Editor
SEMARANG, KOMPAS.com — Muslim Dermiwa Riko Putra telah menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz sejak berusia 10 tahun.
Namun, bagi peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI 2026 asal Sumatera Barat itu, perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an tidak berhenti ketika seluruh juz berhasil dihafalkan.
Menurut Muslim, hafalan harus terus diulang atau dimurajaah agar tetap terjaga.
“Memang harus diulang. Sampai selesai pun, sampai mati pun masih harus diulang,” ujar Muslim dikutip dari laman Kemenag, Jumat (18/9/2026).
Baca juga: Kisah UMKM Lokal yang Meraup Rezeki di Gelaran MTQ Nasional 2026
Muslim mulai menghafal Al-Qur’an ketika berusia lima tahun. Saat itu, orangtuanya memasukkannya ke TK Tahfiz.
Dua tahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut dengan bekal hafalan 15 juz.
Perjalanan hafalan Muslim berlanjut ketika keluarganya pindah ke Makkah. Di sana, ia belajar bersama masyarakat setempat hingga berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz pada usia 10 tahun.
Kini, Muslim duduk di kelas III SMA Pondok Pesantren Ashabul Qur’an Situjuah Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Dalam MTQN XXXI, remaja kelahiran 2008 tersebut mengikuti cabang hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Muslim mengawali proses menghafal dengan membaca seluruh bagian yang akan dipelajari. Apabila menargetkan satu halaman, ia terlebih dahulu membaca halaman tersebut secara utuh.
Setelah itu, ia membagi ayat menjadi sejumlah bagian kecil.
“Ketika membaca berulang-ulang sambil melihat Al-Qur’an dirasa sudah efektif, kita tutup Al-Qur’an. Setelah itu, baru kita coba apakah hafalan tadi sudah lancar,” katanya.
Cara serupa diterapkan pada ayat panjang. Jika satu ayat terdiri atas tiga baris, ia menghafalnya secara bertahap sesuai kemampuan.
“Misalnya kita mampu satu baris, kita hafal satu baris. Kita baca berulang-ulang, kemudian tutup Al-Qur’an. Jika sudah lancar, kita lanjutkan ke baris kedua,” ujarnya.
Baca juga: 6 Peserta Terbaik Tartil Al-Qur’an Isyarat MTQ Nasional 2026, Ini Daftar Nama dan Nilainya
Menurut Muslim, menghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan menambah hafalan baru. Setiap ayat yang telah dikuasai perlu terus dibaca kembali agar tidak mudah terlupakan.
“Setelah satu halaman selesai, yang penting diulang lagi. Banyak sekali ditemukan orang yang menghafal, tetapi jarang mengulang,” tuturnya.
Kebiasaan tersebut turut dibentuk oleh lingkungan keluarganya. Muslim mengatakan, seluruh anggota keluarganya merupakan penghafal Al-Qur’an. Ia pun kerap menghafal dan melakukan murajaah bersama ibunya.
“Alhamdulillah, keluarga saya semuanya penghafal Al-Qur’an. Saya biasanya menghafal bersama ibu. Kalau ayah sedang sibuk bekerja di luar, saya dibantu oleh ibu,” ujarnya.
Bagi Muslim, menjadi hafiz bukan sekadar menguasai hafalan, melainkan juga menjaga serta mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Ia berharap hafalan tersebut menjadi bekal bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Perjalanan yang dimulainya sejak usia lima tahun kini membawa Muslim ke panggung MTQN XXXI.
Di tengah kompetisi, ia terus menjaga hafalan 30 juznya melalui kebiasaan sederhana, tetapi dilakukan tanpa henti: murajaah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.