Editor
KOMPAS.com — Sebuah fragmen tablet beraksara paku yang ditemukan di Hattusa, ibu kota kuno Kekaisaran Het di Turki bagian tengah, diidentifikasi sebagai bagian dari salinan Perjanjian Perdamaian Kadesh.
Fragmen tersebut memuat ketentuan mengenai perlakuan terhadap orang-orang yang melarikan diri dari satu negara ke negara lain.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki Mehmet Nuri Ersoy mengaitkan pesan dalam peninggalan berusia sekitar 3.200 tahun itu dengan tanggung jawab melindungi kehidupan dan martabat manusia.
“Pernyataan mengenai penghancuran rumah-rumah masyarakat membawa pesan kuat dari ribuan tahun lalu hingga masa kini,” kata Ersoy dalam unggahan di media sosial, sebagaimana dikutip Saudi Gazette.
Baca juga: Doa Lintas Agama Menggema di Monas, Pemuka 6 Agama Berdoa agar Indonesia Damai dan Bersatu
Dalam unggahannya, Ersoy turut menyinggung situasi di Palestina. Menurutnya, warisan sejarah tersebut mengingatkan pentingnya keamanan dan perdamaian bagi semua orang.
“Kami berharap masa depan di mana semua orang, khususnya saudara-saudari kami di Palestina, dapat hidup dalam keamanan, perdamaian, dan ketenteraman,” ujarnya.
Menurut Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki, fragmen ditemukan di dekat Bangunan E dalam penggalian di Buyukkale, salah satu kawasan di Hattusa.
Salah satu sisi fragmen masih bertahan. Temuan itu kemudian menjalani pemeriksaan ilmiah selama sekitar satu tahun sebelum diidentifikasi sebagai bagian dari salinan Perjanjian Perdamaian Kadesh.
“Kami telah menemukan jejak perdamaian yang berasal dari ribuan tahun lalu di tanah Anatolia. Pemeriksaan ilmiah telah menentukan bahwa sebuah fragmen tablet bertuliskan aksara paku yang ditemukan selama penggalian di Buyukkale, Hattusa, merupakan bagian dari salah satu salinan Perjanjian Perdamaian Kadesh,” kata Ersoy.
Dikutip dari laman MUI Digital, bagian yang masih dapat dibaca mencakup rujukan mengenai orang-orang yang melarikan diri dari wilayah Mesir dan Hatti, kerajaan kuno bangsa Het, serta ketentuan terkait penghancuran rumah.
“Fragmen baru tersebut memuat sejumlah baris dari ketentuan perjanjian yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang yang mencari perlindungan di suatu negara setelah melarikan diri dari negara lain,” ujarnya.
Baca juga: Gus Kikin: Dukungan untuk Palestina Telah Diajarkan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng
Perjanjian Perdamaian Kadesh disepakati oleh Firaun Mesir Ramses II dan Raja Het Hattusili III pada abad ke-13 sebelum Masehi.
Kesepakatan itu dibuat sekitar 15 tahun setelah Pertempuran Kadesh, menyusul konflik berkepanjangan antara kedua kerajaan untuk memperebutkan kendali wilayah.
Perjanjian tersebut dikenal sebagai salah satu kesepakatan perdamaian tertulis paling awal yang diketahui.
Salinannya terdokumentasi dalam tablet beraksara paku menggunakan bahasa Akkadia serta tulisan hieroglif pada dinding kuil di Mesir.
Fragmen-fragmen perjanjian yang ditemukan sebelumnya tersimpan di sejumlah museum, antara lain Museum Arkeologi Istanbul, Museum Peradaban Anatolia di Ankara, Vorderasiatisches Museum di Berlin, dan State Hermitage Museum di St Petersburg.
Fragmen yang baru diidentifikasi diharapkan membantu peneliti merekonstruksi salinan perjanjian pada tablet tanah liat yang ditemukan di Hattusa.
Penggalian di Buyukkale masih berlangsung. Para peneliti berharap dapat menemukan bagian lain yang belum ditemukan untuk melengkapi pemahaman mengenai perjanjian tersebut.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.