Editor
KOMPAS.com - Memiliki iman kepada qada dan qadar tidak berarti seorang Muslim harus pasif dan hanya menunggu ketetapan Allah.
Takdir perlu dipahami bersama ikhtiar, doa, tawakal, dan sikap menerima hasil setelah usaha dilakukan.
Baca juga: Tubuh Memiliki Hak, Menjaga Kesehatan adalah Ikhtiar
Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fajar Rachmadhani dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (14/9/2026).
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, dalam kajian tersebut, Fajar membedah hadits keempat dalam Arbain Nawawi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Ra.
Baca juga: Memahami Makna Tawakal dalam Islam, Bukan Pasrah Tanpa Ikhtiar
Fajar menjelaskan bahwa hadis tersebut menyebutkan empat perkara yang telah ditetapkan bagi manusia, yakni rezeki, ajal, amal, serta apakah seseorang kelak termasuk orang yang bahagia atau sengsara.
Namun, pemahaman tentang qada dan qadar tidak boleh berhenti pada anggapan bahwa seluruh kehidupan manusia telah ditentukan sehingga manusia cukup menunggu hasil akhirnya.
“Hadits ini bukan dalam rangka mengajarkan kita agar pasif dalam kehidupan. Enggak,” tegas Fajar.
Menurutnya, para sahabat juga pernah mempertanyakan konsekuensi dari ketetapan tersebut.
Jika tempat seseorang di surga atau neraka telah ditentukan, lantas untuk apa manusia masih diperintahkan beramal.
Pertanyaan tersebut dijawab Nabi SAW dengan perintah untuk tetap beramal. Nabi kemudian menyampaikan kaidah fa kullun muyassarun lima khuliqa lahu, bahwa setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya diciptakan.
“Kata Nabi tetap beramal, tetap berbuat sebanyak-banyaknya,” ujar Fajar.
Fajar menjelaskan bahwa pemahaman tersebut membedakan sikap Ahlus Sunnah dari pandangan yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan usaha.
Ia menggambarkan Jabariyah sebagai pandangan yang meniadakan kehendak manusia, sedangkan Qadariyah digambarkan menekankan kehendak manusia secara berlebihan hingga melupakan kehendak Allah.
Menurut Fajar, posisi pertengahan adalah mengakui adanya kehendak manusia sekaligus meyakini bahwa kehendak tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah.
“Jadi, ahlussunnah ini meyakini bahwa Allah itu ketika menciptakan manusia, Allah berikan kepada manusia ini kehendak. Tapi kehendak manusia tidak terlepas dari kehendak Allah,” jelasnya.
Karena itu, Fajar mengingatkan agar ungkapan qaddarallahu wa ma sya’a fa’al tidak digunakan untuk membenarkan kemalasan atau kegagalan yang terjadi karena seseorang tidak berusaha.
Ia mengutip rangkaian pesan Nabi SAW agar seorang Muslim bersungguh-sungguh mengejar hal yang bermanfaat, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak mudah menyerah.
Dalam memahami qada dan qadar, ikhtiar tetap harus dilakukan secara maksimal. Seorang Muslim tidak cukup hanya menyerahkan hasil kepada Allah tanpa terlebih dahulu melakukan usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
“Setelah Nabi itu mengatakan kerjo sing tenanan gitu ya, ikhtiar yang maksimal, belajar sungguh-sungguh itu artinya ihris ala ma yanfauk. Tapi setelah itu Nabi mengatakan wastain billah,” tuturnya.
Fajar menekankan bahwa ikhtiar dan tawakal harus berjalan bersama. Setelah berusaha secara maksimal dan memohon pertolongan Allah, seorang Muslim diminta tidak berputus asa ketika hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan.
Ketika musibah atau sesuatu yang tidak diharapkan telah terjadi, sikap yang diajarkan Nabi SAW adalah menerima ketetapan Allah.
Seorang Muslim juga tidak dianjurkan terus terjebak dalam penyesalan dengan membayangkan berbagai kemungkinan yang telah berlalu.
“Jadi kata qadarullah ma syaa fa’ala itu kita terima apapun hasilnya suka atau tidak suka setelah kita melewati proses-proses tadi. Itulah prinsip ahlusunah,” jelasnya.
Dengan demikian, takdir ditempatkan setelah ikhtiar, bukan sebagai pengganti ikhtiar. Selama masih memiliki kesempatan, manusia tetap memiliki tugas untuk beramal dan berusaha, sedangkan hasil akhirnya diterima sebagai ketetapan Allah.
“Maka ahlusunah dalam memahami al-qada dan qadar itu, Bapak Ibu yang dirahmati oleh Allah, yang sudah terjadi, biarlah terjadi itu ketetapan Allah dan pasti itulah yang terbaik,” pungkasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.