KOMPAS.com - Dalam setiap shalat berjamaah, makmum lazim mengucapkan “amin” setelah imam selesai membaca Surah Al-Fatihah.
Amalan ini terdengar sederhana, tetapi memiliki dasar yang kuat dalam hadis sahih dan menjadi salah satu sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW.
Lalu, mengapa makmum mengucapkan amin? Apakah amin merupakan bagian dari Al-Fatihah, dan kapan waktu yang tepat mengucapkannya?
Para ulama menjelaskan bahwa amin bukan ayat Al-Qur'an, melainkan doa yang diucapkan setelah permohonan hidayah dalam Surah Al-Fatihah.
Surah Al-Fatihah ditutup dengan doa agar Allah memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Karena itu, setelah ayat terakhir selesai dibaca, makmum dianjurkan mengucapkan amin sebagai bentuk pengharapan agar doa tersebut dikabulkan Allah SWT.
Baca juga: Apa Arti Qaulan Sadida dalam Surat Al-Ahzab? Ini Penjelasan Ulama
Allah berfirman dalam QS Al-Fatihah Ayat 7:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Ṣirāṭallażīna an‘amta ‘alaihim gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.
Artinya: “(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Kata “amin” tidak termasuk ayat ketujuh Al-Fatihah. Dalam bahasa Arab, amin berarti “Ya Allah, kabulkanlah.” Karena itu, ia merupakan doa yang mengiringi permohonan hidayah, bukan bagian dari bacaan surah.
Baca juga: Gontor Dituding Tegur Prabowo lewat Al-Ahzab, Stafsus Menag: Itu Doa, Bukan Tamparan
Anjuran mengucapkan amin memiliki landasan yang sangat kuat dalam hadis sahih. Rasulullah SAW secara khusus memerintahkan makmum mengikuti imam ketika selesai membaca Al-Fatihah.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
إِذَا قَالَ الإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ
Iżā qālal-imāmu gairil-magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn fa qūlū āmīn.
Artinya: “Apabila imam mengucapkan ‘ghairil-maghdubi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn’, maka ucapkanlah: Amin.” (HR Sahih al-Bukhari No. 782; Sahih Muslim No. 410)
Hadis ini menjadi dasar seluruh mazhab fikih bahwa mengucapkan amin setelah Al-Fatihah merupakan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama dalam shalat berjamaah.
Baca juga: 7 Seruan Imam Besar Dunia dalam Jakarta Understanding: Jaga Perdamaian, Bela Palestina
Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan luar biasa dari mengucapkan amin yang bertepatan dengan amin para malaikat.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Fa innahū man wāfaqa qauluhu qaulal-malā'ikati ghufira lahū mā taqaddama min żambih.
Artinya: “Barang siapa ucapan aminnya bertepatan dengan ucapan amin para malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Sahih al-Bukhari No. 780; Sahih Muslim No. 410)
Baca juga: Nasaruddin Umar Terpilih Jadi Presiden Pertama Majelis Imam Masjid Internasional
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai sebuah amalan yang tampak ringan di dalam shalat.
Dalam praktik shalat, makmum mengucapkan amin segera setelah imam selesai membaca “waladh-dhallin”.
Mayoritas ulama menganjurkan agar amin diucapkan bersamaan dengan imam, bukan mendahului atau terlambat jauh setelahnya.
Mengutip laman NU Online dalam fikih shalat dijelaskan bahwa sunnahnya adalah mengikuti imam secara serempak sehingga bacaan amin menjadi bentuk ittiba’ atau mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Hal ini juga sejalan dengan prinsip shalat berjamaah yang menekankan keselarasan antara imam dan makmum.
Baca juga: Ribuan Pramuka se-Jateng Ikuti Wira Karya XI di Darul Amanah, Belajar Kepemimpinan hingga Pengabdian
Perbedaan pendapat muncul pada cara mengucapkannya. Mazhab Syafi'i dan Hanbali umumnya menganjurkan amin dibaca dengan suara yang terdengar dalam shalat jahr seperti Maghrib, Isya, dan Subuh. Sementara mazhab Hanafi lebih memilih bacaan pelan.
Perbedaan tersebut merupakan masalah fikih yang telah lama dibahas para ulama. Masing-masing memiliki dasar istidlal dari hadis, sehingga tidak sepatutnya menjadi sebab saling menyalahkan antarsesama Muslim.
Mengucapkan amin mengajarkan bahwa shalat bukan ibadah yang dijalankan secara individual meski dilakukan berjamaah. Ketika seluruh makmum mengamini doa yang sama, tercipta kesatuan hati dalam memohon hidayah kepada Allah SWT.
Baca juga: Libur Lebaran 2027 Berapa Hari? Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Karena itu, jangan terburu-buru diam setelah Al-Fatihah selesai. Ucapan amin yang singkat justru menjadi doa penuh harapan agar Allah mengabulkan permohonan petunjuk, mengampuni dosa, dan menjadikan shalat lebih bernilai di sisi-Nya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.