Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Calon jemaah haji reguler kini cukup memasukkan 10 digit nomor porsi di portal resmi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), haji.go.id/estimasi-keberangkatan, untuk mengetahui perkiraan tahun keberangkatan.
Layanan ini gratis, tanpa login, dan bisa diakses lewat ponsel.
Pengecekan mandiri makin penting dilakukan karena pengelolaan berubah dari Kementerian Agama ke Kementerian Haji dan Umrah. Karena itu, kanal cek estimasi yang dulu berada di laman haji.kemenag.go.id kini diarahkan ke laman haji.go.id.
Baca juga: Berapa Biaya Haji 2027 Reguler per Orang? Ini Rinciannya
Nomor porsi adalah nomor urut pendaftaran jemaah haji reguler yang terdiri dari 10 digit angka.
Nomor ini terbit setelah calon jemaah membayar setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan datanya tercatat di sistem kementerian.
Merujuk Peraturan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2025, bukti pendaftaran kini disebut Surat Pendaftaran Haji (SPH), dan di dokumen itulah nomor porsi tercantum.
Calon jemaah juga bisa menemukannya pada bukti setoran awal dari bank penerima setoran.
Perlu diingat, nomor porsi berbeda dengan NIK, nomor rekening tabungan haji, maupun nomor validasi bank. Salah memasukkan angka membuat sistem tidak menampilkan data apa pun.
Baca juga: Biaya Haji 2027 Terbaru: BPIH Rp98,4 Juta, Pelunasan Jemaah Rp23 Juta
A. Lewat portal resmi haji.go.id (laptop atau ponsel)
1. Buka peramban, lalu ketik alamat haji.go.id/estimasi-keberangkatan.
2. Pastikan tab yang aktif adalah "Estimasi Keberangkatan".
3. Ketik 10 digit nomor porsi pada kolom yang tersedia.
4. Selesaikan CAPTCHA.
5. Tekan tombol "Cek Estimasi".
Di laman yang sama, calon jemaah juga bisa membuka menu "Daftar Tunggu" untuk melihat antrean per provinsi dan menu "Pelunasan" untuk status pembayaran.
B. Lewat aplikasi resmi di ponsel
Kemenhaj juga menyediakan aplikasi yang diterbitkan Pusat Data dan Informasi kementerian.
Aplikasi ini dikenal dengan nama Satu Haji, sebelumnya Haji Pintar, dan bisa diunduh di Play Store maupun App Store. Caranya:
1. Buka aplikasi, pilih menu "Estimasi Keberangkatan".
2. Masukkan nomor porsi, lalu ketuk ikon kaca pembesar.
3. Data yang muncul meliputi nama, kabupaten/kota, provinsi, status pembayaran, dan estimasi tahun berangkat.
Calon jemaah diimbau tidak mengunduh aplikasi "cek porsi" dari tautan pesan berantai. Gunakan hanya aplikasi dari toko aplikasi resmi atau tautan yang tercantum di portal kementerian.
C. Datang langsung ke kantor layanan haji
Bagi yang kesulitan mengakses internet, pengecekan bisa dilakukan di Kantor Kementerian Haji dan Umrah kabupaten/kota tempat mendaftar.
Bawa SPH atau bukti setoran awal agar petugas bisa mencocokkan data dengan sistem.
Masa tunggu yang panjang bukan waktu kosong. Para ulama dan ormas Islam mendorong calon jemaah menjadikannya masa persiapan lahir dan batin. Berikut amalan yang bisa dilakukan.
1. Menjaga niat, karena niat baik sudah dicatat pahala
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi bahwa siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu belum sempat mengerjakannya, Allah tetap mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna (HR Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131).
Niat berhaji yang dijaga dengan tulus selama bertahun-tahun menunggu pun bernilai ibadah.
2. Belajar manasik sejak dini
Dikutip dari NU Online, Pengamat haji Mastuki mengatakan, bekal ilmu dan kebiasaan ibadah sangat menentukan kualitas haji.
Jemaah yang terbiasa membaca Al-Qur'an dan shalat sunnah lebih mudah mengisi masa tinggal sekitar 40 hari di Tanah Suci, sedangkan yang tidak punya bekal mudah jenuh.
Pemerintah sendiri sejak 2022 merancang pembinaan manasik bagi jemaah yang masih dalam daftar tunggu.
3. Merawat kesehatan sebagai bagian dari istitha'ah
Allah SWT mewajibkan haji bagi yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah (QS Ali Imran: 97). Menurut mazhab Syafi'i, kemampuan atau istitha'ah dinilai saat seseorang benar-benar akan berangkat, bukan saat mendaftar.
Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman mengingatkan calon jemaah agar menyiapkan fisik, mental, dan biaya sejak jauh hari.
Olahraga rutin, misalnya jalan kaki, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi ikhtiar penting.
4. Bertobat, melunasi utang, dan menyiapkan dana yang halal
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menempatkan tobat dan penyelesaian urusan duniawi sebagai bekal awal calon haji.
Termasuk di dalamnya melunasi utang, mengembalikan barang pinjaman, dan memastikan nafkah keluarga yang ditinggal tercukupi.
Masa tunggu memberi kesempatan untuk menuntaskan semuanya, sekaligus menabung dana pelunasan dari harta yang halal.
5. Mengamalkan ibadah yang pahalanya setara haji
Rasulullah SAW bersabda, siapa yang shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berzikir hingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, ia mendapat pahala seperti haji dan umrah yang sempurna (HR Tirmidzi no. 586, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).
Amalan ini bisa dirutinkan sambil menanti giliran.
6. Memperbanyak sedekah dan doa
Sedekah termasuk amalan yang dianjurkan bagi calon haji, sebagaimana dicatat Al-Ghazali. Calon jemaah juga dianjurkan terus berdoa agar dimudahkan berangkat dan meraih haji mabrur.
7. Bersabar dan hanya menempuh jalur resmi
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ruslan Fariadi menegaskan, istitha'ah kini juga mencakup kepatuhan administratif.
Berangkat tanpa prosedur resmi, termasuk tanpa visa haji yang sah, dinilai tidak memenuhi kriteria istitha'ah. Calon jemaah sebaiknya tidak tergiur tawaran "jalan pintas" berhaji yang menyalahi aturan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.