KOMPAS.com - Keluarga sakinah merupakan cita-cita setiap rumah tangga Muslim. Dalam Islam, sakinah tidak hanya berarti kehidupan yang bebas dari konflik, tetapi juga menghadirkan ketenangan hati, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah SWT di dalam keluarga.
Al-Qur'an menyebut bahwa pernikahan adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sementara Rasulullah SAW mencontohkan bahwa keluarga terbaik dibangun melalui akhlak yang baik, saling menghormati, dan menjalankan amanah sebagai suami, istri, maupun orangtua.
Mewujudkan keluarga sakinah tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Mengucapkan salam ketika pulang, makan bersama, saling mendengarkan, meminta maaf, hingga mendoakan pasangan merupakan kebiasaan sederhana yang memperkuat ikatan keluarga.
Al-Qur'an dan Sunnah menunjukkan bahwa ketenangan rumah tangga lahir dari perpaduan antara cinta, akhlak, ibadah, musyawarah, dan tanggung jawab. Ketika lima nilai tersebut dijaga, keluarga bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat bertumbuhnya iman dan kasih sayang hingga akhir hayat.
Baca juga: Investasi Halal untuk Keluarga Muslim, Apa Saja Pilihannya?
Berikut lima tanda keluarga sakinah menurut Al-Qur'an dan Sunnah.
Tanda pertama keluarga sakinah adalah hadirnya ketenangan sakinah, cinta mawaddah, dan kasih sayang rahmah di antara pasangan.
QS Ar-Rum Ayat 21
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājal litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddataw wa raḥmah. Inna fī żālika la āyātil liqaumiy yatafakkarūn.
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Ayat ini menjadi fondasi konsep keluarga sakinah dalam Islam. Ketenteraman lahir ketika suami dan istri saling menjadi tempat pulang, bukan sumber ketakutan.
Baca juga: Menag Nasaruddin: Super AI Tak Punya Moral, Agama Harus Bersuara
Rasulullah SAW menegaskan bahwa ukuran kebaikan seorang Muslim tampak dari cara ia memperlakukan keluarganya.
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Khairukum khairukum li ahlihī wa anā khairukum li ahli.
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (Jami' at-Tirmidzi No. 3895)
Hadis ini menunjukkan bahwa akhlak di dalam rumah lebih penting daripada citra di hadapan orang lain. Keluarga sakinah dibangun melalui tutur kata yang lembut, saling menghargai, dan menghindari kekerasan maupun penghinaan.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam rumah tangga. Yang membedakan keluarga sakinah adalah cara menyelesaikannya, yakni melalui musyawarah dan saling mendengar.
Allah berfirman dalam QS Asy-Syura Ayat 38:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
Wa amruhum syūrā bainahum.
Artinya: “Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
Baca juga: Saudi Kecam Drone Houthi yang Mengarah ke Makkah, Tegaskan Hak Lindungi Dua Masjid Suci
Meskipun ayat ini berbicara tentang karakter orang beriman secara umum, para ulama menjadikannya sebagai prinsip dalam kehidupan keluarga. Keputusan mengenai pendidikan anak, keuangan, maupun persoalan rumah tangga sebaiknya dibicarakan bersama, bukan diputuskan secara sepihak.
Rumah yang sakinah bukan hanya nyaman secara emosional, tetapi juga hidup dengan ibadah. Rasulullah SAW menganjurkan agar rumah tidak dibiarkan kosong dari shalat sunnah dan zikir.
اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
Ij‘alū fī buyūtikum min ṣalātikum wa lā tattakhiżūhā qubūrā.
Artinya: “Laksanakanlah sebagian shalat kalian di rumah, dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (Sahih al-Bukhari No. 432)
Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah menghadirkan keberkahan dalam keluarga. Membaca Al-Qur'an, shalat sunnah, dan berdoa bersama menjadi cara menumbuhkan suasana spiritual di rumah.Baca juga: 6 Cara Membuktikan Cinta dan Kerinduan kepada Rasulullah SAW
Keluarga sakinah lahir ketika setiap orang memahami tanggung jawabnya. Suami, istri, maupun orangtua sama-sama memikul amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Kullukum rā‘in wa kullukum mas'ūlun ‘an ra‘iyyatih.
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Sahih al-Bukhari No. 7138)
Hadis ini menegaskan bahwa keluarga bukan sekadar ikatan emosional, melainkan amanah. Suami bertanggung jawab memimpin dengan adil, istri menjaga rumah tangga, dan orangtua mendidik anak dengan kasih sayang serta nilai-nilai Islam.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.