Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenag Papua: Kerukunan Umat Beragama Jadi Kunci Jaga Perdamaian di Tanah Papua

Kompas.com, 18 September 2026, 22:21 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua menyebut kerukunan umat beragama menjadi salah satu kunci menjaga perdamaian dan keharmonisan masyarakat di Tanah Papua.

Penguatan kerukunan dilakukan melalui komunikasi, dialog, dan kerja sama yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Baca juga: Anggota DPR Kritik Penanganan Situasi Keamanan Papua Usai Korban Jatuh Lagi

Dilansir dari Antara, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kemenag Papua Sarono di Jayapura, Jumat (18/9/2026), mengatakan upaya menjaga perdamaian perlu mengedepankan kepentingan kemanusiaan sekaligus memperkuat hubungan antar-elemen masyarakat.

“Program sebaik apapun harus berlandaskan pada kepentingan kemanusiaan. Karena itu peningkatan kerukunan umat beragama menjadi salah satu prioritas Kementerian Agama,” katanya.

Baca juga: Pigai Sebut Pola Konflik di Papua Bergeser, Tak Lagi Sekadar OPM Vs TNI-Polri

Kerukunan Umat Beragama Jadi Landasan Perdamaian 

Menurut Sarono, kerukunan umat beragama tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarumat beragama. Kerukunan juga menjadi landasan untuk membangun komunikasi dan kerja sama dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi di Papua.

Perbedaan latar belakang dan pandangan di tengah masyarakat, kata dia, merupakan bagian dari keberagaman yang perlu dikelola melalui komunikasi dan sikap saling menghormati.

"Pada Kamis (17/9/2026) kami melakukan dialog perdamaian dengan melibatkan seluruh tokoh agama, pemerintah, lembaga masyarakat sipil, akademisi, tokoh adat, dan elemen lainnya, dimana hal ini sangat perlu dilakukan guna terus menjaga kerukunan umat beragama Papua," ujarnya.

Dialog Perdamaian Libatkan Berbagai Elemen Masyarakat

Dialog perdamaian menjadi salah satu upaya memperkuat kerukunan umat beragama di Papua. Forum tersebut melibatkan tokoh agama, pemerintah, lembaga masyarakat sipil, akademisi, tokoh adat, serta berbagai elemen lainnya.

Melalui dialog, berbagai gagasan dan pandangan dapat dipertemukan. Komunikasi antarelemen masyarakat juga diharapkan terus terjaga sehingga perbedaan dapat dikelola secara terbuka dan saling menghormati.

"Perbedaan latar belakang maupun pandangan di tengah masyarakat merupakan bagian dari keberagaman yang perlu dikelola melalui komunikasi dan sikap saling menghormati," kata Sarono.

Kerukunan Diperkuat Lewat Kerja Sama Jaga Keamanan

Sarono menambahkan, penguatan kerukunan dapat membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk bekerja sama dalam menjaga keamanan dan memperkuat persaudaraan.

Kerja sama tersebut juga diperlukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan secara bersama-sama.

Dengan kerukunan yang terus dijaga, komunikasi antarelemen masyarakat diharapkan tidak berhenti pada forum dialog.

Upaya tersebut perlu dilanjutkan melalui kerja sama dan kegiatan yang memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat.

"Kami berharap upaya membangun kerukunan tidak berhenti pada forum dialog, tetapi dapat diwujudkan melalui kerja sama dan langkah konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ucap Sarono.

Penguatan kerukunan umat beragama menjadi salah satu upaya Kemenag Papua dalam menjaga perdamaian dan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Dialog yang melibatkan berbagai unsur masyarakat menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan memperkuat komunikasi.

Selanjutnya, kerukunan diharapkan diwujudkan melalui kerja sama dan langkah konkret untuk kepentingan kemanusiaan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
100 Tahun Gontor, Puluhan Ribu Santri dan Alumni Sujud Syukur di Masjid Jami Gontor
100 Tahun Gontor, Puluhan Ribu Santri dan Alumni Sujud Syukur di Masjid Jami Gontor
Aktual
Puluhan Ribu Santri dan Alumni Lakukan Sujud Syukur di Peringatan 100 Tahun Gontor
Puluhan Ribu Santri dan Alumni Lakukan Sujud Syukur di Peringatan 100 Tahun Gontor
Aktual
Kemenag Papua: Kerukunan Umat Beragama Jadi Kunci Jaga Perdamaian di Tanah Papua
Kemenag Papua: Kerukunan Umat Beragama Jadi Kunci Jaga Perdamaian di Tanah Papua
Aktual
Tak Hanya di Sekolah, Kemenag Minta Orang Tua Batasi Penggunaan Gawai Anak Paling Lama 2 Jam Sehari
Tak Hanya di Sekolah, Kemenag Minta Orang Tua Batasi Penggunaan Gawai Anak Paling Lama 2 Jam Sehari
Aktual
Kemenag Batasi Penggunaan Gawai di Sekolah, Ini Aturan untuk Murid dan Guru
Kemenag Batasi Penggunaan Gawai di Sekolah, Ini Aturan untuk Murid dan Guru
Aktual
Rahasia Tsoraya Aniqa, Finalis MTQ Nasional 2026 Bisa Hafal 30 Juz Al-Qur'an: Batasi Gawai dan TV
Rahasia Tsoraya Aniqa, Finalis MTQ Nasional 2026 Bisa Hafal 30 Juz Al-Qur'an: Batasi Gawai dan TV
Aktual
5 Akibat Perbuatan Zalim dalam Islam, Ada Azab hingga Datangnya Bencana
5 Akibat Perbuatan Zalim dalam Islam, Ada Azab hingga Datangnya Bencana
Aktual
Hidup Serba Cepat, Mengapa Ibadah Tidak Boleh Tergesa-gesa?
Hidup Serba Cepat, Mengapa Ibadah Tidak Boleh Tergesa-gesa?
Aktual
Tips Hafal 30 Juz Al-Qur’an Sejak Usia Dini dari Peserta MTQ Nasional 2026 Asal Sumbar
Tips Hafal 30 Juz Al-Qur’an Sejak Usia Dini dari Peserta MTQ Nasional 2026 Asal Sumbar
Aktual
Apakah Istinja Cukup dengan Mengguyurkan Air? Ini Penjelasan Fikih
Apakah Istinja Cukup dengan Mengguyurkan Air? Ini Penjelasan Fikih
Aktual
Tim Aceh Raih Juara 1 Fahmil Qur’an Putri MTQ Nasional 2026
Tim Aceh Raih Juara 1 Fahmil Qur’an Putri MTQ Nasional 2026
Aktual
Memudahkan Urusan Orang Lain, Jalan Menuju Ridha Allah
Memudahkan Urusan Orang Lain, Jalan Menuju Ridha Allah
Aktual
Masjid Berusia 1.300 Tahun Ditemukan di Arab Saudi, Simpan Prasasti Al-Quran
Masjid Berusia 1.300 Tahun Ditemukan di Arab Saudi, Simpan Prasasti Al-Quran
Aktual
Gaji Suami Bukan Tolok Ukur Ketaatan Istri, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Gaji Suami Bukan Tolok Ukur Ketaatan Istri, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Gontor Sambut Satu Abad dengan Khataman Al-Quran, Ribuan Alumni Hadir
Gontor Sambut Satu Abad dengan Khataman Al-Quran, Ribuan Alumni Hadir
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar