Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MUI Dorong Pendataan Manuskrip Kuno Pesantren untuk Selamatkan Warisan Intelektual Islam Nusantara

Kompas.com, 8 Oktober 2026, 10:38 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mendorong pendataan dan pemetaan manuskrip kuno yang dimiliki pesantren di berbagai daerah.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL) setelah Komisi Pesantren MUI Pusat menyelesaikan program Short Course Kurikulum Pesantren.

Sekretaris Komisi Pesantren MUI Pusat Dr Muhammad Iqbal mengatakan, pendataan manuskrip menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan warisan pemikiran ulama terdahulu.

Menurut dia, manuskrip keagamaan karya para kiai dan ulama pesantren tidak sekadar menjadi peninggalan sejarah. Naskah-naskah tersebut juga menyimpan kearifan lokal serta metodologi keilmuan yang penting bagi perkembangan peradaban Islam di Indonesia.

“Setelah pelaksanaan Short Course kurikulum pesantren terlaksana, fokus kami selanjutnya adalah menyusun Rencana Tindak Lanjut berupa pendataan manuskrip-manuskrip pesantren secara sistematis,” ujar Iqbal saat memaparkan Laporan Program Prioritas dalam Rapat Pleno Komisi Pesantren MUI Pusat di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Rabu (7/10/2026), sebagaimana dilansir dari MUI Digital.

Baca juga: Saudi Pamerkan Manuskrip Al-Qur’an Kuno, Usia 1.000 Tahun

MUI Ingin Petakan Manuskrip Pesantren di Berbagai Daerah

Iqbal menjelaskan, pendataan tersebut diharapkan menjadi tahap awal untuk mengetahui sekaligus memetakan keberadaan manuskrip pesantren yang selama ini tersebar di berbagai daerah.

Dengan pendataan secara sistematis, keberadaan naskah-naskah peninggalan ulama dapat diketahui dan menjadi bagian dari upaya pelestarian khazanah intelektual Islam Nusantara.

Menurut Iqbal, manuskrip pesantren memiliki nilai penting karena merekam pemikiran dan tradisi keilmuan yang berkembang di lingkungan pesantren pada masa sebelumnya.

Karena itu, upaya pelestariannya dinilai tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaan fisik naskah, tetapi juga perlu memastikan kandungan keilmuan di dalamnya dapat dipahami oleh generasi berikutnya.

Materi Manuskrip Akan Diperkuat dalam Kaderisasi Ulama

Upaya pelestarian manuskrip tersebut juga diarahkan untuk berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas kader ulama.

Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat Basnang Said mendorong agar materi kepesantrenan dapat diintegrasikan secara resmi ke dalam program Pendidikan Kader Ulama (PKU-MUI).

“Penguatan literasi, pemahaman manuskrip, serta tata kelola satuan pendidikan pesantren penting diintegrasikan ke dalam kurikulum kaderisasi ulama agar lulusannya memiliki pemahaman mendalam tentang akar tradisi keilmuan pesantren,” tutur Basnang.

Menurut dia, pemahaman terhadap manuskrip dan tradisi keilmuan pesantren penting bagi kader ulama agar tidak terputus dari akar intelektual yang telah berkembang di lingkungan pesantren.

Inventarisasi Naskah dan Modernisasi Kurikulum

Rapat pleno tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Komisi Pesantren MUI Pusat, di antaranya Prof Muhammad Noor Harisudin dan KH Atok Romli Musthofa.

Dalam rapat tersebut disepakati bahwa inventarisasi naskah klasik dan modernisasi kurikulum merupakan bagian penting dalam menjaga sanad keilmuan sekaligus jati diri pesantren di tengah perkembangan zaman.

Dua langkah tersebut dinilai dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, manuskrip lama perlu diselamatkan dan dipetakan. Di sisi lain, pengetahuan yang terkandung di dalamnya perlu terus dipahami dan dikembangkan melalui proses kaderisasi ulama.

Baca juga: Rahasia Pesantren Buntet Bertahan 275 Tahun: Manuskrip, Sorogan, dan Bandongan

Melalui langkah tersebut, Komisi Pesantren MUI Pusat berupaya memastikan warisan intelektual pesantren tidak berhenti sebagai koleksi naskah lama.

Khazanah tersebut diharapkan tetap hidup melalui pemahaman dan pengembangan oleh generasi ulama berikutnya, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam Nusantara.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 3 Amalan Ingkang Saget Dados Bekal Kanggo Mati
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 3 Amalan Ingkang Saget Dados Bekal Kanggo Mati
Aktual
Jadwal Awal Ramadhan 2027, Libur Lebaran hingga Hari Pertama Masuk Kerja dan Sekolah
Jadwal Awal Ramadhan 2027, Libur Lebaran hingga Hari Pertama Masuk Kerja dan Sekolah
Aktual
Kemenag Siapkan Skema Kemitraan Bimwin, Calon Pengantin Tidak Harus ke KUA
Kemenag Siapkan Skema Kemitraan Bimwin, Calon Pengantin Tidak Harus ke KUA
Aktual
Doa Penguat Iman kepada Allah, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Penguat Iman kepada Allah, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
BPIH, Bipih, dan Nilai Manfaat Haji 2027, Apa Bedanya? Simak Penjelasan dan Rinciannya
BPIH, Bipih, dan Nilai Manfaat Haji 2027, Apa Bedanya? Simak Penjelasan dan Rinciannya
Aktual
Kisah Khabbab bin Al-Aratt, Sahabat Nabi yang Teguh Menghadapi Ujian
Kisah Khabbab bin Al-Aratt, Sahabat Nabi yang Teguh Menghadapi Ujian
Aktual
PBNU Sosialisasi AD/ART Baru, Apa Saja yang Berubah?
PBNU Sosialisasi AD/ART Baru, Apa Saja yang Berubah?
Aktual
Apa Itu Wakaf Energi? Ini Konsep dan Manfaatnya bagi Masyarakat
Apa Itu Wakaf Energi? Ini Konsep dan Manfaatnya bagi Masyarakat
Aktual
Mengapa Ilmu Harus Diamalkan? Ini Penjelasan dalam Islam
Mengapa Ilmu Harus Diamalkan? Ini Penjelasan dalam Islam
Aktual
Ombudsman Dukung dan Siap Awasi Wajib Halal Oktober 2026
Ombudsman Dukung dan Siap Awasi Wajib Halal Oktober 2026
Aktual
Wisata Ramah Muslim, Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Menurut Islam?
Wisata Ramah Muslim, Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Menurut Islam?
Aktual
MUI Apresiasi Subsidi Biaya Haji 2027 dari Prabowo, Sebut Menjadi Cermin Kehadiran Negara
MUI Apresiasi Subsidi Biaya Haji 2027 dari Prabowo, Sebut Menjadi Cermin Kehadiran Negara
Aktual
Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Memahami Amalan Setelah Pemakaman Sesuai Ajaran Islam
Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Memahami Amalan Setelah Pemakaman Sesuai Ajaran Islam
Aktual
Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua dan Bahaya Sifat Durhaka
Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua dan Bahaya Sifat Durhaka
Aktual
Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar