KOMPAS.com - Dosa tidak selalu bermula dari perbuatan yang dianggap besar. Kesalahan yang tampak kecil dan terus dilakukan tanpa penyesalan dapat membuat seseorang terbiasa dengan kemaksiatan.
Karena itu, umat Islam dianjurkan tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Kesadaran terhadap dosa perlu disertai dengan segera bertobat dan berusaha meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah SWT.
Berikut teks khutbah Jumat, 9 Oktober 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Salah satu bentuk ketakwaan adalah menjaga diri dari perbuatan dosa. Namun, terkadang manusia lebih berhati-hati terhadap dosa yang dianggap besar dan justru menganggap ringan kesalahan yang terlihat kecil.
Padahal, kebiasaan meremehkan dosa dapat menjadi awal dari persoalan yang lebih besar.
Allah SWT mengingatkan bahwa tidak ada perbuatan manusia yang luput dari pengetahuan-Nya. Allah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 18:
اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa ukuran dosa bukanlah seberapa banyak orang yang melihat perbuatan kita.
Ketika tidak ada manusia yang mengetahui, Allah tetap mengetahuinya.
Ketika tidak ada orang yang menegur, Allah tetap melihatnya.
Ketika sebuah kesalahan hanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, perbuatan tersebut tetap tercatat di sisi Allah SWT.
Karena itu, jangan sampai kita mengatakan, “Ini hanya dosa kecil,” lalu merasa tidak perlu menghindarinya.
Jangan sampai sebuah kebiasaan buruk dilakukan berulang kali hanya karena dianggap sepele.
Sebab, sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dapat membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang terus dipelihara dapat memengaruhi hati dan perilaku seseorang.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7-8:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa amal manusia tidak ada yang sia-sia. Kebaikan sekecil apa pun akan mendapatkan balasan, begitu pula keburukan sekecil apa pun tidak luput dari perhitungan Allah SWT.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak melihat kecil atau besarnya perbuatan semata, tetapi juga melihat kepada siapa perbuatan tersebut dipertanggungjawabkan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Manusia memang tidak luput dari kesalahan. Tidak ada manusia biasa yang terbebas dari dosa dan kekhilafan.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya: “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis tersebut tidak mengajarkan kita untuk merasa bebas melakukan dosa. Sebaliknya, hadis itu mengingatkan bahwa ketika melakukan kesalahan, seorang Muslim harus segera kembali kepada Allah SWT.
Yang menjadi persoalan bukan hanya ketika seseorang melakukan dosa, tetapi ketika ia mulai terbiasa melakukannya tanpa merasa bersalah dan tidak lagi memiliki keinginan untuk memperbaiki diri.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dosa yang diremehkan dapat membuat hati kehilangan kepekaan terhadap kebaikan.
Awalnya seseorang mungkin merasa bersalah setelah melakukan kesalahan. Namun, jika kesalahan itu terus diulangi, rasa bersalah tersebut dapat semakin berkurang.
Pada akhirnya, sesuatu yang dahulu dianggap salah dapat terlihat biasa.
Inilah yang harus kita waspadai.
Jangan menunggu dosa menjadi besar untuk kemudian bertobat. Jangan menunggu hati menjadi keras untuk kemudian memperbaikinya.
Jika kita melakukan kesalahan, segera akui di hadapan Allah. Jika kita menyakiti orang lain, segera meminta maaf. Jika kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita, segera kembalikan. Jika kita meninggalkan kewajiban, segera perbaiki dan jangan mengulanginya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Allah SWT tidak menutup pintu pertobatan bagi hamba-Nya.
Allah bahkan memberikan jalan bagi manusia untuk memperbaiki kesalahan dengan memperbanyak amal kebaikan.
Allah SWT berfirman dalam Surat Hud ayat 114:
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ
Artinya: “Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”
Karena itu, ketika kita menyadari telah melakukan kesalahan, jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Segeralah bertobat. Tinggalkan perbuatan dosa tersebut. Perbanyak amal saleh. Dan berusaha agar kesalahan yang sama tidak kembali dilakukan.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,
Mari kita melakukan muhasabah terhadap diri sendiri.
Adakah dosa yang selama ini kita anggap sepele?
Adakah kebiasaan buruk yang terus kita lakukan karena merasa tidak ada akibatnya?
Adakah kesalahan kepada sesama yang belum kita selesaikan?
Jangan sampai kita sibuk menghitung kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kesalahan diri sendiri.
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita hati yang peka terhadap dosa, mudah menerima nasihat, dan segera kembali kepada-Nya ketika melakukan kesalahan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita menjaga ketakwaan dengan menjauhi dosa dan segera bertobat ketika melakukan kesalahan.
Jangan meremehkan dosa hanya karena tidak ada orang yang mengetahuinya. Jangan menganggap ringan kesalahan hanya karena dilakukan sekali. Dan jangan menunda pertobatan dengan mengira masih memiliki banyak waktu.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari noda dosa dan memberikan kekuatan untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَخَطَايَانَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
اللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ.
اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاحْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَّا وَأَهْلَهَا، وَاحْفَظْ سَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Disadur melalui laman NU Online, “Khutbah Jumat: Jangan Remehkan Dosa-dosa Kecil” oleh Muhammad Faizin.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.