KOMPAS.com - Islam menempatkan ilmu pada kedudukan tinggi, tetapi pengetahuan tidak berhenti pada proses mengetahui. Ilmu perlu diwujudkan dalam sikap dan perbuatan agar memberikan manfaat bagi pemiliknya maupun orang lain.
Karena itu, seseorang yang banyak mengetahui ajaran agama belum tentu telah memperoleh manfaat ilmu apabila pengetahuannya tidak membentuk perilaku. Al-Qur'an dan hadis menunjukkan pentingnya keselarasan antara pengetahuan, ucapan, dan amal.
Allah SWT berfirman dalam Surah As-Saff ayat 2:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū lima taqūlūna mā lā taf‘alūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS As-Saff: 2).
Baca juga: Doa Meminta Hujan Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Mohon Hujan yang Membawa Berkah
Ayat ini memang berbicara tentang kesesuaian ucapan dan perbuatan, bukan secara khusus mendefinisikan hukum mengamalkan ilmu. Namun, prinsipnya relevan dalam proses belajar: pengetahuan yang telah diyakini semestinya tercermin dalam tindakan, terutama ketika berkaitan dengan kewajiban dan akhlak.
Allah juga menyebut keutamaan orang berilmu dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا ۚ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Wa idzā qīlansyuzū fansyuzū, yarfa‘illāhul-ladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr.
Artinya: “Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11).
Baca juga: Doa Buka Puasa Senin Kamis: Niat, Bacaan Arab Latin, dan Keutamaannya
Ayat tersebut menunjukkan tingginya kedudukan ilmu. Namun, kemuliaan itu tidak seharusnya dipahami hanya sebagai banyaknya informasi yang dikuasai. Ilmu dalam Islam memiliki fungsi membimbing manusia untuk menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah.
Karena itu, ilmu idealnya membawa perubahan. Semakin seseorang memahami kewajiban, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjalankannya sesuai kemampuannya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk meminta ilmu yang bermanfaat. Dalam Sunan Ibn Majah disebutkan:
سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا، وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Salullāha ‘ilman nāfi‘an, wa ta‘awważū billāhi min ‘ilmin lā yanfa‘.
Artinya: “Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (Sunan Ibn Majah, hadis 3843).
Baca juga: Biaya Haji 2027 Terbaru untuk 2 Orang, Berapa yang Harus Disiapkan?
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran penting dalam ilmu bukan sekadar jumlah pengetahuan, tetapi manfaatnya. Ilmu menjadi bernilai ketika membawa kebaikan, termasuk ketika mendorong seseorang memperbaiki ibadah, akhlak, pekerjaan, dan hubungan dengan sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Iżā māta al-insānu inqaṭa‘a ‘amaluhu illā min ṡalāṡatin illā min ṣadaqatin jāriyah, au ‘ilmin yuntafa‘u bih, au waladin ṣāliḥin yad‘ū lah.
Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Sahih Muslim, hadis 1631).
Baca juga: MUI Dorong Pendataan Manuskrip Kuno Pesantren untuk Selamatkan Warisan Intelektual Islam Nusantara
Hadis ini memperlihatkan bahwa ilmu dapat terus memberikan manfaat setelah seseorang meninggal. Artinya, ilmu tidak hanya bernilai bagi pemiliknya, tetapi juga ketika pengetahuan tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh orang lain.
Mengamalkan ilmu tidak berarti setiap orang harus menjadi guru atau penceramah. Bentuknya dapat disesuaikan dengan jenis ilmu yang dimiliki dan kemampuan seseorang.
Kementerian Agama menekankan bahwa ilmu yang diperoleh dalam pembelajaran akan memberikan manfaat apabila disertai pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Muhammadiyah menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat dapat dikenali dari perubahan sikap, seperti semakin rendah hati, saleh, dan bertakwa.
Dengan demikian, ilmu agama dapat diamalkan melalui ibadah dan akhlak, sedangkan ilmu lain dapat diwujudkan melalui pekerjaan yang jujur, keputusan yang bertanggung jawab, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara bermanfaat.
Baca juga: BPKH Siapkan Rp8,83 Triliun Nilai Manfaat untuk Haji 2027
Ilmu yang bermanfaat dapat mengantarkan seseorang semakin dekat kepada Allah. Pengetahuan tidak semestinya membuat seseorang berhenti pada rasa lebih tahu daripada orang lain, tetapi mendorong perbaikan diri.
Mengamalkan ilmu juga bukan berarti seseorang harus langsung sempurna setelah belajar. Proses memperbaiki diri dapat berlangsung bertahap. Pengetahuan yang diperoleh menjadi dasar untuk terus memperbaiki perilaku.
Pada akhirnya, Islam tidak mempertentangkan ilmu dan amal. Ilmu memberikan arah bagi perbuatan, sedangkan amal menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut benar-benar memberi pengaruh. Karena itu, setelah mempelajari sesuatu, seorang Muslim dapat bertanya: apa yang bisa saya lakukan dengan ilmu ini dan siapa yang dapat memperoleh manfaat darinya?
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.