Editor
KOMPAS.com — Aktris sekaligus aktivis kemanusiaan Angelina Jolie menyerukan bantuan tempat tinggal bagi warga Jalur Gaza sebelum musim dingin tiba.
Ia menyoroti kehancuran kawasan tersebut melalui citra satelit Google Earth.
Dalam unggahan Instagramnya, Jolie membagikan gambar Google Earth yang menggambarkan kondisi sejumlah kawasan di Gaza sebelum dan setelah mengalami kehancuran.
Di salah satu gambar terlihat bangunan yang rata dengan tanah.
“Warga membutuhkan tempat tinggal sebelum musim dingin tiba. Bantuan kemanusiaan harus menjangkau warga sipil dalam skala yang memadai. Rumah sakit membutuhkan pasokan medis,” tulis Jolie.
Baca juga: Muhammadiyah dan Umana Al-Aqsa Jajaki Kerja Sama Rekonstruksi Gaza
Menurutnya, citra satelit memperlihatkan permukiman yang berubah menjadi puing. Kehancuran juga mencakup sekolah, universitas, rumah sakit, jalan, serta jaringan air dan sanitasi.
“Sekarang Anda bisa membuka Google Earth dan melihat apa yang terjadi di Gaza,” tulisnya.
Seorang anak laki-laki Palestina menerbangkan layang-layang di dekat tenda-tenda yang didirikan di atas reruntuhan bangunan di Kota Gaza pada 4 Mei 2025. Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza yang terkepung telah memburuk secara signifikan sejak Israel memblokir masuknya seluruh bantuan ke wilayah tersebut pada 2 Maret?beberapa hari sebelum melanjutkan operasi militernya menyusul kegagalan gencatan senjata.Dalam unggahannya, Jolie mengutip analisis citra satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebut sekitar 82 persen bangunan di Gaza mengalami kerusakan hingga 16 Juni 2026.
Dari bangunan yang terdampak tersebut, sekitar dua pertiganya disebut hancur.
Meski dapat menunjukkan luasnya kerusakan fisik, menurut Jolie, citra satelit tidak mampu menggambarkan pengalaman warga yang hidup di tengah kehancuran.
“Yang tidak dapat ditunjukkannya adalah bagaimana rasanya hidup di tengah kehancuran itu, apa yang terjadi pada keluarga yang terbunuh, dan seperti apa kehidupan mereka yang selamat,” tulisnya.
Baca juga: 1.000 Hari Perang Gaza: 2.700 Keluarga Palestina Musnah, Ribuan Anak Jadi Korban
Jolie menyebut sekitar 1,98 juta orang atau 94 persen populasi Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal dan kebutuhan dasar.
Namun, menurutnya, penyaluran bantuan kemanusiaan serta material untuk hunian masih menghadapi pembatasan dan keterlambatan.
“Penyaluran bantuan dan material hunian masih terus menghadapi hambatan dan penundaan,” tuturnya.
Ia menekankan perlunya bantuan menjangkau warga sipil dalam jumlah yang memadai, termasuk pasokan medis untuk rumah sakit.
Selain pemenuhan kebutuhan darurat, Jolie menyerukan terciptanya kondisi yang memungkinkan warga Gaza membangun kembali rumah, sekolah, rumah sakit, dan komunitas mereka.
Dokter Katrin Glatz Brubakk berkata, salah satu cara anak-anak untuk melindungi diri mereka dari trauma adalah dengan menarik diri.Kebutuhan bantuan menjelang musim dingin juga tergambar dalam laporan Anadolu pada 4 Oktober 2026.
Pengelola kawasan Fash Farsh di Khan Younis, Ahmed Hassan Al-Najjar, mengatakan 35 kamp pengungsian di kawasan tersebut menampung sekitar 6.000 keluarga atau 40.000 orang.
Menurut Al-Najjar, warga menghadapi kekurangan tenda, terpal, paket makanan, dan perlengkapan medis.
Sejumlah pengungsi menyerukan bantuan segera karena kondisi tenda mereka tidak mampu memberikan perlindungan memadai dari hujan, angin kencang, dan udara dingin.
Keluarga-keluarga tersebut mengkhawatirkan terulangnya pengalaman musim dingin sebelumnya, ketika hujan deras membanjiri dan merusak tenda.
Sementara itu, Associated Press (AP) pada 7 Oktober 2026 melaporkan bahwa warga kesulitan membangun kembali rumah karena Israel membatasi masuknya sebagian besar material konstruksi.
Rencana rekonstruksi berskala besar juga belum berjalan akibat belum tercapainya kesepakatan Israel dan Hamas mengenai pelucutan senjata kelompok tersebut.
Temuan itu memperkuat urgensi bantuan hunian yang diserukan Jolie, sementara warga menunggu kesempatan membangun kembali tempat tinggal mereka.
Tambahan kondisi pengungsian bersumber dari Anadolu, sedangkan hambatan rekonstruksi dari AP.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.