Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Qada dan Qadar Bukan Alasan untuk Pasif, Ini Cara Memahami Takdir dan Pentingnya Ikhtiar

Kompas.com, 17 September 2026, 20:54 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Memiliki iman kepada qada dan qadar tidak berarti seorang Muslim harus pasif dan hanya menunggu ketetapan Allah.

Takdir perlu dipahami bersama ikhtiar, doa, tawakal, dan sikap menerima hasil setelah usaha dilakukan.

Baca juga: Tubuh Memiliki Hak, Menjaga Kesehatan adalah Ikhtiar

Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fajar Rachmadhani dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (14/9/2026).

Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, dalam kajian tersebut, Fajar membedah hadits keempat dalam Arbain Nawawi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Ra.

Baca juga: Memahami Makna Tawakal dalam Islam, Bukan Pasrah Tanpa Ikhtiar

Apa yang Dimaksud Qada dan Qadar?

Fajar menjelaskan bahwa hadis tersebut menyebutkan empat perkara yang telah ditetapkan bagi manusia, yakni rezeki, ajal, amal, serta apakah seseorang kelak termasuk orang yang bahagia atau sengsara.

Namun, pemahaman tentang qada dan qadar tidak boleh berhenti pada anggapan bahwa seluruh kehidupan manusia telah ditentukan sehingga manusia cukup menunggu hasil akhirnya.

“Hadits ini bukan dalam rangka mengajarkan kita agar pasif dalam kehidupan. Enggak,” tegas Fajar.

Menurutnya, para sahabat juga pernah mempertanyakan konsekuensi dari ketetapan tersebut.

Jika tempat seseorang di surga atau neraka telah ditentukan, lantas untuk apa manusia masih diperintahkan beramal.

Pertanyaan tersebut dijawab Nabi SAW dengan perintah untuk tetap beramal. Nabi kemudian menyampaikan kaidah fa kullun muyassarun lima khuliqa lahu, bahwa setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya diciptakan.

“Kata Nabi tetap beramal, tetap berbuat sebanyak-banyaknya,” ujar Fajar.

Bagaimana Ahlussunnah Memahami Takdir?

Fajar menjelaskan bahwa pemahaman tersebut membedakan sikap Ahlus Sunnah dari pandangan yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan usaha.

Ia menggambarkan Jabariyah sebagai pandangan yang meniadakan kehendak manusia, sedangkan Qadariyah digambarkan menekankan kehendak manusia secara berlebihan hingga melupakan kehendak Allah.

Menurut Fajar, posisi pertengahan adalah mengakui adanya kehendak manusia sekaligus meyakini bahwa kehendak tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah.

“Jadi, ahlussunnah ini meyakini bahwa Allah itu ketika menciptakan manusia, Allah berikan kepada manusia ini kehendak. Tapi kehendak manusia tidak terlepas dari kehendak Allah,” jelasnya.

Karena itu, Fajar mengingatkan agar ungkapan qaddarallahu wa ma sya’a fa’al tidak digunakan untuk membenarkan kemalasan atau kegagalan yang terjadi karena seseorang tidak berusaha.

Ia mengutip rangkaian pesan Nabi SAW agar seorang Muslim bersungguh-sungguh mengejar hal yang bermanfaat, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak mudah menyerah.

Bagaimana Hubungan Takdir dengan Ikhtiar?

Dalam memahami qada dan qadar, ikhtiar tetap harus dilakukan secara maksimal. Seorang Muslim tidak cukup hanya menyerahkan hasil kepada Allah tanpa terlebih dahulu melakukan usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

“Setelah Nabi itu mengatakan kerjo sing tenanan gitu ya, ikhtiar yang maksimal, belajar sungguh-sungguh itu artinya ihris ala ma yanfauk. Tapi setelah itu Nabi mengatakan wastain billah,” tuturnya.

Fajar menekankan bahwa ikhtiar dan tawakal harus berjalan bersama. Setelah berusaha secara maksimal dan memohon pertolongan Allah, seorang Muslim diminta tidak berputus asa ketika hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan.

Bagaimana Sikap Muslim Setelah Mengalami Kegagalan?

