KOMPAS.com - Rezeki sering kali dipahami sebagai uang, gaji, pekerjaan, atau harta yang dimiliki seseorang. Padahal, dalam Islam, rezeki memiliki cakupan yang lebih luas. Segala karunia Allah yang diterima dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan dapat menjadi bentuk rezeki.
Karena itu, seseorang yang memiliki penghasilan tidak besar belum tentu sedikit rezekinya. Kesehatan, waktu luang, ilmu, keluarga, ketenangan, hingga kesempatan melakukan kebaikan juga merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah merupakan pemberi rezeki bagi seluruh makhluk. Allah SWT berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Innallāha huwar-razzāqu żul-quwwatil-matīn.
Artinya: “Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS Adz-Dzariyat: 58).
Baca juga: 4.524 Pramuka Santri Ikut PPSN VI, Ditempa Cegah Perundungan dan Jaga Alam
Ayat ini menunjukkan bahwa sumber rezeki pada hakikatnya adalah Allah. Harta memang termasuk rezeki, tetapi ayat tersebut tidak membatasi pemberian Allah hanya dalam bentuk materi. Karena itu, ukuran rezeki tidak semata-mata dapat dilihat dari jumlah uang yang dimiliki.
Allah juga menyebutkan bahwa rezeki dapat diberikan melalui jalan yang tidak diperhitungkan manusia. Dalam Surah At-Talaq ayat 2–3, Allah berfirman:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Wa yarzuqhu min ḥaiṡu lā yaḥtasib, wa may yatawakkal 'alallāhi fa huwa ḥasbuh.
Artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS At-Talaq: 3).
Konteks ayat ini berkaitan dengan ketakwaan, jalan keluar, dan tawakal. Pesannya bukan agar seseorang berhenti berusaha, melainkan menempatkan hasil usaha dalam ketentuan Allah. Rezeki pun dapat hadir melalui jalan yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Baca juga: Sedekah atas Nama Orangtua yang Sudah Meninggal, Apakah Sampai Pahalanya?
Salah satu contoh rezeki yang sering tidak disadari adalah kesehatan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ni‘matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās, ash-shihhatu wal-farāgh.
Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (Sahih al-Bukhari, hadis 6412).
Hadis ini menunjukkan bahwa kesehatan dan waktu merupakan nikmat bernilai yang kerap baru disadari setelah berkurang. Keduanya dapat menjadi sarana untuk bekerja, belajar, beribadah, membantu orang lain, dan melakukan berbagai kebaikan.
Rezeki juga dapat hadir dalam bentuk ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu, seseorang memperoleh kemampuan untuk memahami sesuatu, mengambil keputusan, mengajarkan pengetahuan, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Baca juga: Jumat Pertama Oktober, Amalan Apa yang Dianjurkan dalam Islam?
Kesempatan berbuat baik juga tidak selalu datang dalam bentuk materi. Memiliki waktu untuk membantu keluarga, kesempatan bersedekah, kemampuan menolong orang lain, atau kemudahan menjalankan ibadah merupakan nikmat yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Jumlah harta tidak selalu menjadi ukuran banyak atau sedikitnya rezeki seseorang. Harta yang dimiliki tetapi tidak memberikan manfaat bagi pemiliknya tentu berbeda maknanya dengan harta yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan melakukan kebaikan.
Pandangan mengenai luasnya makna rezeki juga disampaikan dalam lingkungan Kementerian Agama. Dalam penjelasan penyuluh agama KUA Gedongtengen, rezeki tidak hanya dimaknai sebagai harta, tetapi juga kesehatan, anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, hingga ridha Allah.
Dengan demikian, membandingkan rezeki hanya berdasarkan penghasilan atau kepemilikan harta dapat membuat seseorang mengabaikan banyak nikmat yang sudah dimilikinya.
Baca juga: Tips Menguatkan Hafalan dalam Islam, Belajar Bertahap dan Jaga Adab
Islam mengajarkan manusia untuk tetap berusaha sekaligus bersyukur. Rezeki yang berupa uang tetap perlu dicari melalui cara yang halal, sementara berbagai nikmat lain perlu dijaga dan dimanfaatkan untuk kebaikan.
Karena itu, ketika penghasilan belum sesuai harapan, bukan berarti seseorang tidak memiliki rezeki. Bisa jadi Allah memberikan bentuk karunia lain yang selama ini luput diperhatikan. Sikap yang tepat adalah terus berusaha, bertawakal, dan mensyukuri nikmat yang telah diterima.
Pada akhirnya, rezeki dalam Islam tidak hanya berbicara tentang berapa banyak uang yang masuk ke rekening. Kesehatan, waktu, ilmu, keluarga, ketenangan, dan kesempatan berbuat baik juga merupakan karunia yang layak disyukuri dan digunakan dengan sebaik-baiknya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.