KOMPAS.com - Tidur tengkurap termasuk posisi yang mendapat teguran dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW menyebut posisi tersebut sebagai cara berbaring yang dibenci Allah. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan memperhatikan adab tidur sebagaimana dicontohkan Rasulullah.
Di sisi lain, terdapat hadis sahih yang mengajarkan agar seseorang berbaring pada sisi kanan ketika hendak tidur. Lantas, bagaimana memahami larangan tidur tengkurap dan apa hikmahnya?
Riwayat yang secara langsung membahas berbaring tengkurap terdapat dalam Sunan Abu Dawud 5040.
Dalam hadis tersebut, Ya'ish bin Tikhfah al-Ghifari meriwayatkan bahwa ayahnya pernah berbaring tengkurap di masjid. Rasulullah SAW kemudian menggerakkan tubuhnya dengan kaki dan bersabda:
إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ
Inna hadzihi dhij'atan yubghidhuhallahu.
Artinya: “Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci Allah.”
Baca juga: Gus Baha: Berketuhanan Harus Membuat Kita Adil dan Menghormati yang Berbeda
Hadis tersebut tercantum dalam Sunan Abi Dawud nomor 5040. Dilansir dalam sunnah.com mencantumkan penilaian Al-Albani bahwa riwayat ini daif. Karena itu, hal ini perlu disebutkan ketika menjadikan hadis ini sebagai dasar pembahasan.
Tuntunan mengenai posisi tidur yang lebih jelas terdapat dalam hadis Al-Bara bin Azib. Rasulullah SAW mengajarkan agar seseorang berwudu seperti untuk salat, kemudian berbaring pada sisi kanan.
Dalam Sahih Muslim 2710a, Nabi SAW bersabda:
ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
Tsumma idhthaji' 'ala syaqqikal-aimani.
Artinya: “Kemudian berbaringlah pada sisi kananmu.”
Hadis ini termasuk rangkaian doa sebelum tidur. Anjuran miring ke kanan menjadi bagian dari adab sebelum seseorang beristirahat. Tuntunan tersebut juga menunjukkan bahwa sunnah tidur mencakup persiapan batin, seperti berwudu dan berdoa.
Baca juga: Terkena Percikan Air Kloset, Apakah Badan dan Handuk Jadi Najis?
Hadis tentang tengkurap menggunakan ungkapan “dibenci Allah”, bukan perintah eksplisit yang menyatakan keharaman.
Karena itu, penetapan hukum tidak sebaiknya dilakukan hanya dengan menerjemahkan lafaz hadis secara serampangan menjadi “haram”.
Riwayat Sunan Abi Dawud 5040 juga dinilai daif oleh Al-Albani.
Dengan demikian, hadis tersebut perlu ditempatkan sesuai statusnya dan tidak digunakan secara berlebihan untuk menetapkan hukum tanpa kajian fikih yang lebih luas.
Posisi tidur dapat berubah ketika seseorang sudah terlelap. Karena itu, orang yang memulai tidur dengan posisi yang dianjurkan tidak perlu menganggap dirinya sengaja melanggar adab apabila tubuhnya berubah posisi ketika tidur.
Yang dapat dilakukan adalah memulai tidur dengan posisi yang dianjurkan, yaitu berbaring ke sisi kanan, disertai wudu dan doa.
Jika kemudian berubah posisi saat tidur tanpa sengaja, hadis tersebut tidak memberikan perintah khusus untuk terus-menerus mengawasi posisi tubuh selama terlelap.
Baca juga: Gus Kikin: Dukungan untuk Palestina Telah Diajarkan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng
Al-Qur'an menjelaskan tidur sebagai bagian dari tanda kebesaran Allah. Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 23:
وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَسْمَعُونَ
Wa min ayatihi manamukum bil-laili wan-nahari wabtigha'ukum min fadlihi, inna fi zalika la-ayatin liqaumin yasma'un.
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS Ar-Rum: 23)
Ayat ini tidak mengatur posisi tidur. Adab tidur kemudian dijelaskan melalui tuntunan Nabi.
Dari rangkaian dalil tersebut, hikmah utama yang dapat diambil adalah membiasakan diri mengikuti sunnah dalam aktivitas sehari-hari, termasuk ketika beristirahat.
Posisi miring kanan memiliki dasar hadis sahih, sedangkan riwayat tentang tengkurap memberikan peringatan mengenai posisi yang disebut dibenci Allah.
Baca juga: Prabowo Minta Biaya Haji Tak Memberatkan, Keuangan Haji Bakal Diaudit Forensik
Karena alasan medis tidak disebutkan dalam hadis utama, umat Islam tidak perlu mengaitkan larangan tersebut dengan klaim kesehatan yang belum memiliki dasar dari sumber yang digunakan.
Praktik yang dapat dilakukan adalah berwudu sebelum tidur, membaca doa, dan memulai tidur dengan berbaring pada sisi kanan.
Dengan demikian, pertanyaan mengapa Rasulullah melarang tidur tengkurap perlu dijawab berdasarkan dalil: karena Nabi menyebut posisi tersebut sebagai cara berbaring yang dibenci Allah.
Sementara itu, alasan medis tertentu tidak dapat dipastikan dari hadis tersebut. Sikap yang tepat adalah mengikuti tuntunan yang memiliki dasar dan tidak menambahkan klaim sendiri.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.