Editor
KOMPAS.com - Ilmu kedokteran tidak hanya berkaitan dengan tubuh dan pengobatan, tetapi juga menyentuh kehidupan, rasa sakit, harapan, serta martabat manusia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong mahasiswa kedokteran di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan riset.
Baca juga: 5 Kebiasaan Berlandaskan Al-Quran untuk Menjadi Muslim Berkemajuan
Salah satu cabang ilmu yang paling dekat dengan kehidupan manusia adalah ilmu kedokteran karena mempelajari tubuh, kehidupan, penyakit, serta berbagai upaya untuk menjaga dan memulihkan kesehatan.
Sejak manusia mengenal kehidupan, upaya memahami penyakit dan mencari pengobatan juga terus berkembang melalui orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk merawat kehidupan.
Baca juga: MTQ Nasional XXXI, Menag Dorong Al-Qur’an Jadi Living Quran
Dalam perspektif Islam, menjaga kehidupan merupakan salah satu amanah besar manusia. Kehidupan dipandang sebagai anugerah yang patut dijaga dan disyukuri dengan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain.
Tubuh manusia juga menyimpan banyak rahasia yang belum seluruhnya mampu dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Karena itu, Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri.
"Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat [51]: 21).
Ayat tersebut memang bukan teks kedokteran, tetapi mengajarkan sikap ilmiah untuk memperhatikan, merenungkan, bertanya, dan terus mencari tahu tentang manusia.
Al-Qur’an juga disebut sebagai syifā’, obat atau penyembuh terhadap apa yang ada di dalam hati manusia (QS. Yunus [10]: 57). Al-Qur’an memberikan petunjuk, ketenangan, dan orientasi dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, hubungan antara Al-Qur’an dan ilmu kedokteran perlu ditempatkan secara proporsional.
Al-Qur’an bukan kitab kedokteran, melainkan kitab petunjuk yang menginspirasi manusia untuk membaca kehidupan dan menemukan kemaslahatan di dalamnya.
Tradisi keilmuan Islam sendiri memiliki sejarah panjang dalam pengembangan berbagai cabang ilmu.
Ibnu Sina menjadi salah satu tokoh besar yang memberikan sumbangan penting bagi perkembangan kedokteran, sementara Ibnu Rusyd memiliki perhatian luas terhadap kedokteran, filsafat, dan berbagai bidang pengetahuan.
Keduanya menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, ilmu tidak selalu ditempatkan dalam kotak-kotak yang terpisah.
Mencari ilmu bukan hanya bertujuan menguasai pengetahuan, tetapi juga menjadi jalan untuk memahami kehidupan yang pada akhirnya membawa manusia kepada kesadaran tentang kebesaran Allah.
Kemampuan seorang dokter tidak cukup hanya diukur dari kecakapan mendiagnosis penyakit dan memberikan terapi.
Dokter berhadapan langsung dengan manusia yang mengalami rasa sakit, kecemasan, harapan, hingga ketakutan terhadap kematian.
Karena itu, tubuh manusia yang menjadi objek kajian medis juga memiliki martabat yang harus dihormati.
Ilmu kedokteran memang mengajarkan manusia tentang tubuh, tetapi pengetahuan tersebut dapat mengantarkan pada pertanyaan yang lebih mendalam mengenai pencipta keteraturan luar biasa di dalam tubuh manusia.
Semakin manusia memahami anatomi tubuh, sel, organ, sistem saraf, dan berbagai mekanisme kehidupan, semakin banyak pula keajaiban yang dapat ditemukan.
Pengetahuan tersebut pada akhirnya dapat membawa manusia untuk membaca keteraturan kehidupan sebagai bagian dari kebesaran Sang Pencipta.
Nasaruddin mendorong mahasiswa kedokteran di PTKIN untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Namun, hal tersebut tidak berarti setiap ayat harus dipaksakan menjadi teori kedokteran atau dicari pembenaran ilmiahnya.
Al-Qur’an memberikan hudan atau petunjuk yang dapat membentuk cara pandang, membangun kesadaran, dan menumbuhkan rasa ingin tahu.
Ketika Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan dirinya, alam semesta, penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, serta berbagai fenomena kehidupan, manusia didorong untuk tidak berhenti pada apa yang tampak.
Dalam kerangka tersebut, agama dan sains tidak perlu dipertentangkan. Agama memberikan orientasi nilai dan arah moral, sedangkan sains menyediakan metode untuk mengamati, meneliti, menguji, dan menemukan pengetahuan.
Agama bertanya untuk apa ilmu digunakan, sementara sains membantu manusia menemukan bagaimana sesuatu dapat dilakukan. Keduanya dapat berjalan bersama dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Seorang ilmuwan Muslim tidak harus memilih antara menjadi religius dan menjadi ilmuwan. Kedalaman spiritual justru dapat memberikan arah bagi pengembangan ilmu, sementara ilmu pengetahuan dapat memperkaya kedalaman perenungan keagamaan.
Mahasiswa kedokteran di PTKIN memiliki posisi strategis karena mempelajari anatomi, fisiologi, farmakologi, teknologi kesehatan, dan berbagai cabang ilmu kedokteran sekaligus tumbuh dalam tradisi keislaman.
Dua bidang tersebut dinilai tidak perlu dipisahkan, tetapi dapat dipertemukan melalui tradisi riset yang kuat dan berorientasi pada kemaslahatan.
Nasaruddin berharap kampus-kampus Islam melahirkan penelitian yang tidak hanya mengejar jumlah publikasi, tetapi juga menyentuh persoalan nyata dalam kehidupan manusia.
Bidang tersebut antara lain kesehatan masyarakat, kesehatan mental, teknologi kedokteran, lingkungan, nutrisi, penuaan, penyakit degeneratif, hingga etika kedokteran di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Kemajuan ilmu, menurutnya, tidak boleh kehilangan arah kemanusiaannya.
Dokter masa depan tidak hanya dituntut mampu mengobati penyakit, tetapi juga memahami manusia secara utuh, termasuk tubuh, jiwa, lingkungan sosial, serta tanggung jawabnya kepada Tuhan.
Karena itu, mahasiswa kedokteran didorong tidak berhenti pada kemampuan mengobati penyakit.
Mereka juga diharapkan menjadi ilmuwan yang mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui ilmu pengetahuan serta menjadikan ilmu sebagai jalan untuk membangun kerendahan hati.
Semakin dalam seseorang memahami kehidupan, semestinya semakin dalam pula kesadarannya tentang kebesaran Sang Pencipta.
Al-Qur’an memberi inspirasi. Ilmu memberi jalan untuk melakukan ikhtiar dan pembuktian, sedangkan kemanusiaan memberi tujuan.
Dari kampus-kampus Islam diharapkan lahir generasi dokter dan ilmuwan yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat risetnya, luhur akhlaknya, dan luas manfaatnya.
Sebab, ilmu yang paling tinggi bukanlah ilmu yang membuat manusia merasa paling tahu, melainkan ilmu yang membuat manusia semakin menyadari bahwa di balik setiap pengetahuan masih terbentang keluasan ilmu Tuhan yang tidak bertepi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.