aceh
13. MTQ Nasional XIII 1983: Padang, Sumatera Barat
14. MTQ Nasional XIV 1985: Pontianak, Kalimantan Barat
15. MTQ Nasional XV 1988: Bandar Lampung, Lampung
16. MTQ Nasional XVI 1991: Yogyakarta
17. MTQ Nasional XVII 1994: Pekanbaru, Riau
18. MTQ Nasional XVIII 1997: Jambi
19. MTQ Nasional XIX 2000: Palu, Sulawesi Tengah
20. MTQ Nasional XX 2003: Palangkaraya, Kalimantan Tengah
21. MTQ Nasional XXI 2006: Kendari, Sulawesi Tenggara
22. MTQ Nasional XXII 2008: Serang, Banten
23. MTQ Nasional XXIII 2010: Bengkulu
24. MTQ Nasional XXIV 2012: Ambon, Maluku
25. MTQ Nasional XXV 2014: Batam, Kepulauan Riau
26. MTQ Nasional XXVI 2016: Mataram, Nusa Tenggara Barat
27. MTQ Nasional XXVII 2018: Medan dan Deli Serdang, Sumatera Utara
28. MTQ Nasional XXVIII 2020: Padang Pariaman, Sumatera Barat
29. MTQ Nasional XXIX 2022: Banjarbaru, Banjar, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan
30. MTQ Nasional XXX 2024: Samarinda, Kalimantan Timur
31. MTQ Nasional XXXI 2026: Semarang, Jawa Tengah

MTQ bermula dari tradisi membaca Al-Qur’an yang tumbuh di masyarakat, kemudian berkembang menjadi agenda nasional dengan beragam cabang perlombaan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Sejarah MTQ di Indonesia, Bermula dari Majelis Qari di Masjid Sunan Ampel
Sejarah MTQ di Indonesia, Bermula dari Majelis Qari di Masjid Sunan Ampel
Aktual
Saudi dan 7 Negara Muslim Sambut Larangan Inggris Impor Produk dari Permukiman Israel
Saudi dan 7 Negara Muslim Sambut Larangan Inggris Impor Produk dari Permukiman Israel
Aktual
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Aktual
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Aktual
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Aktual
Sejak 1968, MTQ di Indonesia Digelar Berjenjang hingga Tingkat Nasional
Sejak 1968, MTQ di Indonesia Digelar Berjenjang hingga Tingkat Nasional
Aktual
Link Live Streaming Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Sabtu 12 September 2026
Link Live Streaming Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Sabtu 12 September 2026
Aktual
Tangis Haru dan Bangga Warga Semarang Saksikan Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI
Tangis Haru dan Bangga Warga Semarang Saksikan Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI
Aktual
 Sejarah Al-Qur’an, dari Turunnya Wahyu Pertama hingga Menjadi Pedoman Hidup
Sejarah Al-Qur’an, dari Turunnya Wahyu Pertama hingga Menjadi Pedoman Hidup
Aktual
Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Jadi Sumber Inspirasi Pengembangan Ilmu Kedokteran
Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Jadi Sumber Inspirasi Pengembangan Ilmu Kedokteran
Aktual
Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
Aktual
Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Semarakkan Kota Semarang
Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Semarakkan Kota Semarang
Aktual
Jelang Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Simpang Lima Semarang Dilengkapi Tempat Wudhu hingga Air Minum Gratis
Jelang Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Simpang Lima Semarang Dilengkapi Tempat Wudhu hingga Air Minum Gratis
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar