Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hubungan Al-Qur'an dan Pancasila Menurut Penjelasan Muhammadiyah, dari Sila Pertama sampai Kelima

Kompas.com, 30 September 2026, 19:08 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober untuk mengenang sejarah sekaligus meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Dalam momentum ini, pemahaman mengenai hubungan nilai-nilai Pancasila dan ajaran Islam menjadi salah satu pembahasan yang relevan untuk melihat titik temu keduanya.

Baca juga: Teks Ikrar dan Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud

Muhammadiyah menjelaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an.

Penjelasan ini sekaligus menjawab pandangan sebagian kelompok yang menganggap Pancasila tidak sesuai dengan Islam dan berpendapat bahwa dasar negara yang sah hanya Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Pandangan tersebut dinilai kurang tepat apabila diterapkan tanpa mempertimbangkan perbedaan penafsiran dan mazhab dalam Islam.

Baca juga: Link Download PDF Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud

Menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai dasar negara tanpa menentukan perincian mazhab yang digunakan berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Sementara itu, penerapan satu mazhab saja juga berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan berkepanjangan dibandingkan dengan penggunaan Pancasila sebagai dasar negara.

Lalu, bagaimana hubungan Al-Qur'an dan Pancasila menurut Muhammadiyah? Berikut penjelasan keterkaitan nilai-nilai dalam lima sila Pancasila dengan ajaran Islam, seperti dilansir dari laman muhammadiyah.or.id.

Hubungan Al-Qur'an dengan 5 Sila Pancasila

1. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama Pancasila berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam Islam, konsep keesaan Allah dikenal sebagai tauhid, yang menjadi akar sekaligus dasar ajaran Islam.

Tauhid merupakan inti ajaran para nabi dan rasul, berkaitan dengan keimanan setiap orang, yang diwujudkan melalui pelaksanaan ibadah.

Salah satu ayat Al-Qur'an yang secara jelas menjelaskan keesaan Allah terdapat dalam QS Al-Ikhlas ayat 1:

“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa”.

2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kedua membahas hubungan antarmanusia secara personal. Dalam Islam, kepedulian terhadap sesama merupakan salah satu tanda kebaikan, bahkan keimanan seseorang.

Sikap adil dan beradab tercermin ketika seorang muslim mengharapkan kebaikan bagi orang lain sebagaimana kebaikan yang diharapkan untuk dirinya sendiri.

Nilai tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 30:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia juga melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Sila ketiga berkaitan dengan hubungan individu dengan masyarakat di sekitarnya. Dalam Islam, seorang muslim memiliki peran membangun al-ukhuwwah al-Islamiyah atau persaudaraan berdasarkan nilai-nilai Islam.

Persaudaraan tersebut tidak hanya berlaku di antara sesama muslim, tetapi juga dalam hubungan dengan manusia secara umum.

Keterkaitan nilai persatuan dengan ajaran Islam dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia ! sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat tersebut diawali dengan sapaan kepada seluruh manusia, bukan hanya orang-orang beriman. Hal ini menunjukkan bahwa pesan untuk saling mengenal dan menghargai keberagaman ditujukan kepada manusia secara umum.

4. Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Sila keempat berkaitan dengan hubungan pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya. Dalam kepemimpinan, sikap bijaksana dan pelaksanaan musyawarah menjadi hal penting dalam menjalankan amanah di berbagai tingkatan.

Komunikasi yang baik, ketenangan dalam berpikir, pertimbangan matang sebelum mengambil keputusan, serta perhatian terhadap kemaslahatan umum merupakan bagian dari prinsip kepemimpinan tersebut.

Nilai musyawarah juga disebutkan dalam Al-Qur'an surat Asy-Syura ayat 38:

“Dan (untuk) orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

5. Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan sosial menjadi salah satu persoalan penting dalam kehidupan masyarakat. Sila kelima tidak hanya menjadi penutup, tetapi juga dapat dipandang sebagai penguat empat sila sebelumnya.

Tanpa keadilan sosial, nilai-nilai kemanusiaan dapat terabaikan, persatuan berpotensi terpecah, dan kepemimpinan kehilangan landasan kebijaksanaan serta musyawarah yang sehat.

Sebaliknya, keadilan sosial dapat diwujudkan melalui pengamalan tauhid dan ibadah, kepedulian terhadap kemanusiaan, semangat persatuan, serta kebiasaan bermusyawarah dan bertukar pikiran secara bijaksana dengan saling menghormati.

Salah satu ayat Al-Qur'an yang membahas prinsip keadilan terdapat dalam QS Al-Maidah ayat 8:

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Pancasila sebagai Titik Temu Keberagaman Indonesia

Keterkaitan nilai-nilai Pancasila dengan ajaran Islam menunjukkan adanya prinsip yang dapat berjalan beriringan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apabila agama atau ajaran lain juga memiliki nilai yang sejalan dengan Pancasila, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, sila-sila Pancasila menjadi titik temu dari keberagaman agama, suku, dan budaya di Indonesia.

Melalui Pancasila, keberagaman tersebut dipersatukan sebagai bangsa Indonesia sekaligus menjadi landasan untuk meredam berbagai potensi konflik yang mungkin terjadi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar