Editor
KOMPAS.com - Sikap merasa paling benar dan memaksakan kehendak kepada orang lain dapat mengganggu hubungan sosial serta berkembang menjadi karakter tughyan atau melampaui batas.
Dilansir dari muhammadiyah.or.id, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta Yayan Suryana mengingatkan umat Islam agar mewaspadai sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: 3 Sifat Muslim Sejati
Pesan itu disampaikan Yayan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (18/9/2026).
Ia menjelaskan, ketakwaan tidak hanya berkaitan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, tetapi juga kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.
“Menurut para psikolog, pemaknaan takwa lebih pada bagaimana kita merasa diri selalu bersama dengan Allah, selalu merasa dikontrol oleh Allah. Itulah sejatinya orang bertakwa,” ujarnya.
Baca juga: Islam Melarang Berkata Kasar dan Menghina, Ini Dalil Al-Quran dan Hadisnya
Dalam kehidupan sosial, Yayan menyebut salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah mentalitas merasa paling benar dan memaksakan kehendak kepada orang lain.
Sikap tersebut dapat berkembang dari persoalan pribadi menjadi perilaku yang memengaruhi hubungan antarmanusia.
“Ancaman itu adalah satu mental yang kita miliki yang selalu merasa diri paling benar dan sering memaksakan kehendak pada orang lain,” tuturnya.
Menurut Yayan, perasaan berlebihan terhadap diri sendiri dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan orang lain.
Sikap itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti merasa paling pintar, paling berpengalaman, paling senior, paling berjasa, paling berkuasa, hingga merasa paling mengetahui agama.
Ketika seseorang menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling benar, ego dapat mengambil alih posisi yang semestinya menjadi wilayah ketuhanan. Padahal, manusia tetap memiliki keterbatasan di hadapan Allah SWT.
“Orang yang merasa lebih daripada orang lain lalu tidak membutuhkan orang lain, pada saatnya nanti akan menimbulkan sikap-sikap eksploitatif yang merusak kehidupan sesama,” katanya.
Yayan mengaitkan sikap merasa paling benar dengan karakter tughyan, yakni perilaku melampaui batas. Ia menjelaskan hal tersebut melalui kisah Firaun dalam Al-Qur’an.
Yayan mengutip Surah Al-Qasas ayat 4 yang menggambarkan Firaun sebagai sosok yang berlaku sewenang-wenang di muka bumi, memecah masyarakat menjadi kelompok-kelompok, serta mengeksploitasi sebagian dari mereka.
Menurutnya, perilaku tersebut berawal dari kesombongan dan perasaan memiliki kekuasaan yang melampaui batas. Firaun bahkan sampai mengklaim dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi.
“Ini berawal dari sikap angkuh Firaun yang merasa bahwa dia lebih hebat dari yang lain. Kekuatannya melampaui batas sehingga dia sampai kepada puncak tughyan-nya,” jelas Yayan.
Karakter seperti itu, lanjut Yayan, tidak hanya dapat muncul dalam bentuk kekuasaan besar seperti yang digambarkan dalam kisah Firaun. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap serupa dapat muncul dalam berbagai hubungan sosial.
Sikap merasa paling benar dapat terjadi dalam relasi orang tua dan anak, suami dan istri, pemimpin dan anggota, hingga ulama dan masyarakat awam.
Yayan juga mencontohkan kecenderungan seseorang yang dianggap pintar atau berilmu untuk selalu diposisikan sebagai pihak yang benar. Jika hal itu terjadi, ruang untuk berdiskusi dan menerima kritik dapat semakin tertutup.
“Orang berdebat bukan persoalan menang debatnya. Sesungguhnya yang diperjuangkan adalah tentang kebenarannya. Bisa saja dia menang debatnya, tetapi dia memenangkan perdebatan di dalam keburukan,” ungkapnya.
Yayan menekankan pentingnya tauhid sebagai landasan dalam membangun kehidupan sosial. Menurutnya, kalimat lā ilāha illallāh memiliki konsekuensi sosial karena membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, termasuk kekuasaan, harga diri, maupun ego pribadi.
Tauhid juga mengajarkan bahwa manusia tidak dapat memutlakkan dirinya sebagai satu-satunya pemilik kebenaran.
Pengetahuan manusia memiliki keterbatasan sehingga keterbukaan terhadap orang lain menjadi bagian penting dari penghayatan tauhid.
“Orang yang bertauhid tidak akan pernah memutlakkan dirinya sebagai satu-satunya kebenaran. Tauhid akan memastikan kita bebas dari penghambaan terhadap manusia, penghambaan terhadap orang lain, juga penghambaan terhadap diri kita sendiri,” tegasnya.
Dalam hubungan sosial, umat tetap diperintahkan menghormati pemimpin, ulama, orang yang lebih senior, maupun orang tua. Namun, penghormatan tersebut tidak boleh menggeser kedudukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Yayan juga mengingatkan prinsip musyawarah sebagai bagian dari kehidupan bersama. Ia mengutip firman Allah, wa amruhum syūrā bainahum, bahwa urusan umat diselesaikan melalui musyawarah, bukan dengan penggunaan kekuasaan yang merusak hak orang lain.
Pada khutbah kedua, Yayan mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Menurutnya, karakter orang bertakwa juga tercermin dari kemampuan melakukan evaluasi dan menerima masukan.
Ia mengajak jamaah bertanya kepada diri masing-masing apakah masih sulit mendengarkan pendapat orang lain, sulit menerima kritik, atau mudah menghakimi orang lain secara sepihak.
“Jangan-jangan kita sekarang punya kewibawaan, tetapi kewibawaan itu sudah berubah menjadi ketakutan karena sifat yang kita miliki ini,” ujarnya.
Menurut Yayan, kondisi tersebut bertentangan dengan semangat Islam yang mengayomi dan menenteramkan. Karena itu, tauhid perlu diwujudkan sebagai karakter dalam kehidupan sehari-hari, bukan berhenti pada ucapan dan klaim keagamaan.
“Tauhid itu sekali lagi mari kita hadirkan sebagai suatu karakter yang membentuk sikap yang muncul di dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak cukup dengan kita ucapkan, kita klaim, tapi kita hadirkan melalui sikap yang jauh dari tughyan tadi itu,” katanya.
Yayan berharap penghayatan iman dan tauhid dapat melahirkan pribadi yang memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi lingkungan sekitarnya.
Nilai-nilai Islam diharapkan tidak hanya tercermin dalam kehidupan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa.
“Mohon kita perlindungan kepada Allah Subhanahu wa taala agar kita memiliki karakter yang positif yang akan memberikan ketenangan dan ketenteraman dari Islam yang kita anut ini, dari diri kita dan untuk masyarakat kita, untuk bangsa kita ini,” pungkasnya.
Dengan demikian, sikap merasa paling benar perlu menjadi bahan evaluasi dalam kehidupan sosial agar tidak berkembang menjadi perilaku yang melampaui batas.
Tauhid, menurut Yayan, perlu hadir dalam sikap yang terbuka terhadap masukan, menghargai orang lain, dan tidak memutlakkan diri sebagai pemilik tunggal kebenaran.
Penghayatan tersebut diharapkan dapat menghadirkan Islam yang memberi ketenangan dan ketenteraman bagi masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.