KOMPAS.com - Menuntut ilmu dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak seseorang membaca, menghafal, atau memahami pelajaran.
Proses belajar juga perlu disertai adab agar ilmu yang diperoleh membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Adab tersebut antara lain meluruskan niat, rendah hati kepada guru, bersungguh-sungguh dalam belajar, serta mengamalkan ilmu.
Tradisi keilmuan Islam menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari proses memperoleh ilmu, bukan sekadar pelengkap kegiatan belajar.
Niat menjadi bagian penting dalam menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Innamal-a‘mālu bin-niyyāti, wa innamā likullimri'in mā nawā, faman kānat hijratuhū ilā dunyā yuṣībuhā au ilā imra'atin yankihuhā fahijratuhū ilā mā hājara ilaih.
Baca juga: Jual Beli Online dalam Islam, Apa Saja Syarat agar Sah?
Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia tuju.” (Sahih al-Bukhari Nomor 1)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa aktivitas belajar perlu memiliki tujuan yang baik.
Dalam praktiknya, mencari ilmu tidak semata-mata untuk mendapatkan nilai, gelar, pekerjaan, atau pengakuan, tetapi juga untuk memperoleh pemahaman yang dapat membawa kebaikan.
Salah satu gambaran adab belajar terdapat dalam kisah Nabi Musa AS ketika hendak belajar kepada seorang yang diberi ilmu oleh Allah SWT. Al-Qur'an Surat Al-Kahf ayat 66 berbunyi:
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Qāla lahū Mūsā hal attabi‘uka ‘alā an tu‘allimanī mimmā ‘ullimta rushdā.
Artinya: “Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?’” (QS Al-Kahf: 66)
Ayat tersebut menggambarkan sikap Nabi Musa AS yang meminta izin untuk mengikuti dan belajar.
Mengutip dari laman NU Online, kisah ini dijadikan sebagai salah satu dasar pembahasan adab penuntut ilmu, termasuk sikap tawadhu dan meminta bimbingan kepada guru.
Baca juga: Kemenag Tegaskan Data Santri Terverifikasi Capai 4,63 Juta, Bukan 1,7 Juta
Islam juga memberikan penghargaan terhadap orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Man salaka ṭarīqan yaltamisu fīhi ‘ilman sahhalallāhu lahū bihī ṭarīqan ilal-jannah.
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (Sahih Muslim Nomor 2699a)
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan proses mencari ilmu. Karena itu, belajar membutuhkan kesungguhan, ketekunan, dan kesediaan untuk terus memperbaiki pemahaman, bukan hanya mengejar hasil akhir.
Baca juga: Pemkot Surabaya Siapkan Bantuan Rp150.000 per Bulan bagi Santri
Al-Qur'an juga mengajarkan doa agar ilmu seseorang terus bertambah. Allah SWT berfirman dalam Surat Taha ayat 114:
رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا
Rabbi zidnī ‘ilmā.
Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS Taha: 114)
Doa tersebut menunjukkan bahwa manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah dalam memperoleh ilmu.
Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semakin penting pula kesadaran bahwa ilmu manusia memiliki keterbatasan.
Baca juga: Temuan Perjanjian Damai Berusia 3.200 di Turki, Pesannya Dikaitkan dengan Palestina
Dalam tradisi pendidikan pesantren, adab kepada guru dan ilmu menjadi bagian penting dalam proses belajar.
NU Online mencatat pemikiran KH Hasyim Asy'ari dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim yang menekankan antara lain kebersihan hati, niat yang baik, dan kesungguhan dalam belajar.
Kementerian Agama juga menekankan bahwa proses belajar perlu disertai sikap hormat kepada guru, orang tua, dan sesama. Ilmu tidak berhenti pada kemampuan menghafal atau memahami materi, tetapi perlu tercermin dalam perilaku.
Adab menuntut ilmu pada akhirnya mengarahkan seseorang agar tidak hanya menjadi lebih banyak tahu, tetapi juga lebih baik dalam bersikap.
Niat yang benar menjaga tujuan belajar, kerendahan hati membuat seseorang tetap terbuka terhadap bimbingan, sedangkan kesungguhan membantu ilmu dipelajari secara konsisten.
Baca juga: Cara Mengganti Buku Nikah yang Rusak atau Hilang, Gratis di KUA
Karena itu, rajin belajar perlu berjalan bersama adab. Ilmu yang dipelajari dengan niat baik, dicari dengan rendah hati, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih bermakna daripada sekadar pengetahuan yang berhenti sebagai hafalan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.