Editor
KOMPAS.com — Menguatkan hafalan dalam tradisi pendidikan Islam berkaitan dengan proses belajar bertahap, pengulangan, serta kesungguhan memahami ilmu. Doa dan adab juga menjadi bagian dari ikhtiar seorang pencari ilmu.
Pembahasan tersebut ditemukan dalam kitab Khazinatul Asrar Jalilatul Adzkar karya Syekh Haqi an-Nazili.
Dalam bab mengenai peningkatan akal, pemahaman, dan kekuatan hafalan, kitab ini menghimpun sejumlah riwayat, pendapat ulama, serta amalan yang disebut mujarrabat.
Baca juga: Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Istilah mujarrabat merujuk pada amalan yang dinilai bermanfaat berdasarkan pengalaman sebagian ulama. Keterangan tersebut perlu dibedakan dari bukti ilmiah mengenai efektivitas suatu metode untuk meningkatkan daya ingat.
Salah satu pesan yang dapat diambil dari pembahasan kitab ini adalah pentingnya menyatukan kedisiplinan belajar dengan pemahaman dan hubungan spiritual kepada Allah.
An-Nazili mengutip nasihat Abu al-‘Aliyah agar seseorang mempelajari Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat.
“Pelajarilah Alquran lima ayat demi lima ayat, karena Nabi SAW dahulu menerima Alquran dari Jibril AS lima ayat demi lima ayat,” demikian keterangan yang dikutip dalam Khazinatul Asrar terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, halaman 81.
Keterangan mengenai cara Nabi menerima wahyu tersebut tetap memerlukan penilaian sanad sebelum dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh wahyu selalu diterima dalam jumlah lima ayat.
Adapun pesan belajar bertahap dapat menjadi bahan renungan bagi pencari ilmu. Pengetahuan membutuhkan waktu untuk dipahami, diulang, dan dikuasai.
Mengejar banyaknya bacaan perlu diiringi kesempatan untuk mendalami isinya. Materi yang dipelajari sedikit demi sedikit memberi ruang bagi seseorang untuk mengulang bagian yang belum dikuasai.
Dalam pendidikan pesantren, proses tersebut antara lain tampak melalui talaqqi, yakni belajar langsung dengan guru, serta muraja’ah atau pengulangan hafalan.
Baca juga: Kisah Mushaf Al Quran yang Dicium Prabowo, Ditulis Santri Gontor Selama 3 Tahun
Selain nasihat belajar bertahap, an-Nazili memuat keterangan yang dinisbatkan kepada Imam al-Ghazali mengenai penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bagian dari ikhtiar spiritual untuk menguatkan hafalan.
Ayat yang disebutkan meliputi Surat Ar-Rahman ayat 1–6, Al-Qiyamah ayat 16–19, dan Al-Buruj ayat 21–22.
Rangkaian ayat tersebut membicarakan pengajaran Al-Qur’an, kemampuan manusia menjelaskan, penerimaan wahyu, serta kemuliaan dan pemeliharaan Al-Qur’an.
Dalam keterangan yang dinukil kitab itu, ayat-ayat tersebut ditulis pada wadah bersih, kemudian tulisannya dilarutkan dengan air Zamzam untuk diminum. Praktik ini ditempatkan sebagai bagian dari tradisi mujarrabat.
Namun, pengalaman yang dikisahkan dalam tradisi tersebut tidak dapat dijadikan jaminan bahwa seseorang akan mampu menghafal seluruh ilmu. Penisbatannya kepada Imam al-Ghazali juga perlu ditelusuri melalui sumber yang mendasarinya.
Pesan spiritual yang dapat direnungkan adalah pentingnya berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah sembari tetap menjalankan proses belajar, memahami materi, dan mengulang hafalan.
Dikutip dari MUI Digital, pembahasan dalam kitab tersebut mencakup tiga unsur, yakni ziyadatul aql atau peningkatan akal, al-fahmu atau pemahaman, serta quwwatul hifzhi atau kekuatan hafalan.
Ketiganya mengingatkan bahwa penguasaan ilmu membutuhkan kemampuan yang saling melengkapi. Hafalan membantu seseorang menjaga detail pengetahuan, sedangkan pemahaman diperlukan untuk menangkap makna dan menggunakannya secara tepat.
Seseorang yang menghafal banyak materi masih perlu mendalami isinya. Sebaliknya, pemahaman suatu gagasan perlu dirawat agar rincian pentingnya tidak mudah terlupakan.
Karena itu, kegiatan belajar perlu memberi ruang bagi pengulangan sekaligus pembahasan makna, penjelasan guru, dan penerapan pengetahuan.
Selain kemampuan mengingat dan memahami, pencari ilmu perlu memperhatikan tujuan belajarnya.
Ilmu dapat diarahkan untuk mengenal Allah, memahami ajaran agama, memperbaiki akhlak, serta memberikan manfaat kepada sesama.
Dengan tujuan tersebut, hafalan dan kecerdasan memiliki arah yang lebih luas daripada sekadar memperoleh pengakuan atau kedudukan.
Pembahasan dalam Khazinatul Asrar menjadi bahan renungan tentang hubungan antara ikhtiar belajar, kedisiplinan, doa, dan adab. Kekuatan hafalan perlu dirawat bersama pemahaman agar ilmu dapat digunakan secara bermanfaat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.