Ketika musibah atau sesuatu yang tidak diharapkan telah terjadi, sikap yang diajarkan Nabi SAW adalah menerima ketetapan Allah.

Seorang Muslim juga tidak dianjurkan terus terjebak dalam penyesalan dengan membayangkan berbagai kemungkinan yang telah berlalu.

“Jadi kata qadarullah ma syaa fa’ala itu kita terima apapun hasilnya suka atau tidak suka setelah kita melewati proses-proses tadi. Itulah prinsip ahlusunah,” jelasnya.

Dengan demikian, takdir ditempatkan setelah ikhtiar, bukan sebagai pengganti ikhtiar. Selama masih memiliki kesempatan, manusia tetap memiliki tugas untuk beramal dan berusaha, sedangkan hasil akhirnya diterima sebagai ketetapan Allah.

“Maka ahlusunah dalam memahami al-qada dan qadar itu, Bapak Ibu yang dirahmati oleh Allah, yang sudah terjadi, biarlah terjadi itu ketetapan Allah dan pasti itulah yang terbaik,” pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Khutbah Jumat 18 September 2026: Makna Sejarah Masjid Al-Aqsha Bagi Umat Islam
Khutbah Jumat 18 September 2026: Makna Sejarah Masjid Al-Aqsha Bagi Umat Islam
Aktual
Qada dan Qadar Bukan Alasan untuk Pasif, Ini Cara Memahami Takdir dan Pentingnya Ikhtiar
Qada dan Qadar Bukan Alasan untuk Pasif, Ini Cara Memahami Takdir dan Pentingnya Ikhtiar
Aktual
Mengenali Perbedaan Bahagia dan Nikmat dalam Islam, Ini Penjelasannya
Mengenali Perbedaan Bahagia dan Nikmat dalam Islam, Ini Penjelasannya
Aktual
4 Tanda Kebahagiaan dalam Islam Menurut Hadits, Ada Tetangga Baik hingga Pasangan Salih
4 Tanda Kebahagiaan dalam Islam Menurut Hadits, Ada Tetangga Baik hingga Pasangan Salih
Aktual
Khutbah Jumat 18 September 2026: Mengurangi Dampak Perubahan Iklim
Khutbah Jumat 18 September 2026: Mengurangi Dampak Perubahan Iklim
Aktual
Khutbah Jumat 18 September 2026: Tentang Catatan Amal, Tidak Ada yang Luput di Hari Hisab
Khutbah Jumat 18 September 2026: Tentang Catatan Amal, Tidak Ada yang Luput di Hari Hisab
Aktual
Jangan Lewat 40 Hari, Ini Sunnah Merawat Kebersihan Tubuh dalam Islam
Jangan Lewat 40 Hari, Ini Sunnah Merawat Kebersihan Tubuh dalam Islam
Aktual
Niat Shalat 5 Waktu, Jumlah Rakaat, dan Batas Waktunya: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya
Niat Shalat 5 Waktu, Jumlah Rakaat, dan Batas Waktunya: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya
Aktual
Mengapa Masuk Kamar Mandi Didahulukan Kaki Kiri? Ini Penjelasan Islam
Mengapa Masuk Kamar Mandi Didahulukan Kaki Kiri? Ini Penjelasan Islam
Aktual
Sayyidul Istighfar: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Sayyidul Istighfar: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa Harian
Tubuh Memiliki Hak, Menjaga Kesehatan adalah Ikhtiar
Tubuh Memiliki Hak, Menjaga Kesehatan adalah Ikhtiar
Aktual
Baznas dan Kemenag Salurkan Rp 17,5 Miliar untuk 700 Pesantren
Baznas dan Kemenag Salurkan Rp 17,5 Miliar untuk 700 Pesantren
Aktual
Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Harian
5 Tanda Keluarga Sakinah Menurut Al-Qur'an dan Sunnah
5 Tanda Keluarga Sakinah Menurut Al-Qur'an dan Sunnah
Aktual
Darah Haid Berhenti lalu Keluar Lagi, Bolehkah Berhubungan Suami Istri?
Darah Haid Berhenti lalu Keluar Lagi, Bolehkah Berhubungan Suami Istri?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